close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi. Sekjen Kementerian ESDM menyebut potensi EBT Indonesia 3.686 GW dan menjadi modal transisi energi. Foto Antara/Ahmad Subaidi
icon caption
Ilustrasi. Sekjen Kementerian ESDM menyebut potensi EBT Indonesia 3.686 GW dan menjadi modal transisi energi. Foto Antara/Ahmad Subaidi
Bisnis
Minggu, 05 Februari 2023 10:40

Sekjen ESDM: Potensi EBT 3.686 GW, modal transisi energi di Indonesia

Transisi energi menjadi perhatian dunia di tengah ancaman dampak pemanasan global yang melanda seluruh negara.
swipe

Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rida Mulyana, mengungkapkan, potensi energi baru dan terbarukan (EBT) Indonesia melimpah hingga 3.686 gigawatt (GW) jika dikonversi menjadi listrik. Potensi EBT mencakup sumber energi surya, bayu (angin), hidro (air), bioenergi, panas bumi, dan laut.

"[Potensi EBT] itu sudah kita identifikasi, kira-kira berapa potensinya kalau diubah menjadi listrik. Tercatat, sampai saat ini hampir 3.700 GW," kata Rida dalam keterangannya di Bandung, dikutip Minggu (5/2).

Diungkapkan Rida, kapasitas terpasang pembangkit listrik di Indonesia pada 2022 mencapai 81,2 GW. Melihat potensi EBT yang nencapai 3.686 GW, Rida menilai, kapasitas pembangkit listrik di Indonesia masih dapat dikembangkan dan dimanfaatkan bahkan menjadi modal utama dalam transisi energi.

"Listrik Indonesia saat ini kurang lebih 81 GW. Bayangkan, kita memiliki sumber 3.700 GW. Ini masih banyak sekali. Artinya apa? Ini adalah modal kita yang lebih dari cukup untuk melakukan transisi energi dengan cara dimanfaatkannya," ujar Rida.

Rida menuturkan, transisi energi menjadi perhatian dunia di tengah ancaman dampak pemanasan global yang melanda seluruh negara. Hal ini dilatarbelakangi perubahan iklim yang memengaruhi kehidupan seluruh masyarakat dunia.

"Di forum internasional saat ini ada isu yang semua warga negara bumi sama-sama concern, aware terhadap yang salah satu ini, yaitu pemanasan global. Kenapa? Karena kita, kan, sampai saat ini hanya bumi satu-satunya yang dapat kita tempati," tuturnya.

Rida mengingatkan, sudah ada kesepakatan global untuk menahan kenaikan suhu bumi tidak lebih dari 1,5-2 derajat celsius. Pasalnya, kenaikan suhu tersebut akan berdampak langsung, antara lain, terhadap naiknya permukaan laut.

Data Badan Meteorologi dan Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan, Indonesia mengalami tren kenaikan suhu sekitar 0,03 derajat celsius per tahunnya sejak 1981-2018.

Selain itu, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mencatat, perubahan iklim menyebabkan Indonesia mengalami kenaikan permukaan air laut 0,8-1,2 cm/tahun. Sementara itu, sekitar 65% penduduk tinggal di wilayah pesisir.

"Pemanasanan global menjadi concern kita karena 65% penduduk Indonesia berdomisili di pesisir. Jadi, kalau permukaan laut naik, maka tempat tinggal mereka akan terendam," papar Rida.

Oleh karena itu, Rida meyakini Indonesia sebagai bagian dari dunia global turut berkewajiban mengurangi dampak negatif pemanasan global akibat emisi C02. Terlebih, Indonesia menjadi salah satu negara yang rentan terhadap perubahan iklim ini.

"Komitmen kita sebagai warga bumi untuk memperhatikannya dan ikut berkontribusi agar dampak buruk perubahan iklim ini tidak sampai terjadi," ujar dia.

img
Gempita Surya
Reporter
img
Fatah Hidayat Sidiq
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan