close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi. Foto Pixabay.
icon caption
Ilustrasi. Foto Pixabay.
Bisnis
Kamis, 06 Juni 2024 10:51

Siap-siap, harga Bitcoin akan melesat di Juni

Harga Bitcoin diprediksi akan melesat pada Juni mencapai US$75.000.
swipe

Pasar kripto masih menggiurkan. Harga Bitcoin diprediksi akan melesat hingga akhir Juni. 

Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur memprediksi berdasarkan gabungan indikator on-chain, fundamental, dan teknis, Bitcoin akan mengalami kenaikan lebih lanjut di Juni, berpotensi mencapai US$75.000 atau sekitar Rp1,22 miliar pada akhir bulan.

Kemampuan Bitcoin untuk mencapai US$75.000 berasal dari pola segitiga simetris yang biasanya menandakan kelanjutan tren bullish. Analisisnya, harga Bitcoin mendekati puncak segitiga pada 31 Mei mengincar penembusan di atas garis tren atas, yang dapat mendorong harga menuju US$74.000- hingga S$75.000 pada bulan Juni, tergantung pada titik penembusannya.

"Titik breakout ini mungkin berada di sekitar US$69.000, yang bertepatan dengan support garis tren naik Bitcoin," tuturnya.

Harga Bitcoin melonjak lebih dari 60% sepanjang tahun hingga Mei 2024, didorong oleh arus masuk ke Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin di Amerika Serikat (AS) dan ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral AS, The Fed. Data Bitcoin Monthly Returns menunjukkan performa Bitcoin pada bulan Mei naik sebesar 11,07% secara bulanan atau MoM, dibandingkan dengan April yang turun sebesar 14,76%.

Di sisi lain, ujar Fyqieh, volatilitas Bitcoin yang terus memikat investor dan perkembangan ekonomi terkini di AS berpotensi memengaruhi harga instrumen tersebut. Menurutnya, pasar akan menyoroti rilis data inflasi Mei dalam waktu dekat. Jika inflasi di AS cukup melambat hingga 3,3% atau lebih rendah, maka akan mendorong harga Bitcoin kembali ke titik tertinggi sepanjang masanya di level US$73.000 atau sekitar Rp1,18 miliar.

"Namun, jika hasil CPI (consumer price index) melebihi ekspektasi, momentumnya bisa melemah. Hasil CPI yang lebih tinggi dari perkiraan telah menyebabkan penurunan harga Bitcoin. Pelaku pasar berharap ada dorongan lebih lanjut terhadap momentum bullish ini dengan data NFP (non-farm payroll) yang positif, sehingga mengindikasikan pelambatan inflasi dan meningkatkan peluang penurunan suku bunga pada bulan Juni dan Juli," tutur Fyqieh.

Jika data CPI terbaru yang akan dirilis pada 12 Juni mendatang berada di bawah perkiraan, ujarnya, maka dapat meningkatkan kepercayaan investor dan memacu gelombang baru pembelian Bitcoin. Inflasi yang lebih rendah tidak hanya mendukung Bitcoin, tetapi juga meningkatkan persepsi aset digital sebagai lindung nilai terhadap inflasi.

Potensi ETF Bitcoin dan Ethereum

Arus masuk dana ETF Bitcoin di AS diperkirakan akan terus meningkat sepanjang bulan Juni. Pekan lalu, ETF Bitcoin melaporkan arus masuk bersih mencapai US$242 juta per hari, menunjukkan kebangkitan permintaan sisi beli. Aksi beli ETF ini hampir delapan kali lebih besar ketimbang, tekanan jual harian dari para penambang yang mencapai US$32 juta per hari sejak Bitcoin halving.

"Arus masuk besar ke ETF Bitcoin mencerminkan peningkatan kepercayaan investor dan menunjukkan pasar siap untuk reli lebih lanjut, terutama karena tekanan jual dari penambang berkurang," ujar Fyqieh.

Menurutnya, hal ini menunjukkan dampak positif yang signifikan dari ETF terhadap pasar. Sementara pengaruh halving relatif berkurang di masa mendatang. Hasilnya, harga Bitcoin berada pada posisi yang baik untuk melanjutkan reli hingga bulan Juni.

Sementara itu, ETF Ethereum spot di AS diperkirakan diluncurkan pada akhir Juni. K33 Research memperkirakan ETH spot AS yang akan datang dapat memperoleh arus masuk US$4 miliar dalam lima bulan, yang mengarah pada apresiasi harga dan kenaikan ETH dibandingkan Bitcoin.

Peluncuran ETF Ethereum yang sukses dapat menjadi preseden positif bagi ETF Bitcoin. Dus, berpotensi meningkatkan kepercayaan investor dan meningkatkan permintaan di pasar kripto.

"Hal ini selanjutnya memungkinkan Bitcoin untuk mencapai target penembusan segitiga simetris sebesar US$75.000 (Rp1,22 miliar) pada bulan Juni," ujarnya.

img
Satriani Ari Wulan
Reporter
img
Satriani Ari Wulan
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan