logo alinea.id logo alinea.id

Strategi Sri Mulyani genjot ekspor selamatkan defisit

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekspor pada tahun ini bisa mencapai 6,3% dengan berbagai strategi.

Cantika Adinda Putri Noveria
Cantika Adinda Putri Noveria Rabu, 27 Feb 2019 23:57 WIB
Strategi Sri Mulyani genjot ekspor selamatkan defisit

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekspor pada tahun ini bisa mencapai 6,3% dengan berbagai strategi. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mencetuskan berbagai ide agar nilai eskpor meningkat demi menyelamatkan defisit neraca perdagangan. 

Sri Mulyani mengatakan, akan menambahkan formulasi baru di dalam Dana Insentif Daerah (DID), agar tiap-tiap daerah bisa berlomba dalam meningkatkan produktivitas ekspor barang unggulannya. 

"Saya jadi bayangkan Dana Insentif Daerah kita, untuk memasukkan ekspor di dalam formulanya. Sehingga para bupati dan gubernur bisa berlomba-lomba untuk merinci indikator ekspornya," kata Sri Mulyani di kantor Indonesia Eximbank, Rabu (27/2). 

Perempuan yang kerap disapa Ani tersebut juga berencana untuk mengadakan rapat bulanan ekspor antar kementerian dan lembaga (K/L). Sehingga, nantinya masing-masing K/L mengetahui kebijakan apa yang bisa diusulkan guna meningkatkan ekspor. 

"Nanti saya dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Perindustrian, dan Menteri Perdagangan bikin rapat bulanan ekspor. Sehingga dari making policy proses kita tahu, dan mulai ngomong sektornya. Apakah kayu, CPO, dan lain-lain," ujar Sri Mulyani menambahkan. 

Hal itu disampaikan Sri Mulyani setelah University Network for Indonesia Export Development (UNIED) memparkan hasil penelitiannya tentang beberapa barang-barang komoditas yang bisa diunggulkan dan berkontribusi secara menyeluruh untuk perekonomian Indonesia.

Firdaus, salah satu perwakilan UNIED dari Institut Pertanian Bogor (IPB), mengatakan, 10 barang komoditas tersebut di antaranya, batu bara, minyak kelapa sawit (crude palm oil/ CPO), karet, ikan dan olahan, tekstil, industri kertas. Barang komoditas lainnya juga kopi, nikel, kakao, serta industri kayu dan furnitur. 

"10 kajian komoditas itu menempati winning comodity teratas yang bisa berkontribusi terhadap neraca perdagangan, neraca ekspor itu sendiri. Terhadap pertumbuhan ekonomi, dan bagaimana kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja," kata Firdaus dalam kesempatan yang sama. 

Sponsored

LPEI luncurkan NED

Pada kesempatan yang sama, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank yang memiliki mandat oleh negara untuk memajukan ekspor, meluncurkan platform National Export Dashboard (NED). 

Direktur Eksekutif Indonesia Eximbank, Sinthya Roesly mengatakan, NED merupakan pusat informasi berbasis website yang akan menghadirkan sejumlah laporan penting kinerja ekspor impor. 

Adapun infromasi yang akan disampikan dalam NED di antaranya, ekspor dan impor, neraca perdagangan, serta database eksportir Indonesia. Selanjutnya, dalam NED juga akan ada daya saing produk ekspor, perkembangan ekonomi Indonsia, perkembangan ekonomi negara utama, risiko negara tujuan ekspor, serta perkembangan pasar komoditas, pasar keuangan, industri perbankan, dan proyeksi ekspor dan harga komoditas. 

"Kajian ini berbasis sumber data yang sebagian besar tersedia di dalam NED. Selanjutnya, hasil kajian dari LPEI dan UNIED diharapkan tidak hanya dimanfaatkan oleh internal LPEI, tetapi juga untuk lintas Kementerian dan Lembaga," kata Sinthya.

Sementara itu, Rektor IPB sekaligus Chairman UNIED, Arif Satria mengatakan kontribusi perguruan tinggi diharapkan turut andil dalam rangka perumusan kebijakan, regulasi dan strategi operasional dalam pengembangan ekspor nasional. 

Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Heru Pambudi menyampaikan, DJBC mendukung sepenuhnya aktivitas export center of exellence.  

"DJBC memberikan kontribusi dalam bentuk penyediaan data-data terkait ekspor, sehingga dapat terintegrasi dengan data ekspor lainnya yang tersedia di dalam NED," ujar Heru. 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Pada hari Senin, 18 Februari 2019, Direktorat Jendral Bea & Cukai @beacukairi Kementerian Keuangan Republik Indonesia bekerjasama dengan Indonesia Eximbank dan University Network for Indonesia Export Development (UNIED) meluncurkan Kajian Kontribusi Ekonomi Fasilitas Kawasan Berikat (KB) dan Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE). Kajian tersebut memaparkan kontribusi ekonomi fasilitas KB dan KITE telah berdampak nyata terhadap peningkatan perekonomian Indonesia yang tertuang dalam 8 indikator, yaitu dampak langsung terhadap ekspor; output; investasi; penerimaan pajak; penyerapan tenaga kerja serta dampak langsung ikutan yaitu jumlah jaringan usaha yang terbentuk dari bisnis perusahaan serta indirect economic activity sepanjang tahun 2017. Hasil Kajian menunjukkan bahwa fasilitas fiskal seperti KB dan KITE penting untuk dipertahankan bahkan dikembangkan, berdasarkan dampak positif yang nyata terhadap berbagai indikator ekonomi. Kedua menu fiskal tersebut mempunyai karakteristik dampak yang berbeda, yang bersifat saling melengkapi dalam pencapaian sasaran pembangunan ekonomi nasional. Dalam arahannya Ibu Sri Mulyani Indrawati, @smindrawati, Menteri Keuangan Republik Indonesia menyampaikan bahwa hasil kajian ini sangat baik dan memberikan bahan dan ide serta masukan perbaikan untuk menggenjot ekspor Indonesia. Ibu Menteri berharap dua saran utama yang disampaikan oleh pelaku usaha dapat ditindaklanjuti oleh DJBC guna meningkatkan kualitas pelayanannya, yaitu: Memperbaiki sistem aplikasi CEISA, PEB dan PDE serta mempercepat & memperbaiki birokrasi. Selain itu Ibu Menteri juga berpesan agar hasil kajian ini dapat dimanfaatkan oleh Indonesia Eximbank untuk memetakan industri yang memiliki level pelipatgandaan yang tinggi terhadap ekspor, menganalisis supply chain dari setiap industri guna meningkatkan porsi supply chain di dalam negeri, mendorong penyebaran pembiayaan, dan menciptakan produk sesuai kebutuhan dan perilaku perusahaan demi penciptaan dan peningkatan ekspor. #LPEI #IndonesiaEximbank #AyoEkspor #Export4Growth

A post shared by LPEI (@indonesiaeximbank) on