logo alinea.id logo alinea.id

Sukses kendalikan harga, pemerintah ogah revisi inflasi di 2019

Target pemerintah terkait inflasi baru akan turun ke angka 3% plus minus 1% pada tahun 2020.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Rabu, 02 Jan 2019 16:30 WIB
Sukses kendalikan harga, pemerintah ogah revisi inflasi di 2019

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, mengklaim pemerintah telah sukses mengendalikan harga-harga di pasar pada 2018. Kesuksesan tersebut ditandai dengan turunnya angka inflasi pada 2018 dibandingkan tahun sebelumnya. 

Meski sukses menurunkannya, pemerintah masih ogah merevisi angka inflasi pada 2019 yang ditargetkan sebesar 3,5% plus minus 1%. Menurutnya, target inflasi baru akan turun ke angka 3% plus minus 1% pada tahun 2020.

“Inflasi di 2018 lebih rendah dibandingkan tahun 2017 karena pemerintah bisa lebih mengendalikan harga-harga di pasar. Tapi, inflasi tahun ini tidak akan ada revisi. Angkanya (inflasi) tetap berada di 3,5% plus minus 1%. Tahun depan baru turun 3% plus minus 1%,” kata Darmin Nasution di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (2/1).

Darmin mengakui, walaupun inflasi pada 2018 lebih rendah, namun pada November di tahun tersebut inflasi realtif tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya pada tahun yang sama. Meski demikian, pemerintah bisa tetap mengendalikannya. 
 
“Kita bisa kendalikan kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Yang diukur inflasinya, pangan, kemudian distribusi perhubungan, pendidikan dan macam-macam,” katanya.

Sementara itu, pada Rabu siang (2/1), Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat inflasi Desember 2018. Pada periode tersebut, tercatat terjadi inflasi 0,62%. Sedangkan inflasi year on year pada Desember 2018 tercatat 3,13%. Inflasi inti atau core inflation tercatat 3,07% (year on year).

BPS mencatat, inflasi terjadi di 80 kota. Sedangkan 2 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kupang 2,09%. Sedangkan inflasi terendah di Banda Aceh 0,02%. Sementara deflasi tertinggi terjadi di Sorong 0,15%.

Pada Desember 2018, penyumbang terbesar terjadinya inflasi disebabkan oleh harga bahan makanan yang naik mencapai 0,29%. Sementara kedua terbesar yakni transportasi, komunikasi dan jasa keuangan dengan porsi 0,24%.

Sementara bahan makanan dipengaruhi oleh kenaikan harga telur ayam ras dengan porsi inflasi 0,09%. Disusul daging ayam ras dengan porsi 0,07%. Kemudian ada juga kenaikan harga bawang merah dengan porsi 0,05%. Sementara untuk beras memiliki porsi 0,03%.

Sponsored

Untuk inflasi dari sektor transportasi, komunikasi dan jasa keuangan lebih banyak disumbang oleh kenaikan tarif angkutan udara dengan porsi 0,19%. 

Membaca peluang Garbi menjadi partai politik

Membaca peluang Garbi menjadi partai politik

Rabu, 17 Jul 2019 20:50 WIB
Jalan sunyi seorang perias jenazah

Jalan sunyi seorang perias jenazah

Selasa, 16 Jul 2019 18:23 WIB