sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kinerja Astra International jeblok, hampir semua divisi seret

Pendapatan bersih dan laba bersih Grup Astra turun masing-masing 26% di 2020.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Kamis, 25 Feb 2021 17:23 WIB
Kinerja Astra International jeblok, hampir semua divisi seret
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

PT Astra International Tbk. (ASII) mencatatkan pendapatan bersih konsolidasian sebesar Rp175 triliun sepanjang tahun 2020. Angka itu turun 26% dibandingkan tahun 2019 sebesar Rp237 triliun.

Seiring dengan penurunan pendapatan bersih ini, laba bersih Grup Astra juga tercatat menurun 26%. Setelah memasukkan keuntungan dari penjualan saham Bank Permata, laba bersih perseroan mencapai Rp16,2 triliun, turun dibandingkan 2019 yang sebesar Rp21,7 triliun. Apabila tanpa memasukkan keuntungan dari penjualan tersebut, laba bersih Grup Astra anjlok 53% menjadi Rp10,3 triliun. 

Presiden Direktur Astra International Djony Bunarto Tjondro mengatakan, penurunan pendapatan bersih dan laba bersih diakibatkan karena pandemi Covid-19 dan langkah-langkah penanggulangannya. 

"Grup terus beroperasi di tengah kondisi yang menantang dan masih terdapat ketidakpastian mengenai kapan pandemi akan berakhir," kata Djony dalam keterangan resminya yang diterima Alinea.id, Kamis (25/2).

Pihaknya memperkirakan kondisi ini akan berlangsung selama beberapa waktu dan masih terlalu dini untuk memprediksi dampak pandemi terhadap kinerja Grup Astra pada 2021.

Secara rinci, tercatat laba bersih divisi otomotif Grup Astra turun signifikan 68% menjadi Rp2,7 triliun, dari Rp8,3 triliun secara tahunan (yoy). Divisi ini mengalami kerugian bersih pada kuartal II-2020, namun kembali mencatatkan keuntungan di semester II-2020, setelah adanya pelonggaran langkah-langkah penanggulangan pandemi. 

Lalu, laba bersih jasa keuangan Grup Astra juga tercatat menurun 44% menjadi Rp3,3 triliun pada 2020. Penurunan ini disebabkan peningkatan provisi untuk menutupi peningkatan kerugian kredit bermasalah pada bisnis pembiayaan konsumen dan alat berat.

Laba bersih Grup Astra dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi juga tercatat menurun sebesar 49% menjadi Rp3,4 triliun, dari Rp6,7 triliun yoy. Penurunan ini disebabkan penjualan alat berat dan volume kontrak pertambangan yang lebih rendah, akibat melemahnya harga batu bara hampir di sepanjang tahun. 

Sponsored

Sementara laba bersih dari divisi agribisnis emiten berkode ASII ini mencapai Rp664 miliar, meningkat dibandingkan tahun 2019 yang sebesar Rp168 miliar. Peningkatan dikarenakan harga minyak kelapa sawit yang lebih tinggi.

Divisi infrastruktur dan logistik Grup Astra mencatatkan penurunan laba bersih dari Rp292 miliar, menjadi Rp45 miliar pada 2020. Hal ini karena adanya penurunan pendapatan jalan tol dan penurunan marjin operasi pada PT Serasi Autoraya.

Kemudian laba bersih divisi teknologi dan informasi Grup Astra tercatat turun 81% menjadi Rp36 miliar, dari Rp193 miliar. Penurunan ini terutama disebabkan penurunan pendapatan dari bisnis solusi dokumen layanan perkantoran PT Astra Graphia Tbk., yang 76,9% sahamnya dimiliki perseroan.

Adapun di bisnis properti, Grup Astra melaporkan peningkatan laba bersih dari Rp38 miliar, menjadi Rp93 miliar. Peningkatan ini terutama karena tingkat hunian yang lebih tinggi di Menara Astra dan pengakuan laba dari proyek pengembangan Asya Residences. 

Dividen ikut tipis

Menurunnya kinerja perseroan ikut mempengaruhi jumlah dividen final perseroan pada 2020. Dividen final sebesar Rp87 per saham, akan diusulkan pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada April 2021. Sebelumnya, perseroan pada 2019 membagikan dividen sebesar Rp157 per saham.

Dengan usulan dividen final dan dividen interim sebesar Rp27 per saham yang telah dibagikan pada Oktober 2020, hal ini akan menjadikan total dividen perseroan sebesar Rp114 per saham di 2020. Jumlah total dividen ini menurun dibandingkan tahun 2019, yakni sebesar Rp214 per saham.

Lebih lanjut, nilai aset bersih per saham pada 31 Desember 2020 sebesar Rp3.845, meningkat 5% dibandingkan posisi pada 31 Desember 2019.

Berita Lainnya