sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Angka kematian global akibat coronavirus naik jadi 1.357

Saat ini telah lebih dari 60.000 orang di seluruh dunia terinfeksi coronavirus jenis baru.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 13 Feb 2020 11:28 WIB
Angka kematian global akibat coronavirus naik jadi 1.357

Lebih dari 240 korban tewas baru akibat coronavirus jenis baru tercatat di Provinsi Hubei, China, pada Rabu (12/2). Jumlah itu membuat angka kematian global meningkat jadi 1.357, termasuk masing-masing satu kematian di luar China daratan yakni di Hong Kong dan Filipina.

Selain itu, ada peningkatan tajam dari jumlah kasus terinfeksi menjadi lebih dari 60.000 di seluruh dunia. Lebih dari 14.000 kasus di antaranya merupakan kasus baru yang terkonfirmasi di Provinsi Hubei per Rabu.

Provinsi yang menyumbang lebih dari 80% keseluruhan kasus coronavirus di China itu kini menerapkan metode baru untuk mendiagnosis. Sekarang orang-orang yang memperlihatkan gejala coronavirus dan memiliki hasil tomografi terkomputasi (CT) yang menunjukkan infeksi paru-paru akan digolongkan dalam kasus terinfeksi.

Komisi Kesehatan Provinsi Hubei mengatakan, menggunakan CT scan untuk mendeteksi infeksi paru-paru akan membantu pasien menerima pengobatan sesegera mungkin dan meningkatkan peluang pemulihan. Sejauh ini, metodologi baru tersebut baru digunakan di provinsi itu.

Hubei sebelumnya hanya menyatakan infeksi dapat dikonfirmasi melalui tes RNA yang bisa memakan waktu hingga berhari-hari sehingga menunda pengobatan bagi pasien.

Secara total, Hubei sendiri mencatat lebih dari 48.000 kasus coronavirus jenis baru yang telah dikonfirmasi.

Sementara itu, kapal pesiar MS Westerdam yang membawa lebih dari 2.000 orang telah berlabuh di Kamboja. Sebelumnya, kapal tersebut ditolak berlabuh di lima negara karena pemerintah setempat khawatir beberapa penumpang mungkin terinfeksi coronavirus jenis baru.

MS Westerdam menghabiskan dua minggu di laut sebelum tiba di Kamboja pada Kamis (13/2) pagi. Sebelumnya, Jepang, Taiwan, Guam, Filipina, dan Thailand menolak menerimanya meskipun dipastikan tidak ada penumpang atau kru yang sakit di dalam kapal tersebut.

Sponsored

Operator kapal, Holland America, menyebut bahwa 1.455 penumpang dan 802 kru telah menjalani pemeriksaan kesehatan rutin sepanjang perjalanan.

"Beberapa kali kami berpikir kami akan pulang tetapi kemudian ditolak. Pagi ini, saya melihat daratan dan saya berpikir, 'Apakah ini nyata?'," tutur salah satu penumpang asal Amerika Serikat, Angela Jones.

Menurut laporan Reuters, sebagian besar penumpang MS Westerdam dapat pulang melalui pesawat sewaan dari Ibu Kota Phnom Penh pada Jumat (14/2).

Keputusan Kamboja untuk menyambut MS Westeredam dipuji oleh Sekretaris Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Ghebreyesus. Dia menyebut langkah itu sebagai contoh solidaritas internasional yang diinginkan WHO.

WHO juga mengatakan, masih terlalu dini untuk memprediksi akhir dari penyebaran wabah coronavirus jenis baru atau yang oleh organisasi itu resmi dinamakan Covid-19.

"Wabah ini masih belum bisa diprediksi," tutur Ghebreyesus.

Salah satu pejabat WHO, Michael Ryan, mengatakan bahwa pihaknya berhasil melacak sumber penularan coronavirus kecuali delapan dari 441 kasus yang terjadi di luar China.

"Menurut saya masih terlalu dini untuk memprediksi akhir dari epidemi ini," tambah Ryan.

Pada Selasa (11/2), ahli epidemiologi asal Tiongkok, Zhong Nanshan, memprediksi bahwa wabah coronavirus jenis baru akan menyentuh titik terparah di China pada Februari dan kemudian akan mulai mereda.

Kepala Ilmuwan WHO Soumya Swaminathan mengatakan bahwa pakar kesehatan sedang mengembangkan empat potensi vaksin yang kemungkinan dapat menjadi solusi dari wabah tersebut.

"Saya pikir kita akan menemukan vaksinnya. Tentu ini akan memakan waktu, vaksin tidak dapat dibuat dalam semalam," kata dia. (BBC dan Reuters)

Berita Lainnya