close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi. Foto: Al Arabiya.
icon caption
Ilustrasi. Foto: Al Arabiya.
Dunia
Selasa, 16 April 2024 17:27

Bertolak belakang dengan sekutu: Meski diminta menahan diri, Israel janji akan balas Iran

Pemerintah negara-negara Barat, termasuk negara-negara yang mendukung Israel dalam pertahanannya.
swipe

Panglima angkatan bersenjata Israel berjanji untuk menanggapi serangan Iran terhadap negara tersebut. Pernyataan ini dikeluarkan bahkan setelah seruan untuk menahan diri mengalir dari para pemimpin dunia karena takut akan konflik regional yang lebih luas.

Ketegangan sudah tinggi sebelum Iran melancarkan serangan pertamanya ke wilayah Israel, menembakkan ratusan rudal dan drone sebagai pembalasan atas serangan mematikan Israel pada 1 April terhadap konsulat Iran di Damaskus, yang meratakan gedung dan menewaskan beberapa perwira dan komandan.

Pemerintah negara-negara Barat, termasuk negara-negara yang mendukung Israel dalam pertahanannya. Namun memperingatkan agar tidak terjadi eskalasi. Sementara, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu dengan kabinet perangnya pada Senin malam untuk membahas langkah selanjutnya, media Israel melaporkan.

Menyusul serangan akhir pekan lalu, militer Israel mengatakan pihaknya tidak akan terganggu oleh perang yang sedang berlangsung di Gaza, yang telah menewaskan sedikitnya 33.800 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak.

Netanyahu telah mengumumkan pada akhir pekan bahwa ia menunda invasi darat Rafah di ujung selatan wilayah kantong yang terkepung, tempat sekitar setengah penduduk Gaza berlindung.

Menyusul serangan yang dilancarkan Sabtu malam itu, Iran untuk sementara menutup fasilitas nuklirnya karena “pertimbangan keamanan”, kata kepala pengawas atom PBB pada Senin. Iran pun menegaskan bahwa misi militer mereka untuk saat ini selesai. Namun, jika Israel membalasnya, maka Iran berjanji akan melakukan serangan yang lebih mematikan.

PBB khawatir Israel serang fasilitas nuklir Iran

Berbicara kepada wartawan di sela-sela pertemuan Dewan Keamanan PBB, Ketua Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi ditanya apakah dia khawatir tentang kemungkinan serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran sebagai pembalasan atas serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Kami selalu khawatir dengan kemungkinan ini. Apa yang bisa saya sampaikan kepada Anda adalah bahwa inspektur kami di Iran diberitahu oleh pemerintah Iran bahwa kemarin [Minggu], semua fasilitas nuklir yang kami periksa setiap hari akan tetap ditutup karena pertimbangan keamanan,” katanya.

Fasilitas tersebut dibuka kembali pada hari Senin, namun Grossi memutuskan untuk tidak mengizinkan para pemeriksa kembali hingga hari Selasa, dan berjanji bahwa meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran “tidak berdampak pada aktivitas inspeksi kami.”

“Saya memutuskan untuk tidak membiarkan para pengawas kembali sampai kami melihat bahwa situasinya benar-benar tenang,” tambahnya, sambil menyerukan “penahanan diri yang ekstrim.”

Iran meluncurkan lebih dari 300 drone dan rudal ke Israel semalaman dari Sabtu hingga Minggu pagi dalam apa yang menandai serangan langsung pertamanya ke wilayah Israel.

Serangan itu terjadi sebagai pembalasan atas dugaan serangan udara Israel terhadap apa yang dikatakan Teheran sebagai gedung konsulat Iran di Damaskus yang menewaskan tujuh tentara Korps Garda Revolusi Islam, termasuk dua jenderal.

Israel dan sekutu-sekutunya mengklaim menembak jatuh sebagian besar drone dan rudal dan serangan tersebut hanya menyebabkan satu orang cedera, namun kekhawatiran mengenai potensi pembalasan Israel tetap memicu ketakutan akan perang regional yang besar-besaran.

Selama bertahun-tahun, Israel menuduh Iran ingin memperoleh bom atom, dan mengatakan bahwa Israel tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Teheran membantah tuduhan tersebut.

Iran menyalahkan Israel atas kematian banyak orang yang terlibat dalam program nuklirnya, termasuk ilmuwan nuklir terkemuka mereka, Mohsen Fakhrizadeh, yang dibunuh dengan senapan mesin yang dikendalikan dari jarak jauh saat bepergian dengan mobil di luar Teheran pada tahun 2020.

Juga pada tahun 2010, serangan siber canggih yang menggunakan virus Stuxnet, yang dikaitkan oleh Teheran dengan Israel dan Amerika Serikat, menyebabkan serangkaian kerusakan pada mesin sentrifugal Iran yang digunakan untuk pengayaan uranium.

Pada tahun 1981, Israel mengebom reaktor nuklir Osirak di Irak pada masa pemerintahan Saddam Hussein, meskipun ada tentangan dari Washington. Dan pada tahun 2018, mereka mengaku telah melancarkan serangan udara rahasia terhadap reaktor di Suriah 11 tahun sebelumnya.(alarabiya)

img
Fitra Iskandar
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan