sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Coronavirus: Angka kematian Italia melampaui China

Kematian di Italia pada Kamis (19/3) mencapai 3.405, sementara China daratan 3.248.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 20 Mar 2020 13:57 WIB
Coronavirus: Angka kematian Italia melampaui China
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Angka kematian Italia akibat coronavirus jenis baru telah melampaui China. Kematian di Italia pada Kamis (19/3) mencapai 3.405, sementara China daratan 3.248.

Dalam konferensi pers pada Kamis, Badan Perlindungan Sipil Italia mencatat 5.322 kasus positif baru, menjadikan total 41.035 orang terinfeksi di negara itu.

Perkembangan di Italia datang beberapa jam setelah China untuk pertama kalinya tidak mendeteksi kasus infeksi baru yang bersifat transmisi lokal di dalam negeri.

Berupaya memperlambat penyebaran Covid-19, pihak berwenang Italia mulai memberlakukan lockdown nasional pada 9 Maret. Pembatasan kemudian diperketat lebih lanjut pada 12 Maret.

Dalam wawancara dengan surat kabar Corriere della Sera, Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte menyatakan bahwa lockdown akan diperpanjang melampaui tenggat yang ditetapkan sebelumnya, 3 April. Dia tidak merinci pasti kapan lockdown akan berakhir.

"Blokade total akan berlanjut. Langkah-langkah yang diambil, termasuk penutupan sekolah dan penangguhan aktivitas publik, akan diperpanjang," kata dia.

Di bawah kebijakan lockdown, penduduk Italia hanya dapat meninggalkan rumah mereka untuk membeli makanan atau obat-obatan, serta pergi bekerja. Toko serba ada dan apotek adalah satu-satunya toko yang tetap diizinkan beroperasi.

Banyak yang menilai sistem kesehatan nasional, terutama di bagian utara Italia yang terdampak paling parah, kewalahan menangani pandemi tersebut. Pihak berwenang Lombardy baru-baru ini meminta pekerja kesehatan yang sudah pensiun untuk kembali bekerja.

Sponsored

"Saya mengajukan permohonan yang tulus kepada semua dokter, perawat, dan tenaga medis yang telah pensiun dalam dua tahun terakhir untuk membantu kami dalam keadaan darurat ini," ujar Gubernur Lombardy Attilio Fontana pada Rabu (18/3).

Lombardy bergegas membangun sejumlah rumah sakit darurat demi menambah unit perawatan intensif yang dibutuhkan untuk merawat pasien positif Covid-19. Namun, pemerintah menuai kritik karena dianggap tidak menyediakan perangkat yang diperlukan pekerja kesehatan untuk melindungi diri mereka dengan baik.

Kelompok peneliti, Yayasan Gimbe, mengatakan bahwa antara 11-17 Maret, sekitar 2.529 petugas kesehatan terjangkit coronavirus.

Lockdown yang tak ketat

Sejumlah pakar kesehatan China yang membantu Italia menangani krisis coronavirus jenis baru menilai bahwa langkah-langkah karantina pemerintah di wilayah Lombardy tidak ketat.

"Situasinya (penyebaran virus) mirip dengan yang kami alami dua bulan lalu di Kota Wuhan, sumber pandemi Covid-19," tutur Wakil Presiden Palang Merah China Sun Shuopeng dalam konferensi pers di Milan.

Dia menyebut, satu bulan setelah lockdown atau karantina wilayah diterapkan di Wuhan, otoritas kesehatan setempat melihat tren penurunan kasus infeksi baru coronavirus.

"Di sini, Milan, daerah yang paling parah dihantam Covid-19, karantina wilayah tidak diterapkan secara ketat. Transportasi umum masih berfungsi dan orang-orang masih bepergian. Anda masih makan malam dan berpesta di hotel serta tidak menggunakan masker," ujar dia.

Sun menggarisbawahi pentingnya setiap penduduk Italia untuk bertanggung jawab, menaati kebijakan pemerintah, dan terlibat dalam pertarungan melawan Covid-19. Dia menyarankan warga Italia menghentikan semua aktivitas ekonomi dan meminimalkan mobilitas, mendorong mereka untuk tinggal di rumah.

Selain itu, pakar menyatakan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan tingginya angka kematian di Italia adalah populasi negara itu mayoritas lansia. Italia memiliki lebih banyak warga berusia di atas 80-90 tahun dibandingkan negara industri besar lainnya di Eropa. 

Usia rata-rata pasien meninggal di Italia pun lebih dari 80 tahun. Para korban lansia sebagian besar memiliki riwayat penyakit lainnya seperti kanker, diabetes, atau hipertensi.

Di samping populasi manula yang besar, faktor lainnya yang dinilai mendorong tingginya angka kematian di Italia adalah sistem perawatan kesehatan yang tidak memadai dan pemerintah yang terlambat menerapkan lockdown. (CNN, CNBC, BBC, USA Today, dan Reuters)

Berita Lainnya