sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Covid-19: Layanan pemulasaraan jenazah di Ekuador kewalahan

Ekuador mencatat 3.163 kasus positif Covid-19.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Jumat, 03 Apr 2020 13:15 WIB
Covid-19: Layanan pemulasaraan jenazah di Ekuador kewalahan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 527.999
Dirawat 66.752
Meninggal 16.646
Sembuh 441.983

Tentara dan polisi di Ekuador mengumpulkan lebih dari 100 jenazah dari jalan-jalan dan rumah-rumah di kota terpadat di negara itu, Guayaquil.

"Satuan tugas gabungan militer dan polisi mengumpulkan 150 jenazah hanya dalam tiga hari," ujar juru bicara pemerintah Jorge Wated pada Rabu malam waktu setempat. 

Warga mengunggah sejumlah video di media sosial yang menunjukkan jenazah ditinggalkan di jalan-jalan dan rumah-rumah di Guayaquil, kota di Amerika Latin yang paling parah dilanda pandemik Covid-19.

Beberapa meninggalkan pesan putus asa bagi pihak berwenang untuk mengambil jenazah orang yang meninggal di rumah mereka.

Menurut situs web pelacak worldometers dan John Hopkins, Ekuador mencatat 3.163 kasus positif Covid-19. Di kedua situs web itu, tercantum korban meninggal mencapai 120 orang. Belum jelas berapa banyak kehilangan nyawa di Guayaquil akibat Covid-19.

Rosa Romero (51) harus menunggu satu hari agar jenazah suaminya, Bolivar Reyes, dikeluarkan dari rumah. Satu pekan kemudian, di tengah kekacauan sistem kamar mayat di kota itu, dia tidak tahu di mana jenazah suaminya.

"Di biro forensik mereka mengatakan kepada kami bahwa mereka telah membawanya ke Rumah Sakit Guasmo. Kami pergi ke sana tetapi dia tidak terdaftar di mana pun," tutur Romero.

Penerapan jam malam selama 15 jam di Guayaquil membuat pencarian lebih sulit.

Sponsored

Pemerintah minta maaf

Jubir pemerintah dalam pesan yang disiarkan di televisi pada Rabu (1/4) malam melayangkan permintaan maaf. Dia mengatakan bahwa pekerja kamar mayat tidak dapat melaksanakan tugas mereka karena adanya jam malam.

"Kami mengakui kesalahan dan kami meminta maaf kepada mereka yang harus menunggu berhari-hari agar orang yang mereka cintai dibawa pergi," ujar Wated.

Sementara itu, pekerjaan di sektor pemakaman dan rumah duka pun terhenti, dengan staf enggan menangani jenazah karena takut akan tertular.

Ekuador adalah negara Amerika Latin yang terparah terdampak Covid-19 setelah Brasil, yang mencatat 8.066 kasus. Fatalitas di Brasil mencapai 327, dengan 127 orang dilaporkan sembuh.

Kasus Covid-19 pertama yang dilaporkan di Ekuador adalah seorang wanita Ekuador berusia 71 tahun yang tiba di Guayaquil dari Spanyol pada 14 Februari.

Wated mengatakan pemerintah sedang mempersiapkan hari-hari yang lebih sulit di masa depan.

"Para ahli medis memperkirakan bahwa kematian akibat Covid-19 dalam beberapa bulan ini akan mencapai antara 2.500 dan 3.500 untuk di Provinsi Guayas saja, dan kami sedang bersiap untuk itu," kata dia.

Otopsi telah dibatasi dan pemerintah, yang melarang layanan pemakaman normal, awalnya bersikeras bahwa Covid-19 korban harus dikremasi. Namun, mereka dipaksa mengalah oleh reaksi publik.

"Kami bekerja agar setiap orang dapat dimakamkan dengan bermartabat," kata Wated, merujuk pada pemakaman yang dikelola pemerintah yang tersedia dengan kapasitas sekitar 2.000 jenazah. (AFP)

Berita Lainnya