logo alinea.id logo alinea.id

Ditahan saat wawancara Maduro, sejumlah wartawan akhirnya bebas

Sejumlah awak media yang ditahan di Istana Presiden Venezuela berasal dari Univision, jaringan TV berbahasa Spanyol yang berbasis di AS.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 26 Feb 2019 17:09 WIB
Ditahan saat wawancara Maduro, sejumlah wartawan akhirnya bebas

Stasiun televisi Univision menyatakan enam staf mereka, termasuk penyiar ternama Jorge Ramos, sempat ditahan di Istana Kepresidenan Miraflores di Caracas, Venezuela, pada Senin (25/2).

Ramos dan krunya dibebaskan kurang lebih tiga jam setelah ditahan di kediaman Presiden Nicolas Maduro tersebut.

Univision merupakan jaringan televisi berbahasa Spanyol yang berbasis di Amerika Serikat.

Melalui sebuah twit, pimpinan Univision Daniel Coronell mengatakan bahwa, "Jorge Ramos dan timnya telah dibebaskan dan sedang dalam perjalanan menuju hotel mereka."

Di Caracas, Serikat Pekerja Pers Nasional Venezuela juga mengonfirmasi bahwa tim Univision telah dibebaskan.

Menurut keterangan stasiun televisi itu, Ramos berada di Istana Kepresidenan untuk mewawancarai Presiden Maduro. Juru bicara Univision Jose Zamora mengatakan Maduro tersinggung akibat pertanyaan yang dilontarkan oleh Ramos.

"Tidak lama setelah wawancara dimulai, Maduro tidak suka pada pertanyaan yang diajukan dan dia menghentikan wawancara," jelas Zamora.

Setelah itu, pegawai istana segera menyita perlengkapan milik jaringan televisi tersebut.

Sponsored

Eksekutif Univision dapat mengetahui apa yang terjadi karena Ramos sempat menghubungi mereka sesaat setelah ditahan. Namun, di tengah-tengah perbincangan, pegawai istana menyita telepon genggamnya.

Univision langsung menghubungi Kementerian Luar Negeri AS. Asisten Menteri Luar Negeri untuk Urusan Belahan Barat Kimberly Breier menyatakan pihaknya mendesak pembebasan para kru stasiun televisi.

Melalui akun Twitter mereka, Univision mengumumkan informasi terkait penahanan krunya.

Kelompok-kelompok seperti Human Rights Watch turut menyerukan pembebasan para jurnalis.

Setelah tim dibebaskan, Univision mewawancarai Ramos melalui sambungan telepon dalam program khusus. Menurut Ramos, Maduro beranjak dari wawancara setelah sang jurnalis menunjukkan rekaman video yang memperlihatkan sejumlah anak muda asal Venezuela yang mencari makanan dari truk sampah.

"Mereka menginterogasi dan menempatkan kami di ruang keamanan. Mereka bahkan mematikan lampu," katanya.

Ramos menyebut kejadian itu sebagai pelanggaran. Dia mengatakan, para ajudan Maduro masih menyita kaset rekaman wawancara mereka.

"Mereka telah mencuri pekerjaan kami dan berusaha mencegah agar apa yang terjadi tidak disiarkan," lanjutnya.

Menurut anggota tim Univision di Venezuela, Pedro Ultreras, pejabat imigrasi mengatakan akan segera mendeportasi para wartawan dari Venezuela dan mereka diharuskan pulang pada Selasa (26/2) pagi waktu setempat.

"Hotel kami dikelilingi oleh otoritas Venezuela, kami tidak bisa pergi ke luar," jelas dia.

Pejabat pemerintah Venezuela tidak segera menanggapi permintaan untuk berkomentar. Namun, Menteri Komunikasi Venezuela Jorge Rodriguez membantah segala tudingan dan mengatakan bahwa Istana Kepresidenan memperlakukan para wartawan dengan sopan.

Saat negara dilanda krisis, pemerintah Venezuela telah beberapa kali melakukan wawancara dengan jurnalis AS.

Dalam salah satu wawancara lain pada Senin, Maduro mengatakan kepada Tom Llamas dari ABC News bahwa pemerintah AS berupaya mengarang terjadinya krisis demi membenarkan adanya ketegangan politik dan pada akhirnya melakukan intervensi militer ke Venezuela.

Pemerintahan Donald Trump sebelumnya telah menyatakan dukungan mereka terhadap pemimpin oposisi, Juan Guaido, yang juga mendeklarasikan diri sebagai presiden interim.

Sama seperti ABC News, wawancara dengan Ramos pun dijadwalkan berlangsung pada Senin. Zamora mengungkapkan, pada awalnya wawancara dijadwalkan akan berlangsung pukul 14.30 tetapi terus ditunda hingga akhirnya dimulai pukul 19.00.

Menurut Coronell, bahan wawancara itu kini masih dipegang oleh pejabat pemerintah.

Kejadian penahanan tersebut terungkap pada hari yang sama saat Wakil Presiden AS Mike Pence bertemu dengan Guaido di Bogota, Kolombia.

Sumber : CNN