logo alinea.id logo alinea.id

Drama pencalonan Putri Thailand sebagai perdana menteri berakhir

Polemik pencalonan Putri Ubolratana Rajakanya berakhir setelah Raja Thailand Maha Vajiralongkorn turun tangan.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Minggu, 10 Feb 2019 10:39 WIB
Drama pencalonan Putri Thailand sebagai perdana menteri berakhir

Drama politik jelang pemilu di Thailand berakhir pada Sabtu (9/2), ketika partai yang menominasikan Putri Ubolratana Rajakanya sebagai perdana menteri mengakhiri pencalonannya. 

Langkah tersebut diambil setelah Raja Maha Vajiralongkorn, yang notabene adik Putri Ubolratana Rajakanya, menyebut pencalonan kakaknya inkonstitusional.

Partai Thai Raksa Chart menyatakan sumpah setianya kepada Raja Maha Vajiralongkorn lewat sebuah pernyataan yang dirilis setelah intervensinya pada larut malam. Selain itu, partai tersebut juga mengucapkan terima kasih kepada Putri Ubolratana Rajakanya atas kebaikannya terhadap mereka.

Thai Raksa Chart bersekutu dengan taipan dan mantan PM yang diasingkan, Thaksin Shinawatra. Dukungan yang meluas terhadap Thaksin dan gelar kerajaan Putri Ubolratana Rajakanya dinilai merupakan kombinasi pas untuk menjadikannya kandidat terdepan.

Bukan tidak mungkin, Putri Ubolratana Rajakanya dapat menjembatani 'perpecahan' dua kutub sosio-politik di Thailand antara kaos merah, pendukung Thaksin, dengan kaos kuning, yang  konservatif dan bersekutu dengan militer.

Secara tradisional, monarki, adalah salah satu lembaga paling dihormati di Thailand. Mereka berada di luar hiruk pikuk politik, kecuali saat terjadi krisis. Jadi, ketika pencalonan Putri Ubolratana Rajakanya diumumkan, itu tidak hanya mengejutkan publik tetapi juga memicu asumsi analis bahwa sang putri diam-diam telah mendapat persetujuan dari saudara laki-lakinya.

Kedua saudara kandung itu diyakini cukup dekat. Ketika Putri Ubolratana Rajakanya menikahi seorang jelata asal Amerika Serikat pada 1970-an, dia terpaksa melepas gelar kerajaannya, sesuatu yang menurutnya membuatnya memenuhi syarat untuk mencalonkan diri.

Pernyataan keras Raja Maha Vajiralongkorn pada Jumat (8/2) pun mengakhiri polemik itu.

Sponsored

"Meski pun dia melepas gelarnya sesuai dengan hukum kerajaan ... dia masih mempertahankan status dan posisinya sebagai anggota dari dinasti Chakri," sebut Raja Maha Vajiralongkorn. "Keterlibatan anggota keluarga kerajaan berkedudukan tinggi dalam politik, dengan cara apa pun adalah tindakan yang bertentangan dengan tradisi, adat, dan budaya negara dan karenanya dianggap tidak pantas."

Barulah pada Sabtu pagi Partai Thai Raksa Chart mengonfirmasi bahwa pencalonan Putri Ubolratana Rajakanya berakhir. Putri sulung mendiang Raja Bhumibol Adulyadej dan Ratu Sirikit itu kemudian mengunggah pernyataan di Instagram, berterima kasih kepada orang-orang yang mendukungnya tanpa menyebut nama saudara laki-lakinya.

Pemilu yang dijadwalkan berlangsung pada 24 Maret akan menjadi yang pertama di Thailand sejak kudeta militer 2014. Setelah pencalonan Putri Ubolratana Rajakanya berakhir, maka kandidat terkuat adalah pemimpin junta militer saat ini, Prayut Chan-o-cha.

Setelah penundaan pemilu berulang kali dan memperketat kontrol atas oposisi, Prayut secara luas diperkirakan akan kembali menduduki kursi PM.

Sumber : The Guardian