logo alinea.id logo alinea.id

FAA: Pola penerbangan Ethiopian Airlines sangat mirip dengan Lion Air JT 610

AS, negara asal Boeing, adalah yang terbaru yang melarang 737 MAX 8 terbang setelah sebelumnya bersikeras bahwa pesawat itu aman.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 14 Mar 2019 09:36 WIB
FAA: Pola penerbangan Ethiopian Airlines sangat mirip dengan Lion Air JT 610

Boeing telah memutuskan mengistirahatkan sementara seluruh armada 737 MAX-nya setelah penyelidik menemukan bukti baru di lokasi kecelakaan Ethiopian Airlines. 

Produsen pesawat terbang asal Amerika Serikat tersebut mengumumkan akan menangguhkan 371 armada 737 MAX-nya.

Regulator penerbangan sipil AS (FAA) menjelaskan bukti baru serta data satelit telah mendorong keputusan Boeing tersebut. FAA sebelumnya bergeming ketika banyak negara menerapkan larangan terbang bagi 737 MAX.

FAA sendiri telah mengirimkan tim investigasi ke lokasi kecelakaan Ethiopian Airlines. Mereka bekerja sama dengan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional.

Dan Elwell, penjabat administrator FAA mengatakan pada Rabu, "Menjadi jelas bagi seluruh pihak bahwa pola penerbangan Ethiopian Airlines sangat dekat dan berperilaku sangat mirip dengan penerbangan Lion Air."

Dia menambahkan, "Bukti yang kami temukan di darat bahkan membuatnya semakin sangat mirip dengan kejadian Lion Air."

Kecelakaan Ethiopian Airlines yang terjadi pada Minggu (10/3), menewaskan 157 orang. Itu merupakan kecelakaan fatal MAX 8 kedua dalam kurun lebih kurang lima bulan setelah pesawat Lion Air JT 610 dengan model serupa jatuh di Laut Jawa pada Oktober 2018, menewaskan 189 orang. 

Sponsored

Presiden Donald Trump sebelumnya telah mengumumkan bahwa FAA akan membuat perintah darurat setelah dirilisnya informasi baru dan bukti fisik yang didapat baik dari lokasi kecelakaan, lokasi lainnya, maupun yang berasal dari beberapa keluhan.

AS adalah negara terbaru yang melarang Boeing 737 MAX 8 setelah sejumlah negara seperti China, Ethiopia, Indonesia, Uni Eropa, India, Australia dan banyak lainnya lebih dulu mengambil langkah serupa.

Sebelumnya pada Rabu (13/3), Kanada mendaratkan armada 737 MAX-nya setelah Menteri Transportasi Marc Garneau mengatakan dia telah menerima bukti baru tentang kecelakaan tersebut.

Garneau menjelaskan bahwa data satelit menunjukkan kemungkinan kesamaan antara pola penerbangan Boeing 737 MAX yang beroperasi di Kanada dan pesawat Ethiopian Airlines yang jatuh.

Apa kata Boeing?

Boeing sendiri tetap pada prinsip memiliki kepercayaan penuh atas keselamatan 737 MAX. Namun, mereka menambahkan bahwa setelah berkonsultasi dengan FAA dan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional mereka memutuskan untuk menangguhkannya dengan alasan kehati-hatian dan meyakinkan masyarakat tentang keselamatan pesawat terbang.

Dennis Muilenburg, presiden Boeing mengatakan, "Kami melakukan segala yang kami bisa untuk memahami penyebab kecelakaan dengan bermitra bersama para penyelidik, menyebarkan peningkatan keselamatan dan membantu memastikan ini tidak terjadi lagi."

Terkait isu ini, Presiden Perhimpunan Petugas Penerbangan AS (AFA) Sara Nelson menilai, "Nyawa harus selalu didahulukan. Namun, di lain sisi merek juga dipertaruhkan. Dan merek itu bukan hanya Boeing. Itu juga soal AS. Posisi AS dalam penerbangan internasional dan oleh eksistensi di dunia yang jauh lebih luas secara umum, yaitu bahwa kita menerapkan standar untuk keselamatan, kompetensi, dan kejujur dalam tata kelola penerbangan." 

Pasca-keputusan FAA, maskapai Southwest Airlines menjelaskan, pihaknya segera menghapus seluruh armada 737 MAX yang berjumlah 34 unit dari layanan yang dijadwalkan.

Maskapai itu merupakan pemilik armada 737 MAX 8 terbesar di dunia. Meski demikian, Southwest Airlines mengatakan bahwa 737 MAX tersebut hanya bertanggung jawab atas kurang dari 5% penerbangan harian mereka.

Pihak Southwest Airlines menawarkan kebijakan pemesanan ulang fleksibel yang berarti bahwa setiap pelanggan yang sebelumnya memesan penerbangan menggunakan armada 737 MAX 8 dapat memesan ulang  penerbangan alternatif tanpa biaya tambahan atau perbedaan tarif dalam kurun 14 hari dari tanggal perjalanan asli mereka.

Adapun American Airlines menjelaskan, 24 pesawatnya terpengaruh oleh kebijakan penangguhan FAA. "Tim kami akan bekerja untuk pemesanan ulang secepat mungkin, dan kami meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi."

Maskapai United Airlines mengungkap bahwa armada MAX 8-nya memiliki jadwal 40 penerbangan dalam satu hari.

"Melalui kombinasi pesawat cadangan dan pemesanan ulang oleh pelanggan, kami tidak mengantisipasi dampak operasional yang signifikan sebagai hasil dari keputusan tersebut," kata United Airlines.

Sebenarnya, para pilot di AS tahun lalu telah membuat keluhan tahun lalu tentang mengendalikan Boeing 737 MAX 8 selama lepas landas.

Mereka melaporkan kesulitan yang serupa dengan yang dialami dalam kecelakaan Lion Air jt 610.

Pesawat Ethiopian Airlines jatuh beberapa menit setelah lepas landas.

Flightradar24, pemantau lalu lintas udara, mengatakan bahwa kecepatan vertikal pesawat tidak stabil setelah lepas landas.

Pada November 2018, dua pilot AS melaporkan insiden terpisah yang melibatkan sistem anti-stalling 737 MAX. Fitur baru ini dirancang untuk menjaga pesawat agar tidak macet.

Sistem mencegah pesawat menunjuk ke atas pada sudut yang terlalu tinggi, di mana pesawat bisa kehilangan daya angkatnya.

Namun, menurut keluhan yang ditangkap Sistem Pelaporan Keselamatan Penerbangan AS, yang digunakan para pilot untuk mengungkapkan informasi secara anonim, sistem itu membuat pesawat menukik.

Dalam kedua kasus, pilot terpaksa turun tangan untuk menghentikan pesawat agar tidak turun.

Setelah kecelakaan Lion Air JT 610, Boeing mengeluarkan buletin tentang apa yang harus dilakukan mengenai pembacaan yang salah dari sensor, yang mengirimkan informasi tentang sudut terbang pesawat.

Sumber : BBC