logo alinea.id logo alinea.id

Filipina umumkan wabah demam babi Afrika pertama

Lebih dari 7.000 ekor babi dimusnahkan di daerah terdampak.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 09 Sep 2019 18:41 WIB
Filipina umumkan wabah demam babi Afrika pertama

Otoritas Filipina mengumumkan bahwa sejumlah babi mati yang ditemukan di beberapa peternakan di Filipina positif virus demam babi Afrika. Ini merupakan wabah pertama virus yang terdeteksi di negara pengonsumsi babi terbesar ke-10 di dunia itu.

Pengumuman ini didasarkan pada hasil tes laboratorium yang diminta oleh Menteri Pertanian William Dar menyusul laporan bulan lalu tentang jumlah kematian babi yang tidak biasa di Provinsi Rizal, yang dekat dengan Manila.

Filipina, importir daging babi terbesar ketujuh dunia, merupakan negara Asia terbaru yang dilanda demam babi Afrika meskipun ada upaya untuk melindungi industri babi senilai US$5 miliar, yang termasuk larangan impor daging babi.

"Dari 20 sampel darah (yang dikirim ke Inggris untuk diuji), 14 positif demam babi Afrika," kata Dar.

Menurut Dar, tes lebih lanjut diperlukan untuk menentukan seberapa ganas virus yang ditemukan. Tidak ada obat atau vaksin untuk penyakit mematikan dan sangat menular, tapi tidak memengaruhi manusia ini.

Menurut data pemerintah per 1 Juli, kawanan babi Filipina diperkirakan mencapai 12,7 juta ekor.

"Lebih dari 7.000 ekor babi telah dimusnahkan di daerah terdampak, beberapa dari mereka dikubur hidup-hidup," tutur Dar.

Filipina sejauh ini telah melarang daging babi dan produk-produk berbahan dasar daging babi dari lebih dari selusin negara, termasuk Vietnam, Laos dan China.

Sponsored

Di China, konsumen daging babi terbesar di dunia, wabah telah menyebar ke setiap wilayah, termasuk Hong Kong dan Pulau Hainan, mengurangi jumlah kawanan babi di negara itu hingga sepertiga.

Larangan impor Filipina juga mencakup produk berbasis daging babi dan babi dari Jerman, Korea Utara, Belgia, Hungaria, Latvia, Polandia, Romania, Rusia, Ukraina, Bulgaria, Republik Ceko, Moldova, Afrika Selatan, Zambia dan Mongolia.

Di dalam negeri, Kementerian Pertanian (DA) telah memperketat tindakan karantina hewan dan keamanan pangan, melarang pengangkutan hewan hidup dan produk daging tanpa izin kesehatan dan pengiriman.

Pejabat pertanian mengatakan bahwa masyarakat seharusnya tidak takut makan daging babi, memastikan bahwa babi yang melewati proses pemotongan dan persiapan yang benar aman dikonsumsi.

"Sebelum disembelih, babi divalidasi dan dinilai oleh dokter hewan, yang kemudian mengeluarkan sertifikat medis," sebut DA dalam pernyataannya.

Setelah disembelih, daging dicap dengan stempel dari Layanan Inspeksi Daging Nasional.

"Kami percaya kami telah berhasil mengelola masalah ini," kata DA.

Menteri Keuangan Carlos Dominguez berusaha mengecilkan dampak demam babi Afrika pada harga makanan karena dia mengatakan konsumen cenderung beralih ke unggas, daging sapi dan ikan sebagai penggantinya.

Sumber : Reuters