sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Indonesia-Turki bahas kerja sama kedirgantaraan

Kedua pihak membahas kerja sama kedirgantaraan, antara lain yang menyangkut pesawat N-219 dan R-80.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 30 Jul 2020 14:25 WIB
Indonesia-Turki bahas kerja sama kedirgantaraan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 373.109
Dirawat 64.032
Meninggal 12.857
Sembuh 297.509

Dalam pertemuan bilateral secara daring pada Selasa (28/7), Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro dan Menteri Industri dan Teknologi Turki Mustafa Varank, membahas mengenai pengembangan industri kedirgantaraan kedua negara.

"Topik pembahasan kerja sama ini sangat relevan dan signifikan dalam pengembangan hubungan bilateral Indonesia-Turki, khususnya dalam bidang penguasaan riset, tekonologi, dan inovasi," ungkap Menristek Bambang dalam keterangan tertulis KBRI Ankara pada Rabu (29/7).

Kedua pihak membahas kerja sama kedirgantaraan, antara lain yang menyangkut pesawat N-219 dan R-80.

Menurut Duta Besar RI untuk Turki Lalu Muhammad Iqbal, Turki telah melakukan pendekatan kepada Indonesia untuk melakukan kerja sama pengembangan civilian aircraft project atas pesawat tipe N-219, N-245, dan R-80.

Terkait dengan itu, Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (DI) Elfien Goentoro mengaku, telah memiliki nota kesepahaman (MoU) dalam bidang manufaktur dan produksi bagian pesawat tipe N-219 dan N-245 dengan Turki, yang mana pengembangan pesawat N-219 sudah siap untuk tahap komersialisasi.

Elfien menyebut, Indonesia akan mencoba memasuki pasar komersil pesawat N-219 yang lebih besar untuk penggunaannya di wilayah Eropa, melalui langkah awal sertifikasi pesawat RI-68, RI-80 dan R-90 di Turki.

Sementara itu, terkait proyek pesawat R-80, Direktur Utama PT Regio Aviasai Indonesia (RAI) Agung Nugroho menyatakan, pada masa-masa awal perusahaannya didirikan pada 2012, Turki adalah negara pertama yang dikunjungi pendiri PT RAI, BJ Habibie.

Lebih lanjut, Agung mengatakan, pesawat R-80 saat ini sudah mampu memenuhi kapasitas penumpang 90-100 orang.

Sponsored

Berbeda dengan Indonesia, industri kedirgantaraan Turki disebut memprioritaskan pengembangan dan produksi pesawat tempur untuk kebutuhan militer negaranya, mengingat Turki termasuk negara maju untuk bidang pengembangan teknologi pesawat tempur.

Namun begitu Presiden Turkey Aerospace Industry (TAI) mengaku, melihat ada potensi besar untuk menyatukan kepentingan Turki dan Indonesia, sehingga Turki ke depannya dapat mengembangkan program passenger aircraft military program.

Berita Lainnya