logo alinea.id logo alinea.id

Iran berencana aktifkan kembali reaktor nuklir air berat di Arak

Air berat merupakan senyawa kimia yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan plutonium, bahan bakar yang digunakan dalam hulu ledak nuklir.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 29 Jul 2019 15:16 WIB
Iran berencana aktifkan kembali reaktor nuklir air berat di Arak

Pada Minggu (28/7), Kepala Badan Energi Atom Iran Ali Akbar Salehi menyatakan bahwa Iran berencana untuk kembali mengurangi komitmen mereka terhadap kesepakatan nuklir 2015 dengan mengaktifkan kembali reaktor nuklir air berat di Arak.

Dilaporkan oleh kantor berita, ISNA, air berat merupakan senyawa kimia yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan plutonium, bahan bakar yang digunakan dalam hulu ledak nuklir.

Sejak Mei, Iran secara bertahap mulai mengurangi komitmennya terhadap kesepakatan nuklir yang disebut JCPOA itu. Langkah tersebut menyusul keputusan Amerika Serikat yang pada 2018 secara sepihak menarik diri dari perjanjian tersebut dan kembali menjatuhkan sanksi terhadap Teheran.

Para negara penandatangan yang tersisa telah mencoba untuk mempertahankan JCPOA, tugas yang semakin sulit dilakukan karena ketegangan antara Washington dan Teheran melonjak dalam beberapa pekan terakhir.

Pada Minggu, pihak-pihak yang tergabung dalam JCPOA yakni Inggris, Prancis, Jerman, Rusia dan China bertemu dengan Iran di Wina, Austria, untuk membahas  cara menyelamatkan pakta nuklir itu.

Sebelumnya, pada 3 Juli, Presiden Iran Hassan Rouhani mengumumkan negaranya akan melanjutkan proses pengayaan uranium di atas batas yang ditentukan serta akan menghidupkan kembali reaktor air berat di Arak jika negara-negara penandatangan JCPOA gagal melindungi Iran dari sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS.

Pejabat Iran menyatakan, pelanggaran JCPOA itu dapat diperbaiki hanya jika negara-negara penandatangan kesepakatan nuklir berpegang pada komitmen mereka.

Pertemuan konstruktif

Sponsored

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan bahwa pertemuan antara pihak-pihak penandatangan JCPOA di Wina berjalan dengan konstruktif.

Meski begitu, lanjutnya, ada masalah yang belum terselesaikan dan Teheran tetap akan mengurangi komitmen mereka terhadap JCPOA jika negara-negara Eropa gagal menyelamatkan pakta itu.

"Suasananya konstruktif. Diskusi berjalan dengan baik. Saya tidak bisa mengatakan bahwa kami telah menyelesaikan segala permasalahan, tapi saya dapat mengatakan ada banyak komitmen yang dibuat," tutur Araqchi.

Araqchi menekankan, pihaknya akan terus mengurangi komitmen mereka sampai negara-negara Eropa berhasil mengamankan kepentingan Iran yang tercantum di JCPOA.

Negara-negara Eropa mengatakan, jika Iran melakukan pelanggaran lebih lanjut terhadap JCPOA, itu dapat meningkatkan ketegangan yang sudah ada. Namun, upaya mereka untuk melindungi perdagangan Iran dari sanksi ekonomi AS sejauh ini tidak membuahkan hasil konkret.

Sejauh ini, Iran telah melanggar ketentuan terkait batas penimbunan uranium yang diperkaya serta memperkaya uranium di luar batas kemurnian 3,67% yang disepakati bersama.

Direktur Jenderal Departemen Kontrol Senjata Kementerian Luar Negeri Tiongkok Fu Cong, yang memimpin delegasi China dalam pada Minggu menyampaikan bahwa semua pihak telah menyatakan komitmen untuk melindungi dan mengimplementasikan JCPOA.

"Semua pihak telah menyatakan keberatan mereka terhadap sanksi unilateral AS," lanjutnya.

Pertemuan itu terjadi setelah Pengawal Revolusi Iran (IRGC) menyita tanker minyak berbendera Inggris pada 19 Juli, dua pekan setelah pasukan Inggris menangkap tanker minyak Iran di perairan Gibraltar.

Araqchi menyatakan bahwa penyitaan tanker Iran oleh pemerintah Inggris merupakan pelanggaran terhadap JCPOA.

"Negara-negara yang menjadi bagian dari JCPOA seharusnya tidak menghambat ekspor minyak Iran," kata Araqchi.

Inggris menyerukan agar misi angkatan laut yang dipimpin Eropa mengamankan pengiriman kapal-kapal yang melintas Selat Hormuz, rute pengiriman minyak yang vital. Seorang juru bicara pemerintah Iran pada Minggu menuturkan bahwa misi angkatan laut semacam itu justru akan mengirimkan pesan yang agresif.

Pada Minggu, Inggris menyatakan bahwa kapal perang Royal Navy kedua, HMS Duncan, telah tiba di Teluk untuk bergabung dengan HMS Montrose. Kehadiran keduanya bertujuan untuk mengawal kapal-kapal berbendera Inggris yang melintasi Selat Hormuz.

Penyitaan tanker minyak Inggris telah memperdalam krisis antara Iran dan Barat. Presiden Rouhani mengecam penyitaan Inggris atas tanker minyak Iran, menyebutnya sebagai tindakan ilegal dan akan merugikan Inggris.

Sejumlah tanker minyak telah diserang di perairan dekat pantai selatan Iran pada Mei dan Juni, di mana Washington meyakini Teheran sebagai pihak yang berada di balik penyerangan itu. Iran membantah terlibat dalam insiden tersebut.

Sumber : Reuters