Dunia / Jepang

Jumlah korban banjir dan longsor Jepang capai 204 orang

Pemerintah Jepang akan menganggarkan US$18 juta (Rp259 miliar) yang diambil dari dan cadangan untuk korban bencana.

Jumlah korban banjir dan longsor Jepang capai 204 orang Ilustrasi / Pixabay

Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe bertemu dengan para korban selamat pada bencana banjir dan tanah longsor yang telah menewaskan sedikitnya 204 orang. Dia berjanji akan memberikan bantuan lebih banyak kepada korban selamat.

Jumlah korban tewas diperkirakan akan terus bertambah karena curah hujan terus menunjukkan tren kenaikan. Sementara para tim penyelamat berjuang keras menggali reruntuhan rumah dan mencari korban yang dilaporkan hilang.

"Jumlah korban tewas kini telah mencapai 204 orang dan 28 warga lainnya dilaporkan hilang," kata juru bicara pemerintah Jepang Yoshihide Suga dilansir Channel News Asia pada Jumat (13/7).

"Sekitar 73.000 pekerja penyelamat termasuk polisi dan pasukan bela diri harus bekerja keras semampu mereka dengan prioritas untuk menyelamat korban yang masih hidup," ujar Suga.

Abe yang sebelumnya membatalkan lawatan ke luar negeri memilih berkunjung ke wilayah yang menjadi lokasi bencana. Abe berkunjung ke wilayah Seiyo di Prefektur Ehime. Dia mengunjungi rumah yang rusak karena bencana dan berbincang dengan penduduk lokal yang membersihkan rumah.

Jumat pagi, Abe menggelar pertemuan dengan tim gugus tugas pemerintah urusan bencana. Dia berjanji akan memberikan bantuan lebih besar bagi korban selamat.

Pemerintah Jepang akan menganggarkan US$18 juta (Rp259 miliar) yang diambil dari dan cadangan untuk korban bencana. "Saya ingin pemerintahan lokal di wilayah bencana bisa melakukan semua hal yang bisa dilakukan untuk membantu korban dan rekonstruksi bangunan," kata Abe.

Kerugian akibat bencana banjir dan tanah longsor kini sedang dihitung. Kementerian Pertanian menyatakan kerugian akibat bencana itu bisa mencapai US$207 juta (Rp2,9 triliun). Jumlah itu akan terus bertambah seiring banyak kerusakan properti yang belum dihitung. "Kita belum bisa mengecek ke lapangan untuk menginspeksi kerugian akibat bencana," kata pejabat Kementerian Pertanian Jepang Yasuhisa Hamanaka.

Melansir Japan Times, para pekerja pemerintah kota di Kurashiki dan Osaka bekerja keras untuk memperbaiki aliran air bersih setelah banyak jaringan pipa mengalami kerusakan akibat bencana terburuk dalam 26 tahun terakhir di Jepang.

"Kami membutuhkan suplai air kembali normal," kata Hiroshi Oka, 40, penduduk Okayama di Kurashiki. Di wilayah tersebut, lebih dari 200.000 rumah tidak mendapatkan aliran air bersih selama sepekan. "Kami tidak bisa menyiram toilet dan mencuci tangan," tambahnya.

Tim penyelamat membangun toilet darurat di beberapa lokasi bencana. Tapi, banyak warga enggan menggunakannya karena cuaca sering hujan. "Toilet berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat," kata Atsushi Kato, pemimpin Japan Toilet Labo, lembaga nirlaba yang membantu warga yang terkena bencana.


Berita Terkait