logo alinea.id logo alinea.id

Kebakaran Hutan Amazon: Brasil tolak bantuan US$22 juta dari G7

Bantuan untuk menanggulangi kebakaran Hutan Amazon disepakati oleh para pemimpin G7 dalam KTT di Biarritz, Prancis, pada Senin (26/8).

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 27 Agst 2019 15:14 WIB
Kebakaran Hutan Amazon: Brasil tolak bantuan US$22 juta dari G7

Pemerintah Brasil mengatakan pihaknya menolak dana US$22 juta yang ditawarkan G7 untuk membantu memerangi kebakaran di hutan hujan Amazon.

"Kami menghargai tawaran tersebut, tapi mungkin dana itu lebih relevan digunakan untuk rebosiasi Eropa," tutur kepala staf Presiden Jair Bolsonaro, Onyx Lorenzoni, pada Selasa (27/8).

Bantuan untuk menanggulangi kebakaran Hutan Amazon disepakati oleh para pemimpin negara G7 dalam KTT di Biarritz, Prancis, pada Senin (26/8).

"Kita harus merespons panggilan darurat dari terbakarnya Hutan Amazon," kata Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang menjadi tuan rumah KTT G7, pada Senin.

Lorenzini mengolok Macron, menurutnya, Prancis tidak pantas menasihati Brasil soal kebakaran Hutan Amazon.

"Macron bahkan tidak dapat menghindari kebakaran di sebuah gereja yang merupakan situs warisan dunia. Dia ingin menggurui negara kami?," ujar Lorenzini, merujuk pada kobaran api yang melahap Katedral Notre Dame pada April.

Dia menegaskan bahwa Brasil merupakan negara demokratis dan independen, menyebut bahwa dana bantuan itu merupakan praktik kolonialis Macron.

Sebelumnya, Menteri Lingkungan Brasil Ricardo Salles menyebut bahwa negaranya menyambut baik dana bantuan G7. Namun, setelah pertemuan antara Bolsonaro dan para menterinya, pemerintah mengubah keputusan mereka.

Sponsored

Para ahli mengatakan, sebagian besar kebakaran disebabkan oleh petani atau peternak yang ingin membuka lahan pertanian.

Pengumuman dana bantuan US$22 juta itu dianggap sebagai hasil paling konkret dari KTT G7. Namun, banyak kelompok pro-lingkungan yang berpendapat bahwa dana itu tidak memadai dan negara G7 gagal membahas masalah utama, yakni deforestasi untuk bertani atau beternak.

"Dana US$22 juta sangat tidak memadai. Selain itu, krisis di Hutan Amazon secara langsung terkait dengan konsumsi daging dan susu yang berlebihan di Inggris dan di negara-negara G7 lainnya," ujar perwakilan Greenpeace Inggris, Richard George.

Ketegangan antara Prancis dan Brasil meningkat setelah Macron mencuit bahwa kebakaran Hutan Amazon merupakan krisis internasional dan perlu menjadi prioritas utama KTT G7. Bolsonaro menanggapinya dengan mengatakan bahwa Macron memiliki mentalitas penjajah.

Perselisihan diplomatik antara pemimpin kedua kepala negara memanas setelah Macron mengecam apa yang disebutnya sebagai komentar tidak sopan oleh Bolsonaro tentang istrinya, Brigitte.

"Dia telah membuat beberapa komentar yang sangat kasar tentang istri saya," kata Macron dalam konferensi pers pada Senin. "Ini menyedihkan baginya dan bagi warga Brasil."

Kebakaran meluas

Citra satelit menunjukkan bahwa kebakaran Hutan Amazon telah merambat ke wilayah perbatasan antara Brasil, Bolivia, dan Paraguay selama sepekan terakhir.

"Api kini bergerak ke arah barat daya, memasuki wilayah Paraguay," kata seorang peneliti, Iban Ameztoy.

Perubahan arah angin menyebabkan api yang berada di wilayah Bolivia memasuki cagar alam Three Giants di Paraguay. Wilayah itu merupakan bagian dari Pantanal Paraguay, area yang meliputi lahan basah tropis terbesar di dunia.

Di Brasil, kebakaran Hutan Amazon telah berdampak pada tujuh negara bagian. Kementerian Pertahanan menyatakan bahwa pihaknya telah mengerahkan 44.000 personel militer untuk membantu tujuh negara bagian itu. Pemerintah menggelontorkan dana sebesar US$9 juta untuk melaksanakan operasi tersebut.

Dari Januari hingga Agustus, Brasil mencatat ada 71.497 kebakaran di Hutan Amazon. Angka itu merupakan jumlah tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.

Presiden Bolivia Evo Morales mengatakan dia menyambut bantuan internasional untuk memerangi kebakaran di wilayah Chiquitania yang berbatasan dengan Brasil dan Paraguay.

"Saya menyambut baik kerja sama dari organisasi atau otoritas internasional mana pun," kata Morales dalam konferensi persnya. (The Guardian, France24 dan Euro News)