logo alinea.id logo alinea.id

Kian terpuruk, Presiden Venezuela umumkan pembagian jatah listrik

Tidak hanya krisis listrik, Venezuela juga tengah dilanda krisis air.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Senin, 01 Apr 2019 11:24 WIB
Kian terpuruk, Presiden Venezuela umumkan pembagian jatah listrik

Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengumumkan pembagian jatah listrik selama 30 hari pada Minggu (31/4). Itu terjadi setelah pemerintahannya menyatakan pengurangan jam kerja dan penutupan sekolah menyusul pemadaman listrik besar-besaran di negara itu.

Langkah-langkah tersebut merupakan pengakuan yang tegas oleh pemerintah bahwa tidak ada listrik yang cukup untuk digunakan. Selama ini, pemerintah Maduro menuding pemadaman listrik bergilir yang dimulai pada 7 Maret dan berlanjut pada 25 Maret dipicu oleh sabotase.

Selain listrik, negeri kaya minyak itu juga mengalami krisis air.

Berbicara di televisi pemerintah, Maduro mengatakan bahwa dia telah menyetujui rencana 30 hari untuk membagikan jatah listrik. Di lain sisi, dia juga menjamin ketersediaan air bersih.

Namun, dia tidak merinci lebih lanjut tentang bagaimana rencana itu akan bekerja. 

Infrastruktur yang lumpuh, dengan sedikit investasi dalam jaringan listrik serta pemeliharaan yang buruk telah berkontribusi dalam krisis listrik yang melanda Venezuela.

Krisis ekonomi yang mendalam telah membuat Venezuela jatuh ke tingkat inflasi yang mengerikan dan sekitar 25.000 pakar kelistrikan telah meninggalkan itu. Mereka adalah bagian dari sekitar 2,7 juta rakyat Venezuela yang bermigrasi sejak 2015. Krisis listrik pun sulit diprediksi kapan akan berakhir.

Sebelumnya, pada Minggu pihak berwenang juga mengumumkan langkah-langkah lain sebagai dampak dari krisis listrik.

Sponsored

"Untuk mencapai konsistensi dalam penyediaan listrik, pemerintah Bolivarian memutuskan untuk mempertahankan penangguhan kegiatan sekolah dan menetapkan jam kerja hingga pukul 14.00 di lembaga-lembaga publik dan swasta," kata Menteri Komunikasi Jorge Rodriguez.

Tanpa listrik, stasiun pompa tidak dapat bekerja sehingga layanan air terbatas. Lampu jalan dan lampu lalu lintas padam, SPBU tidak berfungsi, dan ponsel serta layanan internet juga mati.

"Ini akan berlanjut, situasinya sangat serius. Akan ada lebih banyak pemadaman dan penjatahan," ungkap Winton Cabas, presiden asosiasi Teknik Elektro dan Mekanik. "Seluruh jaringan listrik bahkan hampir tidak menghasilkan antara 5.500 dan 6.000 megawatt, padahal mereka memiliki kapasitas untuk menghasilkan 34.000 megawatt."

Siapa yang bertanggung jawab?

Pemerintahan Maduro menyalahkan teroris atas dugaan serangan yang merusak pembangkit listrik tenaga air Guri, yang menghasilkan 80% listrik Venezuela.

PLTA Guri, bagaimanapun, sudah menunjukkan tanda-tanda bermasalah. Pada 2010, presiden saat itu Hugo Chavez menuturkan bahwa listrik akan dijatah di sejumlah negara bagian karena rendahnya debit air di bendungan Guri menyusul kekeringan yang terjadi.

Jose Aguilar, seorang konsultan Venezuela yang tinggal di AS, mengatakan bahwa krisis listrik terperosok kian dalam.

"Selama 20 tahun terakhir, infrastruktur tidak dipelihara dan rencana untuk upgrade-nya telah ditunda," jelas Aguilar.

Kondisi tersebut diperparah dengan deprofesionalisasi sektor swasta pada 2007, memicu loyalis pro-pemerintah mengambil posisi sebagai manajer dan insinyur.

Pemadaman listrik telah memperburuk kondisi ekonomi dan kehidupan di Venezuela yang didera persoalan di berbagai lini, termasuk pertikaian politik antara Presiden Maduro dan pemimpin oposisi yang telah mengklaim sebagai presiden sementara, Juan Guaido. Sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan sekutunya telah mengakui Guaido sebagai presiden sementara Venezuela.

Maduro, menyebut Guaido sebagai boneka AS, yang berusaha memaksanya lengser. Washington sendiri telah mengenakan sanksi yang melumpuhkan terhadap pemerintahan Maduro dalam upaya menjatuhkannya, namun dia bertahan sebagian besar berkat kesetiaan yang berkelanjutan dari petinggi militer.

Kemarin, sejumlah warga yang marah soal pemadaman listrik menggelar unjuk rasa. Menurut sejumlah pendemo dan LSM HAM, mereka diserang oleh colectivos, pasukan pro-pemerintahan yang digambarkan oleh oposisi sebagai penjahat paramiliter bersenjata.

Maduro telah memberi colectivos lampu hijau untuk meredam para pendemo yang dia gambarkan sebagai gerombolan perusuh yang bertujuan menggulingkannya dari kekuasaan.

Joaquin Rodriguez, seorang pengacara berusia 54 tahun, yang ikut berdemonstrasi mengatakan, "Pemadaman listrik skala nasional memengaruhi kualitas hidup kami. Kami tidak punya air, tidak ada penerangan, akses internet, dan bahkan ponsel tidak bisa berfungsi ... Ini jauh lebih buruk dari yang bisa kami bayangkan." (AFP dan Reuters)