sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Raja Swedia akui negaranya gagal taklukan Covid-19

Tercatat ada 350.000 kasus terkonfirmasi dan lebih dari 7.800 fatalitas di Swedia.

Cindy Victoria Dhirmanto
Cindy Victoria Dhirmanto Kamis, 17 Des 2020 22:57 WIB
Raja Swedia akui negaranya gagal taklukan Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Raja Swedia, Carl XVI Gustaf, menilai, tahun 2020 sebagai tahun yang "mengerikan" dan mengatakan strategi nasional menghadapi pandemi Covid-19 telah gagal. Pernyataan tersebut disampaikan dalam program tahunan televisi yang mengulas keluarga kerajaan.

Swedia menuai dikritik karena pendekatannya yang tidak ortodoks dalam menangani pandemi mengingat lebih mengandalkan pedoman dan tak pernah memberlakukan karantina wilayah (lockdown) secara nasional. Tercatat telah terjadi 350.000 kasus terkonfirmasi dan lebih dari 7.800 kematian.

“Saya pikir, kami telah gagal. Sejumlah warga kami meninggal dan itu mengerikan," katanya dalam program tersebut. "Orang-orang Swedia telah sangat menderita dalam kondisi yang sulit. Orang berpikir tentang semua anggota keluarga yang kebetulan tidak dapat mengucapkan selamat tinggal kepada anggota keluarga mereka yang telah meninggal. Saya pikir, itu adalah pengalaman yang sulit dan traumatis untuk tidak dapat mengatakan sebuah selamat tinggal yang hangat."

Ketika ditanya apakah takut tertular Covid-19, Gustaf mengungkapkan, akhir-akhir ini terasa semakin jelas dan kian dekat. Namun, bukan itu yang diinginkannya.

Alih-alih mengandalkan sanksi hukum, Swedia justru mengimbau rasa tanggung jawab serta kewajiban sipil dan hanya mengeluarkan rekomendasi. Tidak ada sanksi jika diabaikan.

Swedia tidak pernah memberlakukan karantina wilayah secara nasional atau pemakaian masker. Bar dan restoran pun tetap diizinkan beroperasi.

Pada awal pekan ini, sekolah di seluruh wilayah Stockholm diminta beralih ke pembelajaran jarak jauh untuk anak usia 13-15 tahun. Langkah itu diumumkan merespons lonjakan kasus Covid-19 dan menjadi keputusan nasional.

Per Senin (14/12), rekomendasi jaga jarak sosial untuk periode Natal mulai berlaku. Kebijakan tersebut menggantikan pedoman khusus wilayah yang serupa.

Sponsored

Orang Swedia disarankan bertemu dengan maksimal delapan orang, berkumpul di luar ruangan jika memungkinkan dan menghindari bepergian dengan kereta atau bus. Larangan resmi pertemuan publik lebih dari delapan orang tetap berlaku. Ini memengaruhi acara, seperti konser, pertandingan olahraga, dan demonstrasi.

Pada November lalu, epidemiolog Swedia, Anders Tegnell, menjelaskan, strategi tersebut bergantung pada kombinasi tindakan hukum dan sukarela. Kepada BBC, dirinya mengatakan, “kombinasi yang kami yakini adalah yang terbaik” dalam konteks Swedia.

"Belum memungkinkan untuk mengatakan negara mana yang memiliki strategi yang tepat," ucapnya kala itu. Menurut laporan resmi yang dirilis awal pekan ini, strategi tersebut gagal dalam upayanya untuk melindungi para lansia di panti jompo, di mana pemerintah telah mengakui bertanggung jawab.

Lebih dari 90% fatalitas karena Covid-19 menimpa lansia, terutama berusia 70 tahun ke atas. Nyaris separuh dari total kematian itu, menurut pemerintah, terjadi di rumah perawatan.

Tegnell mengatakan, lembaganya (Badan Kesehatan Masyarakat Swedia) tidak bertanggung jawab untuk mengarahkan sistem perawatan lansia. Dia menambahkan, semua pemangku kepentingan yang diperlukan untuk membantu memperbaiki situasi guna memastikan para lansia tidak terinfeksi.

Dirinya pun sesumbar, Swedia menjadi lebih baik dalam melindungi orang tua dan tidak ada negara yang berhasil sepenuhnya di bidang itu. "Bahkan Jerman sedang terpukul keras sekarang," katanya kepada Radio Swedia, Rabu (16/12).

Meski demikian, Tegnell mengakui, kematian Covid-19 per kapita di Swedia tertinggi di dunia. Angkanya lebih tinggi dibandingkan gabungan negara-negara Nordik lainnya. Ini menimbulkan kecaman dari negara tetangga, Norwegia, Denmark, dan Finlandia.

Sementara, Perdana Menteri Swedia, Stefan Lofven, menilai, banyak ahli telah meremehkan gelombang kedua. “Saya pikir, sebagian besar dalam profesi tidak melihat gelombang masuk seperti itu. Malahan ada pembicaraan tentang klaster yang berbeda,” ujarnya dalam wawancara dengan Aftonbladet, Selasa (15/12).

Berita Lainnya