logo alinea.id logo alinea.id

Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Konflik keluarga berlatar belakang kehidupan di perkampungan Suku Baduy.

Fandy Hutari Armidis
Fandy Hutari | Armidis Sabtu, 25 Mei 2019 11:56 WIB
Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Nona (Lutesha) anak baru gede yang tak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, yang kerap bertengkar dan sudah bercerai. Nico (Baim Wong) ayah Nona kerap memeras Fatma (Laudya Cynthia Bella) ibu Nona, yang menjalankan usaha katering.

Nona punya dunia sendiri, ia lari dari kenyataan melihat keluarga yang berantakan. Remaja tanggung ini digambarkan di awal film berada di dalam sebuah tempat hiburan malam dan pulang mabuk berat.

Begitu gambaran awal film Ambu dibuka. Perputaran adegan membuat penonton terkejut. Usaha katering Fatma bangkrut, salah satunya karena terus diperas Nico. Ia lantas menjual mobil dan rumahnya untuk pergi ke suatu tempat di Banten, yakni perkampungan Suku Baduy.

Cinta terlarang melahirkan prahara

Ketika Fatma dan Nona sampai di perkampungan Suku Baduy. /Youtube.com

Di perkampungan Suku Baduy inilah kisah film sesungguhnya dimulai. Fatma pulang kampung. Ia sesungguhnya bagian dari Suku Baduy, yang sudah 16 tahun meninggalkan kampung halamannya untuk menikah dengan seorang mahasiswa yang berasal dari Jakarta, Nico.

Ambu Misnah (Widyawati) tak merestui pernikahan tersebut. Namun, Fatma melawan dan kawin lari dengan Nico. Maksud hati ingin berdamai dengan Ambu Misnah—ibu dari Fatma—Fatma dan Nona malah mendapat perlakuan yang kurang ramah.

Sesuai aturan adat, sebenarnya Fatma sudah tak lagi dianggap sebagai bagian dari suku, karena sudah lama minggat. Bila ingin kembali lagi hidup di kampung halamannya, Fatma harus menerima sanksi dan upacara adat terlebih dahulu.

Sponsored

Akan tetapi, Ambu Misnah menerima Fatma dan Nona menginap di rumahnya, dengan status sebagai tamu. Konflik antaranak (Fatma) dan ibu (Ambu Misnah), ibu (Fatma) dan anak (Nona), dan cucu (Nona) dan nenek (Ambu Misnah) terjadi selama film ini berjalan.

Ambu Misnah perlu waktu yang cukup panjang untuk menerima Fatma kembali sebagai anaknya, setelah sakit hati belasan tahun. Ada dua hal yang akhirnya meredakan ketegangan tiga generasi ini. Pertama, sakit kanker payudara Fatma. Kedua, kedatangan Nico yang mengamuk ingin mengajak Fatma dan Nona pulang ke Jakarta.

Widyawati (kiri),  Laudya Cynthia Bella (tengah), dan Lutesha (kanan) dalam sebuah adegan di film Ambu. /Youtube.com.

Perseteruan cucu-anak-nenek

Film Ambu adalah kisah konflik keluarga tiga generasi—ibu, anak, cucu. Sesederhana itu. Menariknya, tiga generasi ini mewakili zamannya, dan bergelut memegang prinsip masing-masing.

Ambu Misnah bisa dibilang mewakilkan generasi tua, yang setia memegang adat leluhur. Ia dibenturkan dengan dua generasi yang punya pandangan sangat jomplang.

Fatma mewakili generasi antara tua dan muda, atau apa yang dikemukakan pekerja sosial bernama Dorothy Miller pada 1981 sebagai generasi sandwich. Generasi ini masih sedikit terpengaruh tradisi, tetapi menerima arus perkembangan zaman. Mereka biasanya memenuhi kebutuhan finansial untuk dirinya, anak-anak, dan orang tuanya.

Sementara Nona mewakili generasi remaja masa kini, yang cenderung bebas, individualistis, hedon, dan kebarat-baratan. Penggambaran remaja zaman now ini terlihat jelas dalam diri Nona.

Sejatinya, film ini ialah peneguhan kasih sayang ibu kepada anak-anaknya. Bagaimana ibu masih bisa menerima anaknya, meski sudah membuat sakit hati. Lagu “Kasih Ibu” ciptaan Sm. Mochtar pun dinyanyikan teman pria Nona yang warga Baduy bernama Jaka (Andri Mashadi), kemudian dinyanyikan kembali oleh Nona, untuk mempertegas visi film ini.

Salah satu keindahan panorama di film Ambu. /Youtube.com

Menonton film arahan sutradara Farid Dermawan ini mirip menyaksikan fakta keseharian yang mudah kita temui. Pesannya tak sekadar memberi pelajaran soal menghormati orang tua, tetapi juga menampilkan sosok ibu yang sejati.

Sosok Baim Wong digambarkan sebagai karakter antagonis yang kasar, keras kepala, dan masa bodo. Ia memperlakukan Fatma dengan keras, bukan hanya dari lontaran verbal, tetapi juga tamparan.

Akan tetapi, bisa dibilang sosok Baim Wong yang berperan sebagai Nico, mantan suami Fatma, adalah tokoh kunci di film ini. Ia melahirkan prahara konflik ibu dan anak, sekaligus pula menjadi pintu terakhir kembalinya Fatma ke Ambu Misnah.

Di penghujung adegan, Nico tergopoh-gopoh menemui Fatma dan Nona di rumah Ambu Misnah. Ia meminta Fatma dan Nona kembali ke Jakarta. Namun, ia bertindak kasar kepada Fatma, sehingga memancing amarah Ambu Misnah yang ternyata sangat sayang kepada anak dan cucunya itu.

Sebagai seorang aktris senior, akting Widyawati patut diacungi jempol. Karakternya pas untuk memerankan tokoh Ambu Misnah yang sakit hati kepada anaknya.

Sepanjang durasi satu jam 58 menit, dialog mayoritas menggunakan bahasa Sunda, kecuali Nona yang memang lahir dan besar di Jakarta, bukan di perkampungan Baduy. Hanya Jaka yang sering menggunakan bahasa Indonesia, ketika bercakap-cakap dengan Nona.

Agak janggal, mengapa Jaka berbahasa Indonesia dengan lancar. Walau begitu, hal ini bisa dimaklumi, lantaran Jaka punya toko kecil di Baduy yang menjual pernak-pernik, tas, dan kain hasil kreasi warga Baduy. Bisa saja, ia kerap berinteraksi dengan wisatawan yang menggunakan bahasa Indonesia, yang berkunjung ke desanya itu.

Ambu adalah film Indonesia pertama yang menampilkan kehidupan Suku Baduy. Selain menampilkan panorama alam yang memukau di perkampungan Suku Baduy, seperti air terjun, sungai, dan hutan, film ini pun memperkenalkan kita kepada aturan adat yang dipegang teguh masyarakat Baduy.

Misalnya saja, sebuah upacara menerima Fatma dan Nona menjadi warga Baduy. Upacara ini ditampilkan dengan warga yang melingkar, lalu Fatma, Nona, dan para tetua adat di dalam lingkaran tersebut. Mereka lantas mencium tangan masing-masing tetua adat.

Ada pula jargon warga Baduy yang dipegang teguh, yakni gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak. Tilu sapamilu, dua sakarupa, hiji eta-eta keneh (gunung jangan dihancurkan, lembah jangan dirusak. Tiga ikut, dua sama, satu itu-itu juga). Ungkapan ini dilontarkan dua kali di dalam film oleh Jaka (Andri Mashadi) dan Hapsa (Endhita).

starstarstarstarstar3

Konflik berjalan dengan baik. Namun, sekilas masih terlihat seperti sinetron.