sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Tragedi Sulli, melawan komentar nyinyir netizen hingga depresi

Artis Korea Sulli bunuh diri diduga akibat perundungan di media sosial. Bagaimana menghadapi komentar negatif agar tak memicu depresi?

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Selasa, 15 Okt 2019 19:57 WIB
Tragedi Sulli, melawan komentar nyinyir netizen hingga depresi

Artis dan penyanyi Korea Choi Ji-rin atau atau yang lebih dikenal dengan Sulli ditemukan meninggal dunia di rumahnya, Senin (14/10). Sulli yang merupakan mantan personel girl band Korea f(x) dan cameo serial drama Korea Hotel del Luna itu diduga menggantung diri akibat depresi berat yang dialaminya.

Kabar meninggalnya Sulli sempat menjadi trending topic di Twitter. Hingga Senin (14/10) pukul 21.17 WIB, terdapat lebih dari 2 juta cuitan tentang Sulli, diikuti kalimat Rest In Peace sebanyak 498.000 cuitan. Sebagian ungkapan duka dilayangkan oleh para fansnya.

Sejumlah kecaman dari akun-akun penggemar Korean-pop atas budaya “toxic fans” bermunculan menyusul meninggalnya Sulli. Pasalnya, para haters berulang kali mengunggah komentar miring yang menjadikan Sulli sebagai sasaran. Mulai dari hubungannya saat masih berkencan dengan rapper Choiza hingga keputusannya untuk tak mengenakan bra dalam sejumlah foto. Aksi nyinyir warganet itu ditengarai memicu depresi sehingga Sulli lalu bunuh diri.

Perisakan dalam media sosial (bullying online) dari publik atas unggahan-unggahan Sulli juga terkuak dari siaran langsung yang dilakukan Sulli lewat akun Instagramnya beberapa hari sebelum dia tewas.

Terkait postingan nyinyir netizen kepadanya, melalui live streaming itu, sambil tersenyum kecil Sulli berkata, “Aku bukan orang jahat. Kenapa kalian berbicara jelek tentang aku? Beri tahu aku satu hal yang membuatku pantas diperlakukan seperti ini.”

Pada 2018 lalu, penyanyi dan aktris cantik ini mengakui sedang berjuang melawan penyakit mental panic disorder dan fobia sosial. Walau begitu, dalam beberapa foto pribadi yang diunggah di Instagram, Sulli tampak tersenyum seperti tak menunjukkan gejala depresi apa pun.

Depresi akibat media sosial

Psikolog Ayoe Sutomo memandang kerentanan dari potensi depresi dapat mengancam setiap pengguna media sosial, terlebih bila terlalu intens menggunakannya. Karena itu, Ayoe mengatakan, penggunaan media sosial perlu disikapi dengan bijak agar tak terpapar dampak buruknya.

Sponsored

“Jangan sampai hanya sekadar iseng atau kesepian, lalu menggunakan media sosial. Itu bukan solusi, malah bisa berpotensi memicu depresi,” ucap Ayoe, ketika dihubungi Selasa (15/10).

Dalam kasus yang terjadi pada Sulli, Ayoe mengamati kerentanan gangguan psikologis dapat dialami oleh siapa saja, tak mengenal batasan usia atau profesi. Hal ini lantaran setiap orang punya tingkat kerentanan berbeda-beda terhadap rangsangan tertentu yang berdampak psikologis.

Meski demikian, dia menilai, depresi berat yang dialami Sulli terkait kondisi prasyarat umum yang melingkupi tokoh publik.

“Umumnya public figure memiliki ruang privasi yang sangat sedikit. Maka risiko atas banyaknya komentar, baik positif maupun negatif, terhadap dirinya menjadi sangat besar,” kata Ayoe.

Menurut Ayoe, komentar pengguna media sosial yang dengan mudah diunggah sangat sulit untuk dikontrol isi dan penyebarannya. Akibatnya, komentar-komentar negatif pun dapat dengan cepat mengganggu, bahkan menyinggung tokoh-tokoh publik.

Pada gilirannya, Ayoe menambahkan, kondisi-kondisi psikologis setiap individu sangat menentukan seberapa besar ujaran mencela menyakiti perasaannya. Selain stres, dalam waktu lama beban psikologis itu akan meningkat menjadi depresi.

“Untuk individu yang memiliki tendensi permasalahan psikologis sangat mungkin ujaran kebencian kemudian membuat permasalahannya semakin parah,” ucap dia.

Bijak mengomentari dan merespons komentar

Kerentanan dari potensi depresi dapat mengancam setiap pengguna media sosial, terlebih bila terlalu intens menggunakannya. / Ilustrasi: Pixabay

Ayoe mengingatkan pentingnya bersikap bijak dalam menggunakan media sosial agar tak menjadi depresi. Cara pertama ialah mengambil waktu jeda sesekali untuk tidak mengecek media sosial, seperti Twitter, Instagram, dan sejenisnya. Hal ini penting untuk mengosongkan dan menjauhkan dari kebisingan postingan orang lain yang dirasa membuat sumpek pikiran.

“Jika dirasa terlalu ‘penuh’, perlu untuk take break sementara dari media sosial. Jadi, sejenak break dan log out pilihan yang baik,” tuturnya.

Langkah itu dinilai cukup efektif untuk meredam rangsangan ketidaknyamaan psikologis yang muncul ketika melihat unggahan orang lain. Alih-alih mengendalikan isi unggahan termasuk komentar dari orang lain, Ayoe menyebut sikap menahan diri lebih tepat.

“Akan sulit mengendalikan lingkungan. Lebih make sense kita sebagai pengguna mengendalikan respons kita terhadap setiap stimulus yang terpapar pada kita di media sosial,” ujarnya.

Aktris dan penyanyi Sita Nursanti merasa terkejut dengan peristiwa yang dialami Sulli. Dia masih tak percaya perisakan di media sosial berdampak fatal bagi hidup Sulli. Sita yang telah bermain dalam sejumlah film nasional dan moncer bersama grup penyanyi RSD, mengutarakan, media sosial ibarat halaman rumahnya yang mesti dijaga dari orang-orang atau tamu yang hendak berkunjung.

Tak jarang unggahannya di media sosial dikomentari negatif oleh netizen. Namun, dia mencoba bersikap bijak dengan memberi jeda untuk tak segera membalas komentar-komentar miring. Sebaliknya, Sita berusaha berpikir sejenak.

“Komentar ini maksudnya apa ya? Aku belajar untuk step back dan tenang dulu, rileks, lalu baru membaca lagi komentar itu. Selanjutnya aku memilih, mau membalas, mendiamkan saja, atau hapus komentar negatif itu,” kata Sita dihubungi Selasa (15/10).

“Kalau sudah dikasih tahu, tetapi masih mengganggu, tak ada salahnya kita usir juga. Yang paling ekstrem, ya aku akan mem-block akun orang itu,” ucap Sita menegaskan.

Sementara itu, komentar mencela tak jarang pula diterima Teuku Rifnu Wikana, salah satu aktor pemeran film Perempuan Tanah Jahanam. Baginya, bersikap reaktif terhadap komentar yang mengejek dan menjelek-jelekkan dirinya di medsos bisa berbahaya dalam rentang waktu yang panjang. Dia lantas menahan diri untuk meresponsnya dengan cara mengabaikan atau membalas menggunakan kata-kata tertentu yang bernada positif. Balasan ini pun dilakukannya hanya untuk komentar yang benar-benar menyinggung atau berkesan dalam baginya.

“Kata-kata yang akan kupakai kupilih betul. Kalau kubalas dengan emosi, itu akan enggak baik dan malah bakal menimbulkan perasaan dendam. Tapi kalau kubalas dengan kata-kata yang bikin dia (haters) berpikir, akan lebih baik, misalnya bila nanti suatu kali bertemu secara langsung,” tutur Rifnu dihubungi Selasa (15/10).

Bagi Rifnu, haters yang biasa mengomentari negatif postingannya seperti sengaja dihadirkan Tuhan untuk menguji mentalnya. Dia memilih lebih tak begitu ambil pusing atas komentar orang yang hanya bermaksud menyinggungnya, terlebih bila tidak dilandasi pendapat yang bernilai atau dapat dipertanggungjawabkan. Dalam memposting dan membalas suatu unggahan, Rifnu pun lebih berpikir kritis.

“Gue kalau posting sesuatu hanya kalau terdorong dari dalam hati. Begitu pun membalas komentar. Kalau enggak terlalu berkesan, cukup gue like saja,” kata dia.

Selain itu, Psikolog Ayoe juga menyarankan agar kita lebih bersikap empati dalam menggunakan media sosial.

“Selalu pikir ulang sebelum posting. Coba evaluasi, apabila saya mendapatkan unggahan atau komentar yang sama dengan yang akan kita tulis untuk orang tersebut, apa yang akan saya rasa,” ucap Ayoe.