sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Belajar daring penuh tantangan? Ini 5 solusi efektif dari psikolog

Dua tahun menerapkan sistem belajar daring selama pandemi Covid-19 tak lantas membuat semuanya menjadi mudah.

Nadia Lutfiana Mawarni
Nadia Lutfiana Mawarni Kamis, 07 Apr 2022 20:35 WIB
Belajar daring penuh tantangan? Ini 5 solusi efektif dari psikolog

Dua tahun menerapkan sistem belajar daring selama pandemi Covid-19 tak lantas membuat semuanya menjadi mudah.

Setidaknya terdapat tiga tantangan yang dirasakan oleh anak. Pertama, emosi dan motivasi menurun.

Pada awalnya, mungkin anak merasa senang karena tidak perlu bangun sepagi biasanya dan bebas dari kemacetan berangkat sekolah. Namun, lama-kelamaan mulai jenuh duduk di depan layar selama berjam-jam tanpa interaksi langsung dengan teman dan guru.

Tantangan kedua, yaitu terbatasnya durasi konsentrasi yang dimiliki anak. Anak SD kelas 1 hingga kelas 2 biasanya memiliki rentang konsentrasi selama 40 menit saja. Adapun kelas 3 ke atas memiliki rentang waktu konsentrasi 60 menit.

Ketiga, learning loss atau hilangnya pengetahuan dan kemampuan siswa akibat kendala teknis, seperti koneksi internet yang buruk maupun kurangnya pendampingan orang tua.

Lantas, bagaimana solusi yang bisa diupayakan orang tua untuk berbagai tantangan tersebut? Berikut tips dan trik seperti dikutip dari keterangan resmi platform edukasi Zenius.

Pengawasan dan bimbingan secara bergantian
Semenjak belajar daring, orang tua juga mengambil peran dalam mengawasi dan mendampingi anak belajar. Menurut psikolog anak dan keluarga, Samanta Elsener, penting bagi orang tua untuk mewujudkan pembelajaran yang bukan hanya seru, melainkan kontekstual.

Kesabaran lebih
Dalam kondisi belajar daring, anak rentan merasa jenuh sehingga orang tua perlu memberikan dukungan ekstra. Namun, orang tua juga harus tetap bersikap tegas dan membiasakan anak disiplin.

Sponsored

Penting pula menunjukkan bahwa orang tua mampu memahami perasaan anak. Gunakan kalimat yang sifatnya membangun serta menghindari kritikan yang dapat melukai perasaan anak.

"Orang tua harus bisa menahan diri. Memarahi anak dapat membuat motivasinya menurun drastis," pesan Samanta. 

Istirahat dan aktivitas menarik
Untuk menghadapi rasa jenuh dan frustasi anak yang harus duduk berjam-jam di depan layar, ada baiknya sesekali orang tua mengajak anak untuk melakukan aktivitas yang menarik ketika sedang istirahat atau hari libur.

Tentunya sesuaikan aktivitas tersebut dengan minat agar anak lebih bersemangat. Misalnya, sisipkan aktivitas olahraga atau bergerak ringan di sela-sela belajar. Bisa juga dengan mengajak anak melakukan aktivitas di luar pelajaran, seperti berkebun dan memasak.

Dengar dan tanggapi anak
Secara umum, terdapat dua macam motivasi belajar, yaitu motivasi belajar ekstrinsik dan intrinsik. Semua anak memerlukan keduanya.

Motivasi belajar intrinsik merujuk pada motivasi yang berasal dari dalam diri anak. Sementara itu, motivasi belajar ekstrinsik mengacu faktor dari luar, seperti peran orang tua.

Orang tua bisa bersikap sebagai teman pendengar bagi anak. Setelah anak belajar daring, tanyakanlah apa yang telah mereka pelajari, apa kesulitan yang mereka temui, atau hal apa yang menarik dari pembelajaran hari ini.

Cobalah untuk ikut penasaran dan benar-benar mendengarkan apa yang mereka ceritakan.

Selain itu, coba berikan pertanyaan yang sifatnya reflektif. Misalnya, mereka belajar bahwa air laut itu asin. Maka, Anda bisa coba bertanya, kenapa air laut asin? Ini dapat melatih rasa penasaran anak untuk terus berkembang.

Belajar rasa bermain
Dengan adanya keterbatasan konsentrasi serta kejenuhan yang dialami anak, penting untuk membuat kondisi belajar yang membuat anak merasa enjoy.

Samanta menyarankan, "Gimana memotivasi belajar anak? Ya, salah satunya yang bisa kita lakukan dengan memberikan pembelajaran yang fun, seperti bermain."

Berita Lainnya