logo alinea.id logo alinea.id

Hunter Killer, film perang-perangan yang ketinggalan zaman

Hunter Killer, layaknya film perang-perangan lainnya, membawa isu perang politik antarnegara.

Laila Ramdhini
Laila Ramdhini Sabtu, 03 Nov 2018 10:00 WIB
Hunter Killer, film perang-perangan yang ketinggalan zaman

Penggemar film perang ala Hollywood seperti saya mungkin tak akan puas saat menonton Hunter Killer. Film besutan Donovan Marsh ini punya kadar menegangkan cuma sedikit. Selebihnya, tak ada kebaruan dalam pengisahan. Apalagi dari segi teknis sinematografinya.

Joe Glass (Gerald Butler) memimpin pasukan angkatan laut Amerika Serikat dalam misi penyelamatan kapal selam milik Amerika Serikat. Kapal itu dikabarkan hilang di perairan Rusia. Glass membawa seluruh krunya dalam USS Arkansas, kapal selam dengan julukan “Hunter Killer”.

Kudeta Durov dan penyelamatan Presiden Rusia

Misi ini cukup menegangkan, karena masih segar soal isu perseteruan antara Amerika Serikat dan Rusia. Namun, Glass sendiri tak punya pengalaman sebagai kapten kapal militer. Meski begitu, dia berusaha meyakinkan semua pasukan dalam kapal yang dipimpinnya.

“Saya pernah bekerja di bagian manapun dalam kapal militer. Saya adalah kalian. Saya bisa bekerja lebih baik dari kalian. Tapi di sini, sekarang saya bertanggung jawab atas pekerjaan kalian. Maka lakukanlah yang terbaik,” katanya.

Dalam misi itu, mereka malah menemukan kapal selam milik Rusia yang tenggelam di dasar laut. Di kapal itu masih ada pasukan Rusia yang selamat. Salah satunya kapten kapal, Sergei Andropov (Michael Nyqvist).

Glass meminta anak buahnya menyelamatkan mereka. Sesampainya di kapal selam milik Amerika Serikat, Glass memutuskan menjadikan Andropov sebagai tahanan.

Sementara itu, pemimpin militer Amerika Serikat Marsekal John Fisk (Common) dan utusan Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat Jayne Norquist (Linda Cardellini) mengutus pasukan untuk memata-matai Rusia.

Sponsored

Dari tim yang dikomandani Bill Beaman (Toby Stephens), diketahui Menteri Pertahanan Rusia Dimitri Durov tengah melakukan kudeta terhadap Presiden Rusia Zakarin (Alexander Diachenko).

Andropov dan Glass bahu membahu menyelamatkan Presiden Rusia yang tersandera pasukan kudeta. (www.imdb.com).

Fisk dan Norquist lantas melaporkan kejadian tersebut kepada Presiden Amerika Serikat. Mereka berencana menculik Presiden Rusia.

Hal itu dilakukan, agar isu Perang Dunia III yang akan pecah antara Amerika dan Rusia bisa teredam. Menteri Pertahanan Amerika Serikat Charles Donnegan (Gary Oldman) sempat menolak ide gila tersebut. Namun, akhirnya presiden menyetujui ide penculikan Presiden Rusia.

Glass putar otak, ketika mendapatkan perintah masuk ke benteng pertahanan Rusia. Dia kemudian melobi Andropov agar mau mengawal USS Arkansas melewati perairan Rusia, yang sudah dipasang ranjau.

Andropov diyakinkan Glass jika kapalnya tertembak torpedo milik militer Rusia sendiri. Andropov pun luluh, setelah Glass memberitahu ada kudeta di Rusia.

Berkat petunjuk Andropov, USS Arkansas berhasil mendekat ke markas militer Rusia. Tujuannya, menjemput Beamen dan anak buahnya, serta Presiden Zakarin yang berhasil diculik mereka.

Seluruh misi ini berhasil. Zakarin pun sudah berada di dalam USS Arkansas. Militer Rusia yang ada di bawah kendali Durov lalu menurunkan sebuah kapal perang perusak untuk menghancurkan USS Arkansas.

Akan tetapi, Andropov yang punya awak setia di atas kapal Rusia itu berhasil membujuk mereka agar tak menghancurkan USS Arkansas. Presiden Rusia pun berhasil meyakinkan awak kapal penghancur itu, bila Durov telah melakukan kudeta.

Film perang serba tanggung

Hunter Killer, layaknya film perang-perangan lainnya, membawa isu perang politik antarnegara. Bila semua misi gagal, dipastikan Perang Dunia III pecah. Meski, hal itu tak sampai nalar saya. Bagaimana bisa penculikan seorang presiden bisa mencegah permusuhan antarnegara?

Film ini berusaha menampilkan diplomasi antarnegara dalam ruang yang sempit. Ada sejumlah adegan ikonik yang memperlihatkan hal ini.

Pertama, ketika Glass membujuk Andropov untuk menuntun USS Arkansas masuk ke wilayah Rusia. Glass meminta bantuan Andropov sebagai sesama pelaut, bukan dua pihak yang tengah berseteru.

Kedua, saat Beamen menginjak tanah Rusia dan menemukan ajudan Presiden Zakarin yang sekarat. Si ajudan akhirnya bahu-membahu membantu Beamen melakukan misinya. Meski terlihat aneh sang ajudan masih terlihat segar-bugar kala perang melawan pasukan di bawah kendali Durov. Padahal, perutnya sudah tertembak.

Ketiga, ketika Andropov dan Glass jabatan tangan di atas USS Arkansas, tanda perdamaian dua negara. Di sini juga diperlihatkan bagaimana karakter Andropov merupakan cermin dari Glass.

Salah seorang pasukan di bawah Bill Beaman, yang mencoba menculik Presiden Rusia. (www.imdb.com).

Hunter Killer cukup membuat saya menahan napas di beberapa adegan, seperti saat USS Arkansas menghindari ranjau menuju dermaga pertahanan Rusia. Namun, tak ada adegan perang senjata dari kapal-kapal raksasa militer dua negara. Semua digarap serba tanggung.

Film ini cuma menyuguhkan aksi USS Arkansas untuk menghindari ancaman misil dan torpedo musuh. Maka, tak salah kalau Glass menyebut kapal selam ini seperti ikan lele saat menenggelamkan diri ke dasar laut yang berlumpur, agar selamat dari bidikan Rusia.

Fakta menarik film Hunter Killer

Hunter Killer pun tak mampu memenuhi ekspektasi penonton. Film ini gagal memberi “tonjokan” untuk setiap adegan yang sudah klimaks. Misalnya, saat Durov memutuskan untuk menghancurkan kapal selam itu, USS Arkansas tidak juga melepaskan misilnya. Durov pun mati dengan mudah, saat misil dari kapal perusak Rusia menghantamnya.

Saya sepakat dengan kritik dari media-media asing terhadap film ini. Film perang yang notabene dibuat ketika kecanggihan teknologi berada di puncaknya, justru menghadirkan laga yang ketinggalan zaman. Tak salah bila disebut old fashion action movie.

Pearl Harbour dan Black Hawk Down rasanya lebih ciamik dibandingkan Hunter Killer, bila bertumpu pada film aksi dengan tokoh para anggota militer negara adidaya. Meskipun rilis pada 2001, kedua film tadi lebih menampilkan adegan laga yang baik.

3

Cukup menegangkan di beberapa adegan. Ceritanya dangkal, penokohan tidak kuat, teknis buruk, dan laga kurang apik.