Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dirinya menunda rencana serangan baru terhadap Iran setelah menerima permintaan dari para pemimpin negara-negara Teluk, seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Menurut Trump, keputusan tersebut diambil karena saat ini sedang berlangsung negosiasi serius terkait kesepakatan baru mengenai program nuklir Iran.
Seperti dikutip dari BBC, Rabu, (20/5), dalam pernyataannya di Truth Social, Trump menegaskan Amerika Serikat tetap siap melancarkan serangan skala penuh kapan saja apabila pembicaraan dengan Iran gagal mencapai hasil yang dianggap memuaskan. Ia juga kembali menekankan tuntutan utama AS, yakni tidak ada senjata nuklir untuk Iran.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya tekanan politik domestik terhadap Trump. Berdasarkan survei New York Times/Siena, sekitar 64% pemilih AS menilai keputusan untuk berperang dengan Iran merupakan langkah yang salah. Sementara itu, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Trump tercatat berada di angka 37%.
Ketegangan antara AS dan Iran memanas sejak 28 Februari, ketika pasukan AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran. Teheran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal ke sejumlah target AS dan Israel di kawasan Teluk.
Negara-negara Teluk dilaporkan khawatir apabila serangan baru AS benar-benar terjadi, Iran akan kembali menyerang fasilitas vital kawasan, seperti bandara, kilang petrokimia, hingga instalasi desalinasi air. Selain itu, muncul kekhawatiran terhadap stabilitas Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.
Iran disebut masih mempertahankan kontrol atas Selat Hormuz sebagai bentuk tekanan terhadap AS dan Israel. Situasi tersebut turut memicu lonjakan harga minyak global.
Di sisi lain, media Iran melaporkan komunikasi dengan AS melalui mediator dari Pakistan masih berlangsung. Iran juga dikabarkan meminta penghentian perang di seluruh front, pencabutan blokade pelabuhan Iran oleh AS, jaminan tidak ada serangan lanjutan, serta kompensasi atas kerusakan perang.
Sementara itu, AS disebut mengajukan sejumlah syarat, termasuk pembatasan fasilitas nuklir Iran dan pemindahan stok uranium dengan tingkat pengayaan tinggi ke Amerika Serikat.
Meski sebelumnya Trump menuntut penghentian total program nuklir Iran, informasi terbaru ia memberi sinyal dapat menerima penangguhan program tersebut selama 20 tahun. AS dan sekutunya menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, sedangkan Iran terus menegaskan program nuklirnya hanya ditujukan untuk kepentingan damai.