sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Kekacauan buku Meretas Sejarah Visual

Sebagai buku acuan bagi mahasiswa, Meretas Sejarah Visual banyak kelemahannya.

Anton Solihin
Anton Solihin Sabtu, 15 Sep 2018 10:00 WIB
Kekacauan buku Meretas Sejarah Visual
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 534.266
Dirawat 66.752
Meninggal 16.825
Sembuh 445.793

Buku Meretas Sejarah Visual (2015) menjadi rujukan bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran. Penulisnya Reiza D. Dienaputra, seorang Doktor dari Sekolah Pascasarjana Institut Teknologi Bandung (2011). Saat ini, dia adalah guru besar dan staf pengajar di Jurusan Ilmu Sejarah, Universitas Padjadjaran.

Buku ini memang memiliki tujuan mulia. Penulisnya menekankan, sumber sejarah tak hanya tulisan. Dia berharap, ilmu sejarah bisa mengikuti perkembangan zaman, menjadi relevan dan ramah teknologi. Dengan begitu, diharapkan menambah perspektif baru terhadap historiografi Indonesia.

Namun sayangnya, di sana-sini buku terbitan Balatin tersebut memiliki kelemahan. Baik yang sifatnya remeh-temeh, seperti estetika sampul hingga penulisan referensi. Penulisan referensi www.google.com, 16 Maret 2015 tentu sangat aneh. Di seluruh dunia, barangkali dalam sehari, ada setidaknya satu miliar orang yang masuk ke Google.

Dengan begitu, data apa yang mau diambil? Penulisnya siapa? Tahun berapa? Judulnya apa? Diambil dari situs apa? Diunggah atau dibaca kapan?

Meretas Sejarah Visual memberikan definisi yang luas, sayangnya isi buku tak mencerminkan definisi yang luas itu. Penulisnya mendefinisikan sejarah visual sebagai sejarah yang dapat dilihat dengan indera penglihatan atau peristiwa-peristiwa sejarah yang dapat dilihat dengan mata, yang menempatkan manusia sebagai aktor sejarah […] dapat dipahami sebagai kegiatan pembuatan sumber visual, sebagai metode penelitian sejarah dan sebagai produk rekonstruksi sejarah dari peristiwa sejarah menjadi sebuah kisah (Dienaputra, 2015: 12).

Padahal, dengan definisi seluas itu, si penulis seharusnya mampu mempelajari berbagai fenomena hingga jauh ke belakang, ke masa yang amat lampau, peradaban manusia. Bahkan, hingga ke sejarah alam semesta setelah peristiwa Big Bang terjadi (13,8 gya).

Tanpa adanya hal tersebut, pembaca tentu akan kebingungan memilih data yang bisa masuk ke dalam fenomena sejarah visual. Apakah dengan munculnya mata biologis sebagai alat utama—selain cahaya tentunya—penglihatan masuk dalam sejarah visual? Bila masuk, tentunya sejarah visual dapat ditelusuri sampai pada munculnya mata dari “common genetic ancestry” pada era Kambrium (Gehring, 1998: 197-209). Dan bila tidak, mengapa? Tentunya definisi akan sangat membantu.

Dengan judul Meretas Sejarah Visual, secara sekilas para pembaca mengharapkan adanya penelusuran terhadap masa lalu, baik itu berupa kronologi ataupun kapan awal munculnya visualisasi. Kronologi dan penelusuran sejarah yang juga absen dalam buku ini, menyebabkan tulisan yang hadir sangat ahistoris.

Sponsored

Disebut ahistoris, karena tidak jelas penyusunan datanya, termasuk kronologi, sehingga hasilnya menjadi acak-acakan. Apakah penjelasan dalam buku ini tanpa kronologi yang jelas? Soal itu bisa dilihat pada hubungan antarkonsep yang ahistoris, serta bisa dijelaskan dari contoh-contoh yang asal comot.

Buku Meretas Sejarah Visual banyak kelemahannya (Dokumentasi Anton Solihin).

Gambar bergerak, tidak bergerak, dan Raden Saleh

Penulis memberikan definisi, “Gambar tidak bergerak sebagai salah satu bentuk sumber visual, berupa foto, lukisan, atau peta.” (Dienaputra, 2015: 28). Inkonsistensi bisa dilihat dengan mudah pada buku ini.

Dalam halaman lainnya, dengan mengutip saja Lohanda (2011), si penulis menyarankan untuk mencari sumber visual tidak bergerak, yang berbentuk foto, poster, dan peta (Dienaputra, 2015: 27), dan sumber visual berupa gambar tidak bergerak, yakni koleksi kartografik, arsitektural, gambar, poster, dan sejenisnya (Lohanda, 2011 dalam Dienaputra (2015: 45)). Apa gerangan yang diinginkan si penulis dengan pernyataan yang kacau ini?

Diulangi kembali di sini, terkait permasalahan sumber visual tidak bergerak yang menurut si penulis adalah foto, lukisan, peta? Lalu bagaimana menjelaskan visual tidak bergerak lainnya, seperti komik, litografi, sketsa, etsa, poster, perangko, kartun, batik, karikatur, relief, mural, pamflet, piagam, grafiti, dan sebagainya.

Contoh gampang saja, buku-buku yang dipublikasikan di masa sebelum buku ini terbit, di antaranya riset unik mendalaman dan visi pakar semiotika Umberto Eco berjudul On Beauty (2004) dan On Ugliness (2007), atau kajian mengenai komik, yang dapat menggambarkan kajian visual bisa begitu luas perspektifnya, tidak sekadar foto, lukisan, dan peta.

Pembahasan khusus mengenai Raden Saleh juga lucu, aneh, dan mengherankan. Sebagai Doktor lulusan Pascasarjana FSRD ITB, sangat gegabah dan tanpa dasar membuat pernyataan Raden Saleh pemula sejarah visual untuk seni rupa di Indonesia.

Dinyatakan si penulis buku, "Adapun karya lukis tertua yang dibuat oleh orang Indonesia adalah lukisan-lukisan karya Raden Saleh." Lalu disertakan gambar-gambar dua halaman penuh berisi lukisan-lukisan Raden Saleh yang diambil dari Collectie Tropenmuseum (Dienaputra, 2015: 31, 32).

Untuk diingat, pertama, konsep Indonesia di abad Raden Saleh hidup sama sekali belum ada. Beliau seharusnya menyadari itu. Sebagai catatan, menyangkut Raden Saleh, para penulis spesialis sejarah seni rupa di Indonesia pun umumnya bicara hati-hati dan tidak asal klaim. Tidak ada satupun yang menyatakan dengan gegabah kalau Raden Saleh pelukis pertama Indonesia. Ambil contoh pernyataan berikut ini:

“Satu-satunya contoh pengaruh Barat yang tercatat sebelum awal abad ke-20, adalah lukisan Raden Saleh Syarif Bastaman.“ Selanjutnya dikatakan, “Raden Saleh juga dikenal sebagai orang pertama yang mempelajari teknik melukis Eropa.” (Miklouho-Maklai, 1998: 5).

Bagian mengenai Shoah Foundation dan genosida merupakan kumpulan pernyataan yang sungguh konyol. Kekacauan pemahaman, pengabaian, bahkan patut diduga si penulis tidak mengetahui semua konteks terkait permasalahan genosida.

Kutipan penjelasan Ariel Heryanto (2015) di bawah ini bisa mewakili atau merangkum konteks permasalahan tersebut: “Pembunuhan 1965-1966 merupakan dasar paling menentukan dari seluruh identitas dan definisi apapun tentang Indonesia, sampai sekarang. Dia bukan satu-satunya penyebab, tetapi induk dari berbagai penyebab lain, yang menjelaskan macam-macam, termasuk keuangan kita, tata-sosial kita, akademi kita, agama kita, moralitas kita, penjara kita!”

Apa itu film sejarah?

“Model selanjutnya sejarah visual dalam bentuk gambar bergerak adalah film sejarah. Film sejarah pada dasarnya merupakan hasil rekonstruksi peristiwa sejarah menjadi kisah sejarah yang disajikan dalam bentuk gambar bergerak.” (Dienaputra, 2015: 72).

“Film sejarah sebagai salah satu model rekonstruksi sejarah visual dengan demikian merupakan sebuah hasil rekonstruksi sejarah (visual) berbasiskan sumber visual (bergerak atau tidak bergerak) yang disajikan secara imajinatif (baik pelaku maupun tempat peristiwa) dalam bentuk gambar bergerak, baik berwarna maupun hitam putih. Hasil analisis atas fakta visual sebagian besar disajikan dalam bentuk rekayasa gambar bergerak dengan menggunakan multimedia, serta terkadang masih menggunakan teks tertulis untuk memberikan deskripsi atau eksplanasi atas gambar, bergerak maupun tidak bergerak, yang menjadi objek analisis di dalam film. Film sejarah dapat disajikan dalam bentuk film (non) animasi maupun animasi.” (Dienaputra, 2015: 72).

Klaim si penulis tentang film sejarah ini juga menarik untuk mengundang polemik. Apakah yang dimaksud film sejarah itu kisah film berdasar peristiwa sejarah, bila acuannya Tjoet Nja Dhien, Sang Pencerah, atau Sang Kiai. Apakah film propaganda bernuansa sejarah, bila acuannya Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Atau, film semacam Burgerkill (We Will Bleed)?

Hasil karya riset yang difilmkan, tentu ada storytelling-nya. Itu apabila film dipakai sebagai alat bercerita, bukan berekspresi. Cuma persoalannya, apa yang disebut film sejarah tidak pernah sesederhana itu. Kajian visual kaitan—apa yang disebut si penulis—film sejarah dengan model rekonstruksi seperti yang diinginkannya, bagaimana mengaplikasikannya?

Apa itu film sejarah? Apakah film sejarah harus rekaan atau fiksi yang mengacu suatu peristiwa sejarah tertentu? Mengaburkan pemahaman apa itu film sejarah dengan dokumenter sejarah misalnya, menarik untuk diskusi lebih lanjut. Apakah bila ada genre semacam itu, yakni film sejarah, berarti dokumenter bukan film sejarah? Memisahkan apa yang disebut si penulis film sejarah dengan dokumenter saja sudah persoalan yang ganjil.

Perlu dicatat, film seperti Sang Pencerah (2010) dan Sang Kiai (2013) hanya model film komersial, dengan sejarah sebagai barang dagangannya. Sulit dipahami, bagaimana film-film semacam ini dianggap si penulis sebagai film sejarah. Tentu saja ada film bagus yang dibuat dengan riset yang lumayan, seperti Tjoet Nja Dhien (1988) yang dibuat berdasar novel Szekely-Lulofs atau Lewat Djam Malam (1954). Tetapi sekali lagi, tidak bisa tiba-tiba mengklaim film ini dan itu sebagai film sejarah, tanpa penjelasan kronologis.

Sebagai tempat bercermin, si penulis harus memahami dulu konteks film semacam itu di dunia, sebelum berbicara konteks film yang sama di Indonesia. Si penulis juga perlu merujuk dulu sineas, lebih bagus lagi sekalian judul filmnya, yang membuat film berdasar peristiwa sejarah, yang bisa dibuat atas suatu skenario, dari novel atau cerita pendek. Film sejarah tidak selalu film itu bercerita mengenai sebuah peristiwa sejarah tertentu. Apalagi ditambah embel-embel film sejarah sebagai salah satu model rekonstruksi sejarah visual.

Dengan berbagai kerancuan isi buku ini, saya jadi bertanya, sebetulnya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat buku semacam ini? Apakah sejumlah kekeliruan dalam pembahasan di atas cuma kesalahan editorial?

*Anton Solihin, Penikmat film Schindler’s List.

Berita Lainnya