Kenapa pilih rebusan pembalut untuk mabuk?

Baru-baru ini ditemukan remaja mabuk yang menggunakan air rebusan pembalut di Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga Belitung Timur.

Kenapa pilih rebusan pembalut untuk mabuk?
Ilustrasi pembalut./ Istock

Psikolog dari Universitas Pancasila Maharani Ardi Putri mengatakan, ada sejumlah faktor yang mendorong remaja memilih pembalut untuk mabuk.

"Salah satunya kemudahan mendapatkan bahan dan akses informasi, seperti cara meracik yang didapat dari teman atau internet," ujarnya, Jumat (9/11).

Selain itu, remaja umumnya masih bergantung kepada orang tua, terutama masalah finansial. Hasrat mabuk yang terbentur keterbatasan dana membuat mereka berlari ke bahan alternatif yang lebih murah.

Remaja, imbuhnya, cenderung memiliki konformitas yang besar dengan peer group-nya. Artinya, dorongan untuk menyerupai kelompoknya sangat penting bagi mereka. Itulah sebabnya, remaja selalu memerhatikan teman sebaya dan berusaha mengikuti tren yang diterima pada kelompok yang ia inginkan.

Sayangnya, tantangan untuk merasakan sensasi, meracik, dan mendapatkan pujian dari peer group ini menurut Putri jarang diimbangi dengan kesadaran risiko. Sehingga, kendati bahan adiktif yang dicampurkan berbahaya, remaja tak akan ambil pusing.

Seperti yang pernah dituturkan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) BNN, Kombes Pol Sulistiandriatmoko sebelumnya, uji laboratorium terhadap air rebusan pembalut menemukan zat toksik berupa klorin. Zat ini berfungsi menjaga kehigienisan pembalut. Menurut Sulis, kandungan klorin memang dapat menyebabkan seseorang keracunan jika dikonsumsi.

Lantaran risiko keracunan tersebut, Putri mengimbau agar orang tua berperan aktif dalam upaya pencegahan maupun intervensi.

"Di rumah, sekolah dan masyarakat tentunya perlu secara terus menerus mengajak remaja untuk terbiasa berpikir kritis dan percaya diri. Remaja yang kritis diharapkan dapat membuat pertimbangan logis dalam mengambil keputusan. Kepercayaan diri dapat membantu remaja untuk tidak sekadar ikut-ikutan dengan temannya. Pun berani mempertahankan pendapat mereka," ungkap psikolog yang berpraktik di Yayasan Pulih itu (Ant).