logo alinea.id logo alinea.id

Komik digital sejarah untuk millennial

Komik literasi ini diharapkan dapat mengubah karakter generasi muda khususnya untuk selalu membaca hal-hal yang positif serta bermanfaat.

Hermansah
Hermansah Jumat, 19 Apr 2019 09:47 WIB
Komik digital sejarah untuk millennial

Generasi muda di era millennial masih minim pengetahuan serta keinginan untuk membaca sejarah perjuangan para pahlawan.

Sayangnya, buku-buku sejarah kurang diminati karena dianggap membosankan. Banyak yang berpikiran, membaca sejarah cuma membaca tanggal dan nama belaka. Itulah yang membuat membaca buku sejarah tidak disukai oleh sebagian besar generasi muda.

Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Jawa Timur bekerja sama dengan Pendidikan.id menerbitkan buku-buku digital sejarah yang dikemas menarik dalam bentuk komik.

Tiap komik mengangkat kisah satu-persatu pahlawan Indonesia dan cerita dibuat lebih menarik dengan bahasa yang ringan namun tetap tidak mengurangi alur cerita serta segala aspek informasi di dalamnya.

Perpaduan ini membuat komik sejarah yang diterbitkan oleh MGMP Sejarah Jawa Timur dan Pendidikan.id cocok dibaca anak segala usia, mulai dari SD hingga SMA. Tidak terlalu berat bagi anak usia SD dan tidak terlalu membosankan bagi anak usia SMA.

Salah satu judul komik digital yang telah diterbitkan berjudul Pejuang Emansipasi Perempuan (kisah RA Kartini). Pembuatan komik digital sejarah Pejuang Emansipasi Perempuan ini melibatkan berbagai sumber yang berpotensi di bidangnya, salah satunya ialah guru sejarah yang menjadi editor komik sehingga kredibilitas komik tetap terjamin meski sudah dimodifikasi, disingkat atau diilustrasikan dengan gambar.

Diharapkan setelah membaca dan mengenal sejarah perjuangan para pahlawan bangsa dapat membentuk karakter diri yang sesuai dengan karakter bangsanya karena sejarah merupakan cikal bakal, identitas dan karakter bangsa yang harus dihargai serta diteruskan semangat perjuangannya.

Menurut Ketua MGMP Sejarah Jawa Timur, Hermawan, salah satu tujuan dibuatnya komik sejarah ini ialah karena melihat rendahnya budaya literasi di Indonesia, bahkan beberapa orang masih belum mengerti makna literasi. "Orang Indonesia memang lebih terbiasa mendengar dan berbicara daripada berliterasi. Coba lihat saja, berapa waktu yang rata-rata orang habiskan untuk menonton televisi per hari? Berapa waktu yang digunakan untuk mengobrol? Bandingkan dengan sedikitnya waktu yang disisihkan untuk membaca," tutur dia dalam keterangan tertulisnya.

Sponsored

Komik literasi ini diharapkan dapat mengubah karakter generasi muda khususnya untuk selalu membaca hal-hal yang positif serta bermanfaat. Jika kebiasaan membaca ini diulang-ulang, Hermawan yakin dan percaya karakter masyarakat bangsa ini akan menjadi lebih baik. Hal Ini dikarenakan mereka mempunyai tradisi literasi yang kuat, ujarnya lagi.

21 April 2019 adalah saat yang tepat untuk mengingat kembali jasa-jasa para pahlawan khususnya RA Kartini yang dengan gigih memperjuangkan emansipasi wanita. Mengenang jasanya yang telah mengorbankan seluruh jiwa dan raganya untuk negeri kita khususnya untuk seluruh perempuan di Indonesia.

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Minggu, 26 Mei 2019 02:15 WIB
Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Sabtu, 25 Mei 2019 11:56 WIB