sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Konsumsi micin sesuai takaran tak berbahaya bagi kesehatan

Terdapat takaran ideal dalam mengonsumsi MSG. Jumlah konsumsi yang dianjurkan sebesar 10 miligram per kilogram berat tubuh.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Kamis, 06 Feb 2020 11:16 WIB
Konsumsi micin sesuai takaran tak berbahaya bagi kesehatan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Salah kaprah mengenai micin masih terjadi sampai saat ini. Mengonsumsi micin dianggap menciptakan generasi bodoh. Bahkan, micin dituding sebagai biang penyakit darah tinggi, penyebab kegemukan, dan sakit asma.

Salah persepsi di masyarakat luas itu diakui oleh Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) Profesor Nurpudji Astuti Taslim. Nurpudji menjelaskan, masih banyak kalangan yang beranggapan, mengonsumsi penyedap rasa bernama ilmiah monosodium glutamat atau MSG itu bisa berdampak buruk bagi kesehatan.

Padahal, kata Guru Besar Ilmu Gizi Universitas Hasanuddin Makassar itu, sejatinya mengonsumsi MSG tidak berbahaya bagi kesehatan tubuh. Asalkan, kata Nurpudji, dikonsumsi dalam takaran atau dosis yang sesuai.

"Penggunaan bumbu penyedap rasa tidak berbahaya bagi kesehatan selama penggunaannya dilakukan dengan bijak. Artinya (dikonsumsi) tidak berlebihan," kata Nurpudji dalam acara bertajuk "Penggunaan Bumbu Penyedap Rasa dengan Bijak Tidak Berbahaya Bagi Kesehatan" di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (5/2).

Sebagai bagian dari profesi kedokteran yang bertanggung jawab terhadap kesehatan warga, PDGKI merasa perlu untuk melakukan edukasi ke khalayak luas. Agar salah kaprah yang sudah telanjur dianggap sebagai kebenaran itu bisa diluruskan.

Terdapat takaran ideal dalam mengonsumsi MSG sebagai bahan penyedap rasa. Takaran biasanya menggunakan patokan berat badan. Nurpudji menerangkan, jumlah konsumsi yang dianjurkan sebesar 10 miligram per kilogram berat tubuh.

Ia mencontohkan seseorang dengan berat badan 60 kilogram. Takaran ideal konsumsi MSG orang tersebut sebesar 10 miligram per hari. "Cukup hanya setengah sendok teh," ucap dia.

Mengikuti pedoman ini, sejatinya mengonsumsi MSG setiap hari tidak masalah asal sesuai takaran. Menurut Anggota Kelompok Kerja Ahli Dewan Ketahananan Pangan ini, penggunaan bahan penyedap rasa juga tidak berdampak serius bagi orang sehat.

Sponsored

"Tetapi, kalau orang sakit semua harus dikurangi. Kalau dia sehat, no problem," jelas Nurpudji.

Di tempat yang sama, dokter dan ahli nutrisi, Maya Surjadjaja, menjelaskan, sesuai namanya MSG terbentuk dari glutamat (78,2%), natrium (12,2%), dan H2O (9,6%). Glutamat sendiri berfungsi sebagai penghubung otak ke seluruh jaringan syaraf dan pengendali fungsi tubuh.

Sejak berabad-abad lalu, kata Maya, MSG merupakan penyedap rasa alami yang diperoleh dari hasil pengolahan rumput laut. "Glutamat itu ada di alam. Glutamat ada di air susu ibu. Glutamat itu asam amino, anak-anaknya protein," kata Maya.

Kini, seiring berkembangnya teknologi, MSG dibuat dari proses fermentasi tepung yang pengolahannya mirip seperti membuat cuka, minuman anggur (wine) atau pun yoghurt. Ternyata, asam glutamat yang terkandung dalam produk-produk olahan seperti MSG tidak berbeda dengan asam glutamat di tubuh manusia dan dalam bahan-bahan makanan alami seperti keju dan tomat.

Soal adanya anak yang dalam pertumbuhannya ternyata bodoh atau otaknya lemot, kata Maya, bukan karena MSG. Bisa saja kebodohan itu dipengaruhi oleh faktor lain.

"MSG tidak berbahaya. Mesti dicek, anak jajan apa. Bukan hanya MSG. Jajanan lain kandungannya mesti dilihat. Selama ini MSG sudah jadi kambing hitam," kata dia.

Di Indonesia, pengaturan penggunaan MSG dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia yang diatur dalam peraturan Kepala BPOM RI NO. 23/2013. Kementerian Kesehatan RI melalui Peraturan Menteri Kesehatan No 033 Tahun 2012 juga mengizinkan konsumsi MSG maksimal 5 gram per hari. 

Berita Lainnya