sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Menelisik teknologi bilik steril Covid-19 berbentuk kabut

Teknologi ini memproses air yang diuapkan. Kemudian ditekan dengan membran yang membuatnya menjadi kabut.

Firda Cynthia
Firda Cynthia Selasa, 07 Jul 2020 09:46 WIB
Menelisik teknologi bilik steril Covid-19 berbentuk kabut
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 365.240
Dirawat 64.032
Meninggal 12.617
Sembuh 289.243

Untuk menghadapi pandemi Covid-19, haruslah dilakukan bersama-sama. Mulai dari pemerintah, swasta hingga masyarakat. Salah satunya dilakukan Rudy Sumardi, yang berhasil merakit bilik untuk mensterilkan tubuh dari Covid-19 tanpa membuat tubuh basah, melalui teknologi yang disebutnya Recovery Sistem Imun Korona alias RESIK.

Selang sebulan pandemi menyelimuti Tanah Air, beberapa tempat publik menyediakan ruang kecil untuk penyemprotan disinfektan. Saat memasuki bilik berlapis plastik, tubuh akan disemprot cairan kimia pembunuh Coronavirus selama beberapa detik. Selepas itu, tubuh akan basah. Selain itu, cairan disinfektan yang mengandung natrium hipoklorit itu dapat merusak kulit bila disemprot terlalu sering.

Melihat ini, Rudy tak diam. Ia mengadopsi dan memodifikasi teknologi dari Jerman. Ia kemudian memproduksi bilik untuk mensterilkan tubuh dari Coronavirus dengan semprotan dalam bentuk kabut.

Teknologi ini memproses air yang diuapkan. Kemudian ditekan dengan membran yang membuatnya menjadi kabut.  "Keluarnya kabut. Itu dingin kayak kalau kita lagi di gunung," ujar dia mendeskripsikan rakitan tangannya, saat dihubungi Alinea.id, Senin (6/7).

Hal itu belajar dari pengalaman sebelumnya saat memproduksi bilik disinfektan, tetapi masih dengan semprotan cairan. Menurutnya, orang merasa risih jika disemprot disinfektan berbentuk air. Sebab, akan membuat rambut dan baju menjadi basah. "Tak semua orang suka kalau seperti itu," kata dia.

Lantas ia menginisiasi produk home industry bilik steril Covid-19 berbentuk kabut ini. Ditambah, kabut ultra yang lembut tersebut mengandung ekstrak daun sirih. Ia memilih daun sirih karena sudah terbukti dapat membunuh bakteri dan virus mikro seperti Coronavirus.

"Kami gunakan cairan alami, bukan dari kimia. Kandungannya menggunakan ekstrak daun sirih. Itu sudah terbukti, banyak juga kan orang bikin itu (ekstrak daun sirih) buat hand sanitizer, tetapi ini kami bikin jadi uap," terang Rudy.

Selain kabut dengan ekstrak daun sirih, bilik disinfektan rakitan Rudy dilengkapi dengan uap ozon dan pancaran sinar ultraviolet. Tiap itemnya memiliki kegunaan yang berbeda.

Sponsored

Uap ozon yang berbentuk kabut dapat membunuh bakteri dan virus, sekaligus dapat membersihkan ruangan bilik agar tetap steril. Selain itu, pancaran ultraviolet mampu membunuh Coronavirus yang menempel pada baju dan benda-benda.

"Jadi ibaratnya, virusnya satu tetapi langsung dikeroyok nih pakai tiga item," ujarnya terkekeh.

Panjang bilik ini berukuran 1,40 meter, dengan tinggi 2,20 meter, dan lebarnya 1 meter. Bilik ini terbuat dari bahan stainless, bukan baja ringan atau besi biasa yang digunakan pada umumnya dalam bilik disinfektan. Selama satu bulan ia rakit teknologi ini dengan menggunakan alat dan material yang sepenuhnya lokal.

Teknologi bilik ini sekarang sudah diperbaharui dengan sistem absen online. Sehingga, alat langsung bekerja apabila ada karyawan kantor masuk kerja dan terintergrasi dengan sistem sensor wajah.

"Kalau dari luar (negeri) kan terlalu tinggi cost-nya. Makanya saat saya punya keahlian begitu, lalu saya coba bikin satu. Di luar negeri alat seperti ini yang teknologinya di bawah ini harganya Rp1,3 miliar. Ini aku hanya jual 30% saja," kata Rudy.

Bagi Rudy keahlian yang ia punya harus dapat berguna untuk terus melahirkan produk teknologi sehingga dapat diakses orang dengan harga yang lebih murah. 

"Pokoknya bisa membantu orang dulu dengan keahlian saya. Bilik ini menggunakan semprotan yang kandungannya aman, enggak bikin rusak kulit, enggak basah," pungkas Rudy.

Berita Lainnya