close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi vaksin AstraZeneca./Foto Pixabay.com
icon caption
Ilustrasi vaksin AstraZeneca./Foto Pixabay.com
Sosial dan Gaya Hidup
Selasa, 07 Mei 2024 20:31

Menyikapi efek samping langka vaksin AstraZeneca

Di Inggris, warga mengajukan class action terhadap AstraZeneca karena vaksinnya dianggap menyebabkan thrombosis with thrombocytopenia (TTS).
swipe

Ernando—bukan nama sebenarnya—mengaku pada pukul 02.00 WIB dini hari ia merasakan menggigil, pusing, dan tulang rusuk seperti ditusuk-tusuk, setelah mendapat suntikan vaksin Covid-19 AstraZeneca di daerah Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Kala itu, Juli 2021, ia mendapat dosis pertama vaksin tersebut.

“Mau duduk saja kayaknya susah dan paginya muntah,” ujar Ernando kepada Alinea.id, Senin (6/5).

“Akhirnya saya langsung dibawa ke rumah sakit.”

Ernando dirawat selama tiga hari di rumah sakit. Ia sempat melakukan pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI)—prosedur pemeriksaan medis untuk menampilkan citra dari struktur rangka tubuh atau organ dalam pasien—di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Mahar Mardjono Jakarta.

“Ternyata tidak ada apa-apa. Cuma ada indikasi pembekuan darah, kalau kata dokter,” tutur Ernando.

Karena sakit, Ernando tidak bisa bekerja dan beraktivitas normal hingga akhir 2022. “Jadi kurang lebih selama satu setengah tahun,” kata dia.

“Alhamdulillah, sudah lebih baik sekarang. Sudah normal lagi bekerja.”

Walau belum ada bukti indikasi pembekuan darah yang diderita Ernando karena vaksin AstraZeneca, namun beberapa waktu belakangan vaksin Covid-19 yang dikembangkan Oxford University itu tengah jadi sorotan. Dalam dokumen pengadilan tinggi di Inggris terhadap gugatan class action pada Februari lalu, pihak AstraZeneca mengakui vaksinnya dapat menyebabkan efek samping yang jarang terjadi.

Dikutip dari The Telegraph, kasus efek samping vaksin AstraZeneca ini terkuak usai sebanyak 51 orang di Inggris mengajukan class action—meminta ganti rugi mencapai 100 juta poundsterling—ke pengadilan tinggi karena vaksin itu diduga menyebabkan kematian dan sakit serius.

Kasus pertama diajukan tahun lalu oleh Jamie Scott, yang mengalami pembekuan darah di otak, yang membuatnya tak bisa bekerja, setelah ia menerima vaksin AstraZeneca pada April 2021. Vaksin itu diduga menyebabkan thrombosis with thrombocytopenia syndrome (TTS) atau trombosis dengan sindrom trombositopenia.

Menurut World Health Organization, TTS telah muncul sebagai efek samping baru setelah individu menerima vaksin berbasis vektor adenovirus non-replikasi Covid-19, misalnya vaksin AstraZeneca dan Johnson & Johnson.

TTS menyebabkan orang mengalami pembekuan darah dan jumlah trombosit darah yang rendah. The Telegraph menulis, para ilmuwan pertama kali mengidentifikasi hubungan antara vaksin dan penyakit baru yang disebut vaccine-induced immune thrombotic thrombocytopenia (VITT) atau trombositopenia dan trombosis imun yang diinduksi vaksin pada awal Maret 2021. Tak lama setelah peluncuran vaksin Covid-19 dimulai.

“Pengacara penggugat berpendapat bahwa VITT adalah bagian dari TTS, meskipun AstraZeneca tampaknya tidak mengakui istilah tersebut,” tulis The Telegraph.

Dalam “Guidance for clinical case management of thrombosis with thrombocytopenia syndrome (TTS) following vaccination to prevent coronavirus disease (Covid-19)”, WHO menyebut, insiden TTS setelah vaksinasi terjadi antara 0,5 hingga 6,8 kasus per 100.000 penerima vaksin. Tingkat kejadiannya berbeda, tergantung jenis vaksin, usia, jenis kelamin, distribusi geografis, dan interpretasi definisi kasus.

“Angka observasi dan perkiraan lebih tinggi setelah vaksinasi dengan vaksin ChAdOx-1 (vektor adenovirus) pada perempuan, pada pasien berusia kurang dari 60 tahun dan setelah dosis pertama,” tulis WHO.

“Sebagian besar kasus TTS dilaporkan dalam waktu tiga hingga 30 hari setelah vaksinasi.”

Medical News Today menulis, TTS merupakan komplikasi langka terkait dengan vaksin Covid-19. Menurut American Society of Hematology (ASH), vaksin AstraZeneca dan Johnson & Johnson lebih mungkin menyebabkan sindrom ini, dibandingkan vaksin mRNA Moderna atau Pfizer.

Seseorang yang mengidap TTS bakal mengalami pembekuan darah dan jumlah trombosit yang sangat rendah. Gejalanya, disebut Medical News Today, antara lain nyeri dada, sakit kepala yang berlangsung lebih dari 48 jam setelah vaksinasi, mual dan muntah, penglihatan kabur, kantuk, kejang atau kebingungan, kesulitan berbicara, kesulitan bernapas, bercak darah kecil di bawah kulit (petechiae), sakit perut terus menerus, dan bengkak di kaki.

Bagaimana menyikapinya?

Dikutip dari situs Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), emergency use authorization (EUA) vaksin Covid-19 AstraZeneca disetujui BPOM pada 22 Februari 2021. Lebih dari 73 juta dosis telah digunakan di Indonesia.

Salah satu hasil kajian BPOM, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Komite Nasional Pengkajian dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (Komnas PP KIPI) terhadap surveilans aktif dan rutin terkait keamanan vaksin AstraZeneca menunjukkan, hingga April 2024 tak ada laporan kejadian terkait keamanan termasuk TTS di Indonesia. BPOM memastikan, vaksin AstraZeneca tak digunakan lagi dalam program vaksinasi dan tak beredar lagi di Indonesia.

Dosen senior bidang kesehatan masyarakat di University of Derby, Inggris, Dono Widiatmoko mengatakan, kasus tuduhan vaksin Covid-19 yang dikeluarkan AstraZeneca menyebabkan TTS pada sebagian penerimanya masih berlangsung di pengadilan di Inggris. Maka, belum ada simpulan yang pasti dari tuduhan tersebut.

“Sejauh ini, saya belum melihat ada laporan yang menyebutkan bahwa Indonesia memiliki kejadian yang serupa,” kata Dono, Senin (6/5).

Efek samping yang tergolong langka itu, kata Dono, bukan hal baru. Sebab, sejak pertengahan 2021 pihak Medicines and Healthcare products Regulatory Agency (MHRA)—BPOM-nya Inggris—sudah mengidentifikasi adanya kemungkinan hubungan antara vaksin tersebut dengan TTS.

"Semua jenis obat atau vaksin mempunyai risiko efek samping," ujar Dono, Senin (6/5).

Karenanya, penggunaan jenis obat atau vaksin harus dilakukan sesuai dengan peruntukkan, dosis, cara pemakaian, penyakit penyerta, interaksi dengan obat lain, serta memperhatikan potensi terjadinya efek yang tidak diharapkan.

Sementara itu, epidemiolog dari Griffith University, Australia, Dicky Budiman menjelaskan, meski AstraZeneca termasuk vaksin Covid-19 yang pertama diproduksi, tetapi strategi komunikasinya buruk. Pihak AstraZeneca, kata Dicky, biasanya menyampaikan data tidak transparan karena beberapa data ini hanya diambil secara cepat.

“Dan akhirnya membuat orang curiga,” kata Dicky, Selasa (7/5). “Ada beberapa negara yang akhirnya menunda untuk menggunakan tipe vaksin itu.”

Dicky mengungkapkan, merujuk pada kasus di Eropa, hingga kini kejadian TTS hanya ada delapan kasus dari 1.000.000 orang yang menerima vaksin AstraZeneca pasca dua minggu suntikan dosis pertama. “Delapan orang ini tidak meninggal ya,” ucap Dicky.

“Kemudian kasus TTS pada suntik kedua ini menurun tajam, dari delapan menjadi dua kasus per 1.000.000, yang artinya risikonya menurun sepanjang waktu.”

TTS sendiri, menurut Dicky, ada yang bertipe ringan-sedang dan berat. Maka, ia mengatakan, tentang dua tipe TTS tadi, lebih banyak tipe ringan-sedang. Artinya, tak mengarah kepada kematian.

Berkaca pada 70-an juta penerima vaksin AstraZeneca di Indonesia, Dicky menduga, bisa jadi sekitar 70-an orang saja yang mengalami TTS, tetapi tidak selalu fatal dan mengarah ke kematian.

“Terpenting, kita harus bisa memastikan, ini (TTS) bukan dari penyebab lain,” ujar dia.

“Karena banyak faktor juga yang bisa menyebabkan masalah ini, seperti terapi obat, kanker, dan lain-lain. Yang terpenting juga, dia (penerima) masih dalam waktu dua minggu sejak vaksin.”

Pada masa pandemi Covid-19, Dicky mengatakan, TTS bisa juga disebabkan virus itu sendiri. Terlepas dari itu, Dono mengingatkan, pihak layanan kesehatan dan pemerintah harus terus memantau setiap kejadian yang tidak diinginkan. Dimulai dari proses pendaftaran dan pengeluaran surat izin edar obat atau vaksin oleh BPOM, lalu proses pemantauan kualitas obat atau vaksin dan pelaporan kejadian yang tidak diinginkan.

“Jika ada indikasi kelalaian dari seluruh mata rantai, dari pendaftaran, produksi, sampai distribusi, tentu harus diambil langkah-langkah yang tepat untuk mencegah hal-hal yang tidak baik,” kata Dono.

“Kejadian kasus tidak diharapkan (dari vaksin AstraZeneca) ini sangat jarang terjadi, sehingga risikonya masih jauh lebih rendah dibanding dengan manfaat yang bisa didapatkan dari vaksinasinya itu sendiri.” 

img
Stephanus Aria
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan