Pemulihan dari trauma masa kanak-kanak merupakan proses bertahap yang membutuhkan kesadaran, dukungan, dan strategi yang tepat. Trauma yang dialami sejak dini dapat memengaruhi cara seseorang memandang diri, menjalin hubungan, hingga mengelola emosi saat dewasa.
Namun, para ahli menegaskan bahwa trauma masa kecil bukan akhir dari segalanya. Dengan pendekatan yang tepat, pengalaman menyakitkan di masa lalu justru dapat diintegrasikan menjadi sumber kekuatan dan pertumbuhan pascatrauma.
Pemulihan trauma melibatkan sejumlah langkah penting, mulai dari mencari dukungan profesional, membangun welas asih diri, hingga menciptakan koneksi yang aman dan suportif. Proses ini membantu individu memahami luka masa lalu, sekaligus membangun rasa kendali dan keamanan dalam hidupnya saat ini.
Dikutip dari Attune Connect, berikut lima langkah inti yang dapat memandu perjalanan penyembuhan trauma masa kanak-kanak:
Mencari terapi profesional berbasis trauma
Terapis yang terlatih dalam pendekatan berbasis trauma—seperti EMDR (Eye Movement Desensitization and Reprocessing), terapi somatik, atau terapi perilaku kognitif (CBT)—dapat menyediakan ruang aman untuk memproses ulang ingatan traumatis. Melalui terapi, individu juga dibekali keterampilan baru untuk mengelola emosi dan menghadapi pemicu secara lebih adaptif, yang kerap menjadi fondasi penting dalam pemulihan jangka panjang.
Membangun welas asih diri dan perawatan diri
Penyembuhan trauma menuntut kemampuan merawat diri dengan penuh empati, layaknya merawat seorang anak. Alih-alih menyalahkan diri, penting untuk memberikan validasi atas perasaan yang muncul. Perawatan diri sederhana—seperti menjaga kualitas tidur, nutrisi, dan melakukan aktivitas menenangkan—berperan besar dalam membantu menstabilkan sistem saraf.
Menetapkan keamanan dan batasan yang sehat
Rasa aman menjadi kunci dalam proses pemulihan. Rutinitas yang dapat diprediksi serta kemampuan berkomunikasi secara asertif membantu seseorang menetapkan batasan yang sehat dalam hubungan sosial. Teknik menenangkan diri, seperti pernapasan dalam atau fokus pada sensasi tubuh, juga dapat membantu individu tetap hadir saat menghadapi tekanan emosional.
Memproses trauma secara aman
Trauma tidak selalu dapat disembuhkan hanya dengan pemahaman rasional. Ekspresi emosional melalui media kreatif—seperti menulis, seni, atau ritual simbolik—dapat menjadi sarana untuk melepaskan energi trauma yang terpendam. Proses ini membantu peralihan dari sekadar memahami trauma menuju tahap integrasi yang lebih utuh.
Mengembangkan koneksi yang mendukung
Dukungan sosial memiliki peran krusial dalam pemulihan trauma. Terhubung dengan orang-orang tepercaya atau kelompok pendukung membantu mengurangi rasa terisolasi. Melalui pengalaman bersama, individu dapat membangun ketahanan emosional dan kembali mempercayai hubungan interpersonal.
Pada akhirnya, penyembuhan trauma masa kanak-kanak bukan tentang menghapus masa lalu, melainkan memahami dan mengintegrasikannya secara sehat. Dengan langkah yang tepat, rasa sakit yang pernah dialami dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju kehidupan yang lebih utuh dan bermakna.