logo alinea.id logo alinea.id

Tips membeli rumah KPR untuk generasi muda

Generasi millenial disebut-sebut sulit untuk memiliki rumah. Padahal, ada strategi mudah untuk membeli rumah bagi anak muda.

Sukirno
Sukirno Rabu, 19 Jun 2019 04:50 WIB
Tips membeli rumah KPR untuk generasi muda

Generasi millenial disebut-sebut sulit untuk memiliki rumah. Padahal, ada strategi mudah untuk membeli rumah bagi anak muda.

Praktisi bidang properti, Peony Tang menyebutkan banyak cara untuk membeli rumah di usia muda di antaranya dengan memanfaatkan bank-bank penyedia fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

"Kemudian kalau berat dengan uang muka, beberapa pengembang biasanya menawarkan kemudahan agar dapat mengangsur," kata Peony yang juga Direktur SouthCity di Jakarta, Selasa (18/6).

Mengutip dari data Bank Indonesia, dia menyebutkan bahwa di tahun 2018, terdapat peningkatan jumlah debitur usia 26 hingga 35 tahun yang mendominasi pertumbuhan KPR.

Pertumbuhan debitur usia 26 hingga 35 tahun ini utamanya terjadi di pangsa rumah tapak tipe 22 hingga 70 meter persegi, rumah susun tipe 22 hingga 70 meter persegi, serta rumah susun tipe 21 ke bawah.

Kalau dirinci, pangsa usia 26 hingga 35 tahun untuk rumah tapak tipe 22-70 meter persegi terus meningkat dari tahun 2014 hingga 2018. Adapun jumlah persentase debitur rumah tipe 22-70 meter persegi untuk usia 26 hingga 35 tahun berada pada kisaran 35%-50% dari total debitur KPR.

Sementara untuk rumah susun atau flat tipe 22-70 meter persegi, di tahun 2018 debitur usia 26 hingga 35 tahun mulai mendominasi pasar. Persentase debitur usia tersebut dari keseluruhan debitur KPR berjumlah 35%.

Dari data tersebut bisa digambarkan bahwa pasar potensial bagi industri properti adalah kaum milenial. Namun tidak semua generasi milenial memiliki kesempatan untuk mengajukan KPR untuk membeli rumah pertama mereka.

Kelompok debitur dalam kisaran usia 26-35 tahun hanya mewakili 40% dari total jumlah milenial di Indonesia. Ini berarti bahwa ada 60% milenial yang masih belum memiliki akses ke pinjaman perumahan.

Ada beberapa kendala yang dihadapi oleh generasi ini untuk memiliki hunian. Beberapa di antaranya adalah daya beli hunian yang terbilang rendah dan pendapatan yang relatif belum mencukupi. Hal ini terkait juga dengan gaya hidup kaum milenial yang lebih mengutamakan pengalaman hidup dibandingkan masa depan.

Peony yang tengah membangun hunian bertingkat di selatan Jakarta ini mengatakan perusahaannya termasuk yang banyak memberikan fasilitas kepada kaum muda untuk memiliki rumah. Salah satunya uang muka yang dapat diangsur bahkan sampai tiga tahun.

Dengan fasilitas ini pembeli cukup mengangsur Rp3 jutaan sampai 24 kali, kemudian bisa dilanjutkan dengan mengangsur melalui KPA yang besarannya Rp3 juta per bulan.

"Proyek apartemen The Parc yang kami kembangkan sudah mempertimbangkan daya beli masyarakat, untuk itu beragam fasilitas diberikan agar tidak memberatkan untuk memiliki hunian ini," ujar dia. (Ant).