close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
ilustrasi sikat gigi
icon caption
ilustrasi sikat gigi
Sosial dan Gaya Hidup
Rabu, 15 Juli 2026 16:28

Tren skinification merambah ke perawatan gigi, masyarakat kian cermat pilih pasta gigi

Tren skinification kini merambah perawatan gigi. Masyarakat mulai lebih cermat memilih pasta gigi untuk menjaga kesehatan mulut dan menekan biaya perawatan.
swipe

Tren skinification yang sebelumnya identik dengan produk perawatan kulit kini mulai merambah ke produk perawatan gigi atau oral care. Konsumen tak lagi hanya mencari pasta gigi yang mampu membersihkan atau memutihkan gigi, tetapi juga mulai memperhatikan kandungan bahan aktif yang dinilai dapat menjaga kesehatan rongga mulut secara menyeluruh.

Perubahan pola konsumsi tersebut muncul di tengah tingginya biaya perawatan gigi di Indonesia. Mengutip WHO's Oral Health Country Profile 2022 yang dirilis Badan Kebijakan Kementerian Kesehatan RI, rata-rata pengeluaran masyarakat Indonesia untuk perawatan kesehatan gigi mencapai US$1.160 atau sekitar Rp20,97 juta, tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Singapura. Kondisi ini menunjukkan pentingnya perawatan preventif untuk menekan biaya pengobatan di kemudian hari.

Sejalan dengan tren tersebut, masyarakat juga semakin kritis dalam memilih produk perawatan gigi. Jika sebelumnya konsumen lebih berfokus pada klaim memutihkan gigi atau banyaknya busa yang dihasilkan pasta gigi, kini perhatian mulai beralih pada kandungan bahan aktif yang diklaim mampu melindungi enamel, mengurangi plak, hingga menjaga kesehatan rongga mulut.

Peningkatan minat terhadap produk perawatan gigi juga tercermin dari data Markethac. Selama periode Maret hingga Juni 2026, penjualan pasta gigi untuk gigi sensitif mencapai 339,3 ribu produk. TikTok Shop by Tokopedia menjadi kanal penjualan terbesar dengan pangsa pasar 58,2%, sedangkan Shopee menguasai 41%.

Praktisi kesehatan gigi yang dikenal luas di TikTok dengan nama akun ‘Malaikat Pencabut Gigi’, drg. Zahrah Almira Cita Utami mengatakan pentingnya edukasi kesehatan gigi agar masyarakat tidak terjebak dalam kebiasaan yang salah dan ‘Menguras kantong’.

"Banyak pasien yang datang ke saya dan mengeluhkan mengapa belum ada perubahan meskipun sudah menggunakan pasta gigi pencerah. Kenyataannya, kalau kebiasaan merokok, mengopi, dan makan makanan yang berwarna pekat masih terus dilakukan, stain (noda di gigi) akan tetap menempel dengan kuat," ujar Zahrah.

Zahrah juga menyarankan penggunaan sedotan saat mengonsumsi minuman berwarna untuk meminimalkan kontak langsung dengan gigi.

"Kalau kebiasaan tersebut tidak bisa dikurangi, pastikan untuk selalu bilas atau berkumur menggunakan air mineral setelahnya. Jika mengonsumsi minuman yang berwarna, bisa menggunakan sedotan untuk mengurangi dampak diskolorasi warna gigi," sarannya.

Selain itu, Zahrah menegaskan pada masyarakat agar tidak memilih pasta gigi hanya berdasarkan banyaknya busa atau klaim yang ditawarkan. Ia menyarankan konsumen memperhatikan kandungan bahan aktif dan memastikan produk yang digunakan telah melalui pengujian.

"Pastikan tidak hanya menggunakan pasta gigi yang hanya memiliki busa banyak, tapi nyatanya tidak dapat mengangkat noda atau stain. Saya menyarankan pasta gigi yang sudah ada uji labnya. Apabila memang setelah rutin melakukan perawatan mandiri ini keluhan atau masalahnya tidak selesai, baru langkah yang harus diambil adalah menemui dokter gigi untuk penanganan lebih lanjut," katanya.

Seiring berkembangnya tren skinification, produsen produk perawatan mulut juga mulai mengembangkan formulasi yang lebih berfokus pada kesehatan gigi dibanding sekadar efek memutihkan. Salah satu pendekatan yang mulai banyak digunakan adalah pemanfaatan kombinasi enzimatik untuk membantu mengangkat noda tanpa mengikis lapisan enamel gigi.

Formulasi tersebut umumnya memadukan enzim papain, dextranase, dan lysozyme. Papain yang berasal dari buah pepaya berfungsi membantu menguraikan protein penyebab noda pada permukaan gigi. Sementara dextranase membantu memecah plak yang menempel, sedangkan lysozyme bekerja sebagai antibakteri alami untuk menjaga keseimbangan mikroorganisme di dalam rongga mulut.

Country Manager usmile Indonesia dan Malaysia, Michelle, mengatakan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kandungan bahan aktif menunjukkan konsumen kini semakin selektif dalam memilih produk perawatan gigi.

"Apa yang disampaikan oleh drg. Zahrah sangat memotret realitas pasar. Konsumen harus semakin jeli menyadari bahwa pasta gigi dengan busa berlimpah atau bahan abrasif kasar yang diklaim memutihkan instan justru berisiko menggores enamel, yang pada akhirnya memicu tingginya biaya ke dokter gigi di kemudian hari," ujar Michelle.

Menurut Michelle, pendekatan tersebut mendorong produsen menghadirkan formulasi yang tidak hanya berorientasi pada estetika, tetapi juga menjaga kesehatan gigi dalam jangka panjang.

"Sebagai solusi preventif, usmile varian Repair White mengusung prinsip Skinification dengan mengganti bahan abrasif kasar menjadi Enzyme Complex. Kami memanfaatkan kombinasi Papain, Dextranase, dan Lysozyme yang teruji secara lab. Ketiga bahan ini bekerja merontokkan stain noda secara luar biasa efektif tanpa merusak kekuatan pelindung alami gigi. Ini adalah komitmen usmile untuk menghadirkan perawatan estetika yang tidak hanya aman secara medis, namun juga melindungi finansial konsumen jangka panjang," tutup Michelle.

Kehadiran inovasi skincare untuk mulut ini diharapkan dapat mendorong masyarakat Indonesia lebih cermat dalam memilih produk perawatan harian, sehingga membantu menekan biaya perawatan gigi sekaligus menjaga keindahan senyum secara aman.

img
Haidhar Ali Faqih
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan