close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Kasatgas PRR Tito Karnavian seusai Rapat Koordinasi Tingkat Menteri Tim Pengarah Satgas PRR Pascabencana Sumatera di Kompleks Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kamis (18/6/2026). Foto istimewa
icon caption
Kasatgas PRR Tito Karnavian seusai Rapat Koordinasi Tingkat Menteri Tim Pengarah Satgas PRR Pascabencana Sumatera di Kompleks Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kamis (18/6/2026). Foto istimewa
Peristiwa
Rabu, 08 Juli 2026 21:20

Kasatgas PRR dorong transparansi penanganan infrastruktur terdampak

Keterbukaan informasi dinilai penting agar masyarakat dapat mengetahui secara langsung perkembangan setiap pekerjaan sekaligus ikut mengawal proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
swipe

Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian menegaskan percepatan pemulihan infrastruktur terdampak bencana harus berjalan seiring dengan prinsip transparansi. Keterbukaan informasi dinilai penting agar masyarakat dapat mengetahui secara langsung perkembangan setiap pekerjaan sekaligus ikut mengawal proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

Penegasan tersebut disampaikan Tito saat meninjau Jembatan Enang-Enang di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Selasa (7/7/2026). Menurutnya, keterbukaan penggunaan anggaran dan pelaksanaan pekerjaan menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap upaya pemerintah memulihkan infrastruktur terdampak bencana.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Tito meminta Pemerintah Kabupaten Bener Meriah bersama instansi terkait memasang papan informasi pada setiap lokasi pekerjaan. Papan tersebut memuat informasi mengenai jenis pekerjaan, penggunaan anggaran, progres pelaksanaan, hingga target penyelesaian sehingga masyarakat dapat mengetahui secara jelas tahapan pembangunan yang sedang berlangsung.

"Pasang billboard supaya masyarakat benar-benar tahu, 'oh iya jalan dan jembatan ini sedang dalam pengerjaan'. Dan diberi informasi, misalnya Jembatan Enang-Enang ini akan diperkuat. Sehingga masyarakat melihat, dan taruh logo Kementerian PU di situ," ujar Tito.

Selain memastikan transparansi, pemerintah juga terus mempercepat penanganan infrastruktur di kawasan Bener Meriah. Tito memperkirakan kebutuhan anggaran untuk perbaikan jalan, pembangunan jembatan, pelebaran jalur alternatif, hingga pembangunan jembatan bentang panjang mencapai sekitar Rp1,1 triliun. Salah satu proyek strategis yang disiapkan adalah pembangunan jembatan baru sepanjang 300 meter yang akan menjadi ikon baru Tanah Gayo.

Sebagai langkah percepatan, pemerintah telah menyepakati tiga strategi utama penanganan kawasan Enang-Enang. Pertama, memperlebar dan meningkatkan kapasitas jalan alternatif melalui Wer Lah. Kedua, membangun jembatan permanen baru sebagai solusi jangka panjang. Ketiga, memperkuat struktur Jembatan Enang-Enang agar tetap dapat dimanfaatkan masyarakat secara aman selama masa transisi.

Langkah tersebut merupakan tindak lanjut pemerintah atas kebutuhan masyarakat yang selama ini mengandalkan Jembatan Enang-Enang sebagai jalur utama aktivitas dan mobilitas sehari-hari. Sebelumnya, warga bahkan bergotong royong memperbaiki akses jembatan secara swadaya agar konektivitas antarwilayah tetap terjaga.

"Kita sudah sepakat. Pertama, jalan alternatif Werlah akan diperlebar dan diperbaiki oleh Balai PU. Kedua, jembatan permanen akan tetap dibangun oleh Kementerian PU karena memang penting untuk masyarakat Tanah Gayo. Ketiga, Jembatan Enang-Enang tetap difungsikan, tetapi akan diperkuat dan dipelajari lagi struktur teknisnya oleh Balai PU. Saya akan terus memonitor perkembangannya," kata Tito.

img
Sahputra
Reporter
img
Sahputra
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan