sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Penunjukan Uskup Mgr Ignatius Suharyo dan penghormatan Paus

Penunjukkan Mgr Ignatius Suharyo menjadi Kardinal oleh Paus Fransiskus menandakan hubungan baik Vatikan dengan Indonesia.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Jumat, 06 Sep 2019 12:08 WIB
Penunjukan Uskup Mgr Ignatius Suharyo dan penghormatan Paus

Uskup Keuskupan Agung Jakarta Monseigneur Ignatius Suharyo telah diangkat sebagai salah satu dari 13 Kardinal baru oleh Paus Fransiskus, pada Minggu (1/9) lalu. Dengan penunjukan ini, Mgr. Ignatius Suharyo merupakan Uskup Agung Jakarta ketiga yang terpilih sebagai Kardinal di Indonesia yang membantu tugas Paus selaku pimpinan Gereja Katolik dunia.

Selanjutnya, Mgr Ignatius Suharyo akan dilantik pada 5 Oktober mendatang di Vatikan. Uskup Monseigneur yang pernah menjabat sebagai Uskup Agung Semarang pada 1997 ini akan mengemban tugas mengurus dan melaksanakan karya pastoral dalam Gereja di Roma.

Dalam konferensi pers di Gedung Karya Pastoral Gereja Katedral Jakarta, Kamis (5/9), Mgr. Ignatius Suharyo mengungkapkan, pengangkatan seorang uskup sebagai kardinal menunjukkan penghargaan Paus selaku pimpinan Gereja Katolik sedunia kepada pimpinan gereja Katolik di Indonesia. Sebelumnya, Kardinal negara Indonesia yang ditunjuk oleh Vatikan adalah Mgr. Justinus Darmo Yuwono (alm.) pada 1967, kemudian Mgr. Julius Darmaatmadja (1994).

“Bahwa saya lalu diangkat itu merupakan tanda penghargaaan kepada Indonesia,” ucap Mgr. Suharyo.

Secara umum terdapat dua macam tugas Kardinal dalam hierarki Gereja Katolik. Pertama, tugas kolegial, yakni dipanggil berkumpul di Vatikan untuk membahas masalah-masalah yang sangat penting. Kedua, tugas sendiri-sendiri dengan aneka jabatan yang diemban oleh masing-masing kardinal untuk membantu Paus dalam reksa harian seluruh Gereja.

Mgr Suharyo melanjutkan, tidak semua negara memiliki kardinal, semisal di Timor Leste dan beberapa negara Asia termasuk di jalur jazirah Arab. Pengangkatan kardinal, kata dia, menunjukkan pula penguatan hubungan baik Vatikan dengan Indonesia.

Dia menjelaskan, hubungan Indonesia dan Vatikan sejak lama berjalan sangat baik. Hal ini disimbolkan dengan keberadaan dan peran aktif Kedutaan Besar Vatikan untuk Indonesia di jantung kota Roma itu. Di samping itu, Vatikan adalah salah satu negara yang mengakui kemerdekaan Indonesia setahun setelah 1945.

Pengangkatan kardinal Indonesia, kata dia, maka menjadi penegasan atas hubungan baik Indonesia dan Vatikan.

“Tahun 1946, bersama negara-negara lain di dunia, Vatikan mengakui kemerdekaan Indonesia. Meskipun negara kecil, peranan dan pengaruh Vatikan sangat besar untuk dunia, khususnya untuk Eropa dan Amerika,” tuturnya.

Tanggung jawab moral

Di sisi lain, pengangkatan dirinya sebagai kardinal diakui Mgr Suharyo dengan rasa gugup. Menurutnya, jabatan baru ini kemungkinan akan membuat dia lebih rutin melakukan perjalanan ke daerah-daerah di Indonesia. Lebih dari itu, baginya tugas kardinal mengandung tanggung jawab moral yang besar.

“Pekerjaannya tidak nambah, tetapi yang membuat saya belum bisa mengatakan ya 100% adalah Noblesse oblige, ‘Kehormatan itu mengandung tanggung jawab moral’,” kata Mgr. Suharyo.

Dia mencontohkan, warna sabuk merah dari pakaian yang dikenakan seorang Kardinal mencerminkan kesiapan untuk mengorbankan hidup bagi gereja.

“Merah artinya siap mati, ini simbol untuk menyerahkan hidup bagi gereja,” ucapnya.

Meski begitu, Mgr. Suharyo juga mengungkapkan mandat dan jabatan yang diemban dirinya sebagai imam bukanlah seperti profesi atau karier pada umumnya. Maka, dia pun menerima pengangkatan dirinya sebagai Kardinal dengan sikap taat dan berserah sebagaimana saat dilantik sebagai Uskup Agung Semarang dan Uskup Agung Jakarta.

Dia menjadi Uskup Agung Jakarta pada 2010, sekaligus Uskup Agung Ordinariat Militer Indonesia sejak 2006. Selain itu, dia adalah Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (2012–sekarang).

“Mengapa saya yang ditunjuk sebagai Kardinal, saya tidak tahu dan saya tak pernah calonkan diri. Orang seperti saya, sejak ditahbiskan sebagai imam, hanya taat pada pimpinan. Imam itu tidak bisa mengatur karier,” kata dia.

Dalam tugasnya untuk menggembalakan umat Katolik di Indonesia, Mgr Suharyo menekankan tujuan sesuai misi yang ditentukan dalam perjanjian atau Konsili Ekumenis Vatikan II (1962–1965).

“Kegembiraan, harapan, dan kecemasan umat manusia adalah kegembiraan, kecemasan, dan keprihatinan murid-murid Kristus,” ucapnya.