close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi Alinea.id/Debbie Alyuwandira.
icon caption
Ilustrasi Alinea.id/Debbie Alyuwandira.
Infografis
Rabu, 08 Juni 2022 19:25

Nasib emiten konsumer di tengah kenaikan harga komoditas

Ketika harga pangan dunia mencapai rekor tertingginya sepanjang sejarah, harga saham emiten konsumer justru berguguran.
swipe

Setidaknya ada kurang lebih 10 negara yang telah menyetop ekspor produk pangan dan pupuk mereka, demi bisa memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Ukraina, Rusia, Turki, Argentina, Mesir, India, dan Malaysia menghentikan ekspor produk pangan mulai dari gandum hingga gula. Sementara Rusia, Cina, Vietnam, serta Kirgistan menyetok pasokan pupuknya untuk dunia.

“Padahal, dengan mulai meredanya pandemi, permintaan akan produk pertanian dan pangan ini sudah mulai normal lagi. Inilah yang kemudian juga menyebabkan harga pangan dunia masih akan terus naik sampai beberapa waktu ke depan,”  kata Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira kepada Alinea.id, Rabu (1/6).

Sebenarnya, bagi Indonesia kenaikan harga pangan dunia layaknya dua mata koin. Di satu sisi, tren kenaikan ini menyebabkan harga-harga pangan dan produk pertanian hingga pupuk di dalam negeri juga mengalami disrupsi.

Di sisi lain, sebagai salah satu negara penghasil sumber daya alam (SDA), kenaikan harga komoditas dapat meningkatkan ekspor nasional. Hal ini pada akhirnya mampu mengerek investasi, khususnya di sektor pertanian dan pertumbuhan ekonomi nasional.

“Ini terlihat juga dari penyaluran kredit di sektor pertanian yang mengalami kenaikan,” tuturnya.

Mengutip data Bank Indonesia (BI), pada April lalu, Kredit Investasi (KI) tumbuh hingga 7,2% secara tahunan (year on year/yoy), dari bulan sebelumnya yang hanya sebesar 5,0%. Pertumbuhan ini terutama terjadi pada sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan yang terakselerasi 5,3%, dari yang sebelumnya 3,6% pada Maret 2022.

Namun demikian, naiknya investasi di sektor pertanian tersebut tidak menjalar pada kinerja emiten-emiten yang menggantungkan produksinya pada komoditas pangan dan pertanian ini, seperti salah satunya adalah saham sektor barang konsumer primer (consumer non-cyclical).

Ketika indeks harga pangan dunia terkerek hingga 33,6% yoy bahkan mencapai rekor tertingginya sepanjang sejarah, harga saham yang berada dalam sektor konsumer primer justru ramai-ramai berguguran.

Alinea.id mengulas performa emiten-emiten consumer goods di tengah melonjaknya harga komoditas dalam artikel ini.

Ilustrasi Alinea.id/Debbie Alyuwandira.

img
Qonita Azzahra
Reporter
img
Kartika Runiasari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan