sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id
Fithra Faisal Hastiadi

Belajar menjinakkan rupiah dari pakar teknologi

Fithra Faisal Hastiadi Kamis, 19 Sep 2019 13:23 WIB

“Kita semua ekonom, harus menjadi lebih rendah hati karena terkadang jawaban atas permasalahan ekonomi justru dihasilkan oleh pendekatan multidisiplin”.

Demikian sentilan Profesor Iwan Jaya Azis dalam sebuah seminar kepada kami, para ekonom. 

Sentilan itu benar adanya. Kebanyakan ekonom terpenjara pada disiplin ilmunya. Kami sering lupa bahwa dunia bekerja bagaikan sebuah sistem yang saling tersambung. Omni channel. Salah satu figur terkemuka Indonesia yang bisa menyatukan pelbagai pendekatan tersebut tak lain dan tak bukan adalah mendiang Bacharuddin Jusuf Habibie yang baru berpulang berbilang hari lalu. Mr Crack!

Sesaat setelah Habibie berpulang, rentetan pesan belasungkawa di grup perpesanan instan bertubi-tubi muncul. Menariknya, ungkapan itu diikuti pelbagai pertanyaan menggantung, namun bernada pujian, tentang bagaimana Habibie berhasil menjinakkan krisis ekonomi pada 1998. Krisis ini bermula dari paket liberalisasi besar-besaran yang terjadi pada 1980-an.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan liberalisasi, karena memang hal ini diperlukan untuk menggenjot perekonomian. Tetapi ibarat rumah, fondasinya harus kuat, jalinan strukturnya harus melekat dan berikat. Liberalisasi memang berbuah hasil di awal 1990-an, sehingga Indonesia bahkan disebut sebagai salah satu keajaiban Asia berkat pertumbuhan ekonominya yang memikat.

Krisis di Asia dimulai dari jatuhnya nilai Baht Thailand pada 1996 dan 1997 sebagai akibat dari perilaku sektor keuangan yang sangat tidak sehat. Meski terhitung tetangga dekat, banyak yang meyakini bahwa Indonesia masih cukup kuat. Mayoritas ekonom dengan percaya dirinya berebut suara di media dengan pekikan yang sama, “Indonesia bukan Thailand”, hampir mirip dengan cerita Joseph Bruce Ismay sang pemilik kapal Titanic yang dengan pongahnya menyebut kapal miliknya tidak akan bisa tenggelam. Nyatanya, Titanic dan perekonomian Indonesia sama-sama karam.

Penyebab krisis sesungguhnya tidaklah sumir. Krisis di Indonesia merupakan konsekuensi dari jalinan rapuh fondasi sistem keuangan serta perkongsian tidak sehat antara konglomerat dengan para elite berkuasa. Parahnya lagi, timbul kondisi moral hazard yang diakibatkan adanya persepsi pemerintah memberikan jaminan penuh untuk dana yang tersimpan di perbankan, sehingga muncul kecenderungan penyaluran kredit yang berlebihan. Untuk tidak menambah buruk, kondisi perbankan ketika itu cenderung tidak diatur secara baik. Kondisi ini pada gilirannya turut menyumbang angka inflasi yang menjalar langit dan mempercepat penularan virus krisis dari Thailand.

Menurut Krugman, tipe krisis Indonesia adalah model krisis modern yang telah berevolusi dari generasi kanonikal yang bersumber dari kelengahan fiskal dan generasi kedua yang muncul karena kredibilitas yang jatuh.

Singkat cerita, krisis pada1998 unik, pendekatannya pun seharusnya out of the box. Beruntung Habibie berada pada saat yang tepat.

Memang Indonesia dibantu IMF, tetapi pendekatan mereka terlalu terpaku pada buku teks dengan menyarankan kebijakan fiskal dan moneter yang kontraktif. Alih-alih berhasil, kebijakan ini justru menimbulkan kepanikan yang semakin menjadi. Dengan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) bertenor 1 bulan yang sempat mencapai 70% per tahun pun tak mampu menjinakkan inflasi yang menggila dan rupiah yang sedang stall.

Di saat normal, kebijakan ini bisa saja beroleh hasil yang baik mengingat prinsip dari arus modal adalah mengikuti insentif yang lebih tinggi. Ketika suku bunga dalam negeri relatif terhadap luar negeri dibuat lebih besar selisihnya, maka seharusnya akan ada peningkatan arus modal masuk atau minimal menahannya di dalam negeri supaya tidak bocor.

Namun krisis itu terlalu liar untuk bisa dibilang normal. Pendekatan kopi tempel ala IMF terbukti tidak manjur. Belakangan, ekonom kelas berat semisal Joseph Stiglitz dan Jeffrey Sachs pun turut mencela kebijakan IMF yang ngawur ini.

Habibie kemudian menerapkan prinsip aeronautika yang dikuasainya untuk menjaga supaya sang rupiah cepat kembali kepada keseimbangan. Habibie dengan cepat mengetahui akar permasalahan krisis: kepercayaan!

Untuk mengawal perekonomian menuju keseimbangan, Habibie melahirkan kebijakan maha penting, seperti pembentukan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Sesuai namanya, lembaga itu bertugas untuk merestrukturisasi dan menyehatkan perbankan nasional. Berikutnya adalah pengesahan undang-undang anti monopoli, undang-undang tentang independensi Bank Indonesia, dan beberapa kebijakan lain yang pada gilirannya membantu mendongkrak kepercayaan.

Walhasil, arus modal yang deras keluar perlahan mulai masuk dan membuat keadaan membaik dalam waktu singkat. Situasi itu membuat rupiah kembali pada nilai normalnya, dan membawa perekonomian yang sudah menghujam tanah kembali tersemburat ke permukaan.

Pelemahan nilai tukar rupiah yang dalam terhadap dolar Amerika pada saat itu secara teknis memang terjadi juga karena overshooting. Ini adalah keadaan di mana nilai rupiah melenceng jauh dari nilai normalnya. Jika dilihat berdasarkan pantauan empiris, kondisi yang melenceng dari normal ini sebenarnya perlu waktu untuk kembali.

Kelembaman ini terjadi mengingat sektor riil butuh waktu untuk menyesuaikan dengan segera sehingga tak mampu mengejar gejolak sektor moneter yang melaju sedemikian cepat. Ajaibnya, gap antara sektor riil dan moneter bisa tertutup sebelum ayam berkokok. Rupiah pun bergerak terarah menuju keseimbangan. Begitu juga pertumbuhan ekonomi yang bergerak dari posisi negatif ke positif.

Salah satu yang patut mendapat perhatian dari mekanisme penyesuaian yang cepat ini adalah adanya intervensi di luar nalar oleh Habibie dibantu asistennya, Djusman Syafii Djamal. Habibie memberikan penugasan khusus sejak 1996 kepada Djusman yang merupakan ahli computational aerodynamics. Di sini, Djusman yang bukan ekonom diminta mempelajari relasi antarvariabel ekonomi yang pada gilirannya melahirkan program simulasi komputer berupa matriks koefisien pengaruh dengan prinsip aerodinamika.

Singkat cerita, kolaborasi keduanya menghasilkan sebuah temuan yang terbilang aneh. Model zig-zag suku bunga. Prinsip kerjanya, suku bunga dinaikkan dan kemudian diturunkan dalam waktu yang singkat untuk mencapai keseimbangan antarvariabel. Saking anehnya, Sofyan Wanandi bahkan menjuluki Habibie sebagai badut, dan Winarno Zein perlu menegur, meski dengan nada yang lebih sopan.

Meski banyak kebijakannya yang jika dipandang oleh ekonom sebagai kebijakan cacat logika, namun kebijakan fine tuning ala Habibie ini, baik disukai atau pun tidak, mampu menyelamatkan perekonomian kala itu. Nyatanya Habibie tidak hanya mampu menelurkan rumus crack progression dalam konstruksi pesawat saja. Saat krisis pun dia berhasil mengeluarkan jurus yang sama.

Selamat jalan Mr Crack!