logo alinea.id logo alinea.id
Jojo.

Ekonomi kurban

Jojo. Senin, 29 Jul 2019 21:13 WIB

Puncak perayaan ibadah haji 10 Zulhijah, bertepatan 11 Agustus 2019. Jutaan calon jemaah berkumpul di tanah suci Mekah hendak menunaikan rukun Islam kelima. Selain ibadah haji, pada Zulhijah sebagian umat Islam akan menyembelih hewan kurban. Ibadah tahunan bagi Muslim yang mampu, sebagaimana diperintahkan Allah SWT dalam surah al-Kautsar (108):1-2.

Indonesia, berpenduduk mayoritas muslim, kurban menjadi salah satu momen kebahagiaan. Mengingat ibadah ini memiliki banyak  aspek kebermanfaatan. Betapa kesadaran tinggi untuk berkurban membuat perputaran ekonomi seputar peternakan, pertanian, transportasi, jasa potong ternak, dan penyaluran daging meningkat. Sektor riil ini bisa mendongkrak tingkat kesejahteraan para pelaku ekonomi. Bagi pekurban dan penerima manfaat pun ada pemenuhan asupan gizi hewani. Sesuatu yang jarang dinikmati kelompok miskin. Pada Maret 2019 jumlahnya mencapai 25,14 Juta jiwa.

Ritual ini merupakan sarana membangkitkan solidaritas sosial. Sisi lain, kurban juga berpotensi mendorong laju perekonomian. Sebagaimana zakat, infak, sedekah, dan wakaf, kurban juga memiliki kekuatan pendongkrak ekonomi. Tentu saja, hal ini hanya akan terjadi ketika kurban dikelola secara benar. Sayangnya, hingga saat ini belum ada lembaga nasional yang secara khusus menangani kurban. Diperlukan koordinasi antarlembaga dalam melaksanakan kurban.

Daging yang dibagikan kepada dhuafa merupakan simbol kepedulian, kekerabatan, dan kesetiakawanan sosial. Karena itu, kurban menjadi media sosio kultural mewujudkan keseimbangan keagamaan dan  kemanusiaan. Esensi prosesi ritual kurban ialah afirmasi ketakwaan, kejernihan pikiran, keteguhan iman, dan kesalehan sosial (QS Al-Hajj 22: 37). Demikian, berkurban dan membagikan dagingnya untuk meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan bukan untuk riya dan pencitraan.

Lebih luasnya sebagai gerakan pemerataan ekonomi dan kesejahteraan. Dengan berkurban banyak masyarakat miskin dipelosok bisa menikmati daging. Permintaan hewannya memacu para peternak lokal untuk menaikan jumlah produksi. Sehingga mereka dapat menjual ternaknya dengan harga layak. Sekitar 20% dari harga biasa. Siklus ekonomi ini berkesinambungan. Harapannya akan mampu membangkitkan ekonomi rakyat. Kelompok ekonomi kaya memberikan kontribusi tidak hanya dengan zakat, infak, wakaf, dan sedekah, tetapi juga dengan berkurban. Terjadi perputaran uang.

Data Baznas dan PEBS-UI (2018) menunjukkan, pertahunnya ada perputaran dana Rp69,9 triliun selama pelaksanaan kurban. Setara 2,8% APBN 2019. Bila dikelola secara optimal secara prinsip agama, dana ini diharapkan bisa mendorong pemberdayaan ekonomi rakyat. Juga ketahanan pangan, peningkatan gizi, dalam mewujudkan keadilan sosial. 

Pada dimensi ekonomi, kurban terbukti membantu kesejahterraan ekonomi keluarga para peternak, pemasok, jagal yang bekerja di rumah potong, dan stakeholder. Permintaan hewan kurban (kambing, sapi, maupun kerbau) melonjak tajam. Hal ini  akibat bertambahnya jumlah muslimin yang berkurban setiap tahunnya. Bahkan, di lain tempat ada kelebihan permintaan menjelang hari H. 

Secara lebih luas, dimensi ekonomi  ibadah ini setidaknya dipandang dari beberapa faktor.  Pertama, Sisi penawaran (supply) dan permintaan (demand). Penawaran harus dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk menggerakan ekonomi rakyat terutama industri peternakan di pedesaan. Dengan kualitas baik dan kesinambungan  terjamin.  Sedangkan  peluang sisi  permintaan  kecenderungan naik. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, jumlah penduduk, dan kesadaran masyarakat untuk berkurban. Pada 2018 lalu, sekitar 1,5 juta ekor hewan kurban yang dipotong. Diproyeksikan tahun ini akan naik 5%. 

Kondisi permintaan ini ditangkap sebagai sinyal guna melakukan penataan sisi pasokan. Peningkatan permintaan ternak secara besar-besaran pada Iduladha (10-13 Dzulhijjah) secara sistematis akan berpengaruh pada peningkatan jumlah hewan harus tersedia. Jika permintaan meningkat, sektor ternak harus mampu memenuhi permintaan tersebut. Untuk itu diperlukan penguatan industri, infrastruktur, modal, dan inovasi yang mendukung proses produksi. Inilah multiplier effect nya.

Kedua, ketahanan ekonomi. Kurban bisa dipandang sebagai instrumen menjaga kesetimbangan ekonomi domestik. Dalam menghadapi tekanan ekonomi global. Tentunya, hewan kurban tersebut hasil produksi domestik. Jika pasokan hewan kurban tersebut mengandalkan impor, maka yang menikmati hasilnya negara pengekspor. 

Permintaan domestik yang tinggi, akan dimanfaatkan negara eksportir dan pemburu rente. Australia misalnya yang menjadi eksportir sapi terbesar ke Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS, 2018) menunjukkan impor daging sapi dari Negeri Kanguru mencapai 85 ribu ton (53%) dari total impor (160.197 ton). Senilai  Rp4 triliun dari total nilai impor Rp7,7 triliun. Karenanya perlu ada kebijakan cermat guna meningkatkan produksi ternak dalam negeri. Pengadaan hewan kurban urgen dipenuhi para peternak lokal.

Caranya membangun dan mengembangkan sentra industri peternakan rakyat. Bisa swasta maupun pemerintah. Keberadaannya perlu didukung dan diperbanyak. Calon pekurban perlu didorong agar membeli hewan kurban dari sentra tersebut. Model bisnis yang menguntungkan perlu diciptakan. Perlu kehadiran permodalan tanpa riba.

Ketiga, membantu memperkuat ketahanan pangan. Kaum miskin mendapatkan tambahan pasokan daging siap konsumsi. Meskipun sifatnya temporal, minimalk efek kurban bisa meningkatkan tingkat konsumsi daging per kapita. Mengingat konsumsi daging di Indonesia pada 2017 masih rendah. Sekitar 2,9 kg/orang setiap tahunnya.

Padahal, menurut Badan Konsultasi Gizi IPB, pemenuhan konsumsi daging minimal harus mencapai 12,2 kg/orang pertahun.  Rendahnya konsumsi daging tersebut disebabkan akses  yang masih rendah. Pemerintah bertugas meningkatkan daya beli masyarakat. Kurban memberikan akses lebih pada kelompok miskin menikmati daging.

Keempat, Kurban meningkatkan produktivitas. Semangat kurban dapat melahirkan individu produktif. Mereka kelompok ekonomi pas-pasan pun akan rela menabung agar bisa melaksanakan ritus kurban. Ada yang berkelompok, dikantor atau arisan keluarga. Produktivitas individu dan kelompok tersebut perlu sebagai modal sosial berharga guna upaya membangun pondasi perekonomian regional dan nasional.  

Kelima, secara makro, ritual kurban berpotensi menjaga cadangan devisa dan memperbaiki nilai defisit transaksi berjalan/CAD (current account deficit). Peternak lokal pedesaan bila diberdayakan maksimal secara agregat dapat mengurangi ketergantungan impor. Jika impor turun, pemerintah tidak pusing mengeluarkan cadangan devisa. Implikasinya nilai CAD semakin kecil. Hal ini akan memberikan dampak positif pada makro ekonomi kita. BI proyeksikan CAD di kuartal II-2019 bakal kembali melebar. Momentum kurban bisa menyelamatkan wajah ekonomi kita sejenak, karena kenaikan tingkat konsumsi. 

Konteks bernegara, diharapkan momentum kurban jadi perekat segenap elemen bangsa. Setelah beberapa bulan terakhir menguras energi dalam narasi pilpres 2019. Dengan spirit kurban, kalangan elit harus bersedia mengorbankan ego untuk tidak terus menerus memonopoli asset ekonomi-politik. Mereka harus bersedia berbagi dengan   pengusaha kecil menengah. Serta dengan orang yang minim akses ekonomi dan dan tidak memiliki aset.

Tanpa spirit pengorbanan sulit rasanya terjadi harmonisasi di tengah masyarakat. Jurang kesenjangan kaya-miskin makin melebar. Bila dibiarkan dapat menimbulkan dampak sosial baru yang lebih luas. Betul sabda Nabi SAW empat belas abad silam. Beliau bersabda, “Kemiskinan bukan ditentukan oleh tidak dimilikinya satu atau dua biji kurma. Tetapi ditentukan oleh ketidakmampuan mengelola sumber daya.