sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Bahu-membahu meracik vaksin Covid-19

Menurut WHO, ada delapan kandidat vaksin Covid-19 yang sedang diracik hingga kini.

Fatah Hidayat Sidiq
Fatah Hidayat Sidiq Jumat, 15 Mei 2020 21:11 WIB
Bahu-membahu meracik vaksin Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 132816
Dirawat 39290
Meninggal 5968
Sembuh 87558

Coronavirus baru (Covid-19) masih menjadi momok dunia hingga kini sejak kali pertama dikonfirmasi Badan Kesehatan Dunia (WHO), Desember 2019. Meski sejumlah negara telah berhasil mengendalikan penyebarannya, kecemasan global terhadap penyebaran SARS-CoV-2 tak jua mereda.

Mengutip Johns Hopkins University (JHU), SARS-CoV-2 telah menginfeksi 4.444.670 orang di 188 negara hingga Jumat (15/5), pukul 17.35 WIB. Sebanyak 302.493 jiwa di antaranya meninggal dunia.

Di sisi lain, sejumlah negara dan badan penelitian terus berupaya membuat antivirusnya. Merujuk dokumen draf lanskap yang dipublikasikan WHO pada 11 Mei, ada delapan kandidat vaksin Covid-19 teratas.

Pertama, vaksin mRNA-1273 yang dikembangkan perusahaan bioteknologi Moderna berbasis di Amerika Serikat (AS) dan bersinergi dengan Institut Nasional Penyakit Alergi dan Penyakit Menular (NIAID). Data uji coba klinis tahap pertama menargetkan studi tersebut rampung 20 September 2021.

Selanjutnya, vaksin INO-4800 milik Inovio Pharmaceutical, AS dan direncanakan studi sampel tuntas April 2021. Kemudian, vaksin ChAdOx1 yang diteliti Universitas Oxford serta ini dijadwalkan diujikan kepada 1.112 sampel berusia 18-55 tahun dan diharapkan selesai Mei 2021.

Keempat, vaksin BNT162 yang dikembangkan Biopharmaceutical New Technologies, Jerman serta bekerja sama dengan Fosun Pharma, China dan Pfizer, AS. Pengembangan tengah memasuki studi fase 1/2 vaksin untuk menentukan keamanan, imunogenisitas, dan tingkat dosis optimal.

Lalu, vaksin Adenovirus Tipe 5 Vektor yang dikembangkan CanSino Biological, China dan menggandeng Institut Biteknologi Beijing. Pengujian vaksin akan dilakukan pada pasien berusia 18-60 tahun dalam tempo enam bulan.

Berikutnya, vaksin Inactivated Novel Coronavirus Pneumonia yang diteliti perusahaan farmasi Sinopharm, China bersama Institut Biologi Wuhan. Ketujuh, vaksin Inactivated SARS-CoV-2 milik Institut Biologi Beijing bersama perusahaan farmasi Sinopharm.

Sponsored

Terakhir, vaksin buatan Sinovac Biotech, China. Antivirus terbuat dari SARS-CoV-2 yang dilemahkan. Saat ini sedang diuji kepada 744 sampel berusia 18-59 tahun dan ditargetkan selesai medio Desember 2020.

Selain kedelapan vaksin itu, perusahaan farmasi Prancis, Sanofi, juga sedang mengembangkannya. Jika selesai, mengutip Bloomber News, warga AS akan menjadi yang pertama mendapatkannya karena mengucurkan dana pengembangannya.

PT Bio Farma (Persero), badan usaha milik negara (BUMN) Indonesia, juga sedang berupaya membuat vaksin Covid-19. Antivirus menggunakan sampel dari pasien yang terpapar. Diproyeksikan selesai dalam 2-3 tahun ke depan, apabila bekerja sama dengan pihak lain.

Kriteria vaksin
Bukan perkara “membalik telapak tangan” untuk membuat antivirus Covid-19. Ada beberapa kriteria yang mesti dipenuhi kandidat vaksin, sebagaimana daftar yang disusun WHO. Pertama, data praklinis. Vaksin harus menunjukkan tingkat perlindungan yang signifikan dari infeksi. Paling tidak pada model uji coba terhadap hewan.

Kedua, keamanan. Vaksin harus dipastikan hanya memiliki efek samping yang ringan terhadap pasien positif terpapar. Ketiga, Imunogenisitas. Pada dosis tertentu, antivirus harus mampu merespons pembentukan imun yang cukup untuk memberikan perlindungan.

Keempat, stabilitas. Vaksin harus dapat disimpan paling tidak selama 12 bulan dengan suhu -60 hingga 70 derajat celcius.

Kelima, implementasi memenuhi dosis parenteral (pemberian obat ke dalam tubuh pasien) sebesar 1 milliliter (ml). Terakhir, ketersediaan atau dimungkinkan diproduksi dengan cepat, sehingga dapat segara diujicobakan secara luas.

Terpisah, spesialis penyakit dalam dan vaksinolog, dr. Dirga Sakti Rambe, mengungkapkan, pembuatan vaksin tergolong sukar, bahkan lebih rumit dari meracik obat. Sebab, harus dipastikan aman dan efektif membunuh virus.

Umumnya, suatu vaksin baru memerlukan waktu 8-15 tahun peracikan lantaran prosedurnya panjang. Namun, bisa dipercepat karena kebutuhan mendesak seperti sekarang. Meski demikian, tetap memperhatikan keamanan dan efektivitasnya.

“Semua tahapan pengembangan vaksin dilakukan secara terbuka atau transparan. Selalu ada pihak independen yang mengawasi pelaksanaan uji klinis. Hasilnya pun akan disampaikan ke komunitas ilmiah atau publik, bisa berupa informasi terbuka ataupun berbentuk publikasi ilmiah,” tuturnya kepada Alinea.id, beberapa waktu lalu.

Karena itu, sejumlah negara mencari alternatif dalam menanggulangi Covid-19 dan kehidupan seperti sedia kala, meski tidak seutuhnya. Pangkalnya, pagebluk ini turut memukul perekonomian global, termasuk negaranya masing-masing.

Pengguna komuter memakai masker pelindung setelah pemerintah mengumumkan berakhirnya keadaan darurat negara akibat Covid-19 di sebagian besar wilayah di Jepang, Jumat (15/5/2020). Foto Antara/Mandatory credit Kyodo/REUTERS

Kekebalan kawanan (herd immunity), salah satu opsi yang dilakukan. Konsep ini dilakukan oleh populasi manusia cukup kebal terhadap penyakit, sehingga diproyeksikan menghambat penyebaran infeksi. Swedia dan Inggris dikabarkan menerapkannya. Namun, keduanya menolaknya secara berterus terang karena menuai kritikan dari berbagai ahli kesehatan, mengingat bisa memicu banyak kematian untuk mencapai imunitas tersebut.

Indonesia secara sekilas juga demikian, meski diksinya diperhalus menjadi “berdamai dengan Covid-19” seperti yang dilontarkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). “Sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke depan," ucapnya via video yang diunggah Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Kamis (7/5).

Masalah terkait vaksin Covid-19 ini intensif diberitakan sejumlah media, baik dalam maupun luar negeri, karena menjadi kecemasan global. Frekuensinya terus mengalir sampai sekarang.

Geliat media
Berdasarkan data yang dihimpun Alinea.id menggunakan kecerdasan buatan (intelligent artificial/AI) sejak 1 April-13 Mei 2020, terdapat 44.394 berita daring (online) arus utama (mainstream)–dalam dan luar negeri–yang membahas seputar vaksin Covid-19.

Dari jumlah itu, sebanyak 22.847 artikel membahas delapan isu terkait. Detailnya, 16.426 berita uji coba vaksin, 1.918 berita gaya hidup normal baru, 1.349 berita vaksin buatan bioteknologi Moderna Inc, 1.343 berita herd immunity, 673 berita vaksin buatan CanSino Biological, 591 berita peretasan data riset vaksin, 278 berita prediksi Covid-19 takkan pernah lenyap, dan 269 berita pengembangan vaksin oleh Bio Farma.

Uji coba dan pengembangan vaksin menjadi sorotan utama media, termasuk upaya sejumlah negara untuk menemukannya. Tentang antivirus buatan Sinovac Biotech, misalnya. Masifnya pemberitaan terkait gaya hidup normal baru mencuat seiring munculnya pernyataan Jokowi mengenai hidup berdampingan dengan Covid-19 selama vaksin belum ditemukan. Wacana ini menuai polemik di masyarakat sampai sekarang.

Tuduhan otoritas AS kepada para peretas China yang berupaya mencuri data penelitian vaksin di negaranya, isu lain yang disorot media. Ini seperti yang diberitakan The Wall Street Journal dan The New York Times.

Selain isu, Alinea.id juga merekam figur-figur yang paling banyak diberitakan menyangkut vaksin Covid-19. Mayoritas merupakan tokoh “Negeri Paman Sam”. Perinciannya, Presiden AS, Donald Trump (6.839 artikel); imunolog AS, Anthony Fauci (2.771 artikel); Presiden RI, Joko Widodo atau Jokowi (1.739 artikel); PM Inggris, Boris Johnson (1.723 artikel); tokoh bisnis & filantropis, Bill Gates (1.432 artikel); Dirjen WHO, Tedros Adhanom (1.425 artikel); Kepala FDA, Scott Gottlieb (1.229 artikel); Gubernur New York, Andrew Cuomo (1.109 artikel); epidemiolog, Caitlin Rivers (1.091 artikel); dan ahli biodefense AS, Crystal Watson (1.086 artikel).

Tingginya frekuensi pemberitaan figur-figur itu terkait berbagai komentar yang dilayangkan kepada media. Trump, misalnya, berbicara tentang uji coba vaksin, prediksi penemuan antivirus, hingga dugaan peretasan data riset vaksin AS oleh peretas China.

Sedangkan Fauci, banyak diberitakan menyangkut perdebatannya dengan Trump seputar wacana pemerintah AS membuka kembali fasilitas publik. Sementara Presiden Jokowi, pemberitaan tentangnya mengenai gaya hidup normal baru selama antivirus belum ditemukan.

Alinea.id pun mencatat beberapa tokoh yang pernyataannya paling sering dikutip media (influencer) terkait antivirus Covid-19. Dari 10 figur, empat di antaranya berasal dari Indonesia.

Mereka adalah Trump (13.244 pernyataan); Fauci (5.928 pernyataan); Jokowi (5.509 pernyataan); Adhanom (4.057 pernyataan); Bill Gates (4.049 pernyataan); politikus Inggris, Matt Hancock (2.321 pernyataan); Menteri Riset dan Teknologi RI, Bambang Brodjonegoro (2.279 pernyataan); Cuomo (1.987 pernyataan); Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar (1.846 pernyataan); serta Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Letjen Doni Monardo (1.524 pernyataan).

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Foto Antara/REUTERS/Tom Brenner

Trump menjadi figur teraktif yang berkomentar seputar vaksin Covid-19, termasuk menyangkut isu peretasan data penelitian vaksin oleh China hingga prediksinya terkait antivirus ditemukan pada akhir tahun ini.

Sementara, komentar Bill Gates terkait upayanya menemukan dan memproduksi vaksin dengan mensponsori Inovio Pharmaceuticals. Menurut pendiri Microsoft Corporation ini, dunia membutuhkan sekitar 7 miliar dosis agar manusia bisa kembali hidup normal dan terbebas Covid-19.

Kontroversi Gates
Di sisi lain, niat Bill Gates membantu pengembangan vaksin Covid-19 sempat dilanda isu miring. Dari bekas Menteri Kesehatan RI, Siti Fadilah Supari, misalnya. Ada beberapa argumennya, seperti belum diketahui sejak kapan bibit penyakit yang dilemahkan dibuat. “Apalagi pada tahun 2015, dia telah mengumumkan akan ada pandemik besar di 2020," sambungnya melalui keterangan tertulis yang diterima Alinea.id, 19 April.

Pendiri Microsoft Corporation, Bill Gates. AFP PHOTO/Saul Loeb

Kedua, belum jelas dari negara mana saja galur (strain) bibit SARS-CoV-2 yang digunakan untuk membuat vaksin. Soalnya, beberapa ahli di dunia berpendapat, virus terus bermutasi hingga kini.

Berikutnya, Siti menduga, vaksin akan dibenami mikrocip untuk memantau orang yang telah menggunakannya. Juga mencurigai pembuatan antivirus demi depopulasi dan mengatur jumlah penduduk dunia.

Karena itu, dirinya meminta pemerintah Indonesia tidak menggunakan vaksin yang diproduksi perusahaan-perusahaan farmasi yang berafilisiasi dengan Bill Gates.

Namun, Dirga membantah tudingan tersebut. Menurut vaksinolog pertama Indonesia ini, pembuatan vaksin tidak bisa dimanipulasi atau ditambahkan. Butuh kerja sama sejumlah pihak untuk meraciknya di tengah situasi pandemi. Apalagi, penyebarannya takkan bisa ditekan sebelum penawar ditemukan.

Alasan lainnya, Bill Gates melalui yayasannya, Bill & Melinda Gates Foundation, memiliki rekam jejak yang apik dalam membantu mengatasi penyakit infeksi di dunia, bukan hanya menyangkut Covid-19.

 

Berita Lainnya