Media / Telisik

Napas terakhir majalah Misteri

Majalah investigasi supranatural Misteri berdiri pada 1974. Menghadirkan konten unik berupa mistik.

Napas terakhir majalah Misteri
Majalah Misteri terbit pertama kali pada 1974. /Yon Bayu Wahyono.

Sebuah rumah berlantai dua di Jalan Kramat V, Jakarta Pusat, tampak sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Papan besar bertuliskan nama-nama media terpampang di dinding rumah itu. Saya masuk ke halaman rumah, melalui pintu besi yang sangat sulit digeser.

Ketukan dan salam saya berkali-kali, tak ada yang membalas. Batang hidung penghuninya tak pernah muncul dari dalam rumah tersebut. Lantai teras rumah itu pun berserak daun-daun kering, yang rontok dari pohon rindang di sebelah rumah.

“Sudah tutup, Mas. Sudah lama kayaknya,” kata penjaga warung nasi, persis di sebelah rumah kosong tersebut.

Rumah ini merupakan kantor redaksi majalah investigasi supranatural: Misteri.

Sejenak, ingatan saya kembali ke akhir 1990-an, saat masih duduk di bangku SMA. Saya sempat membaca majalah ini dari seorang teman.

Mudah saja mendapatkannya di lapak-lapak koran dekat sekolah kami. Judul-judulnya membuat bulu kuduk merinding. Ilustrasinya pun khas, gambar sosok hantu atau wajah paranormal.

Kontennya mengangkat laporan soal kejadian gaib, benda pusaka, atau kisah tempat keramat. Menariknya, terdapat pula iklan paranormal yang menawarkan santet. Entah, mesti tersenyum atau sedih melihat iklan itu.

Pengalaman mistik

Misteri berdiri pada 1974. Pendirinya tokoh pers nasional Ibrahim Sinik. Majalah ini bernaung di bawah payung grup media Medan Pos. Selain Misteri, dalam grup media ini terdapat Medan Pos, Detektip Spionase, Sinar Reformasi, dan sebagainya.

Saya kemudian menghubungi Yon Bayu Wahyono, redaktur pelaksana terakhir di Misteri. Hampir setahun Yon tak lagi menggarap majalah berkonten mistik itu. Tak lagi gajian.

Yon saat ini sibuk menulis di blog pribadi dan buku. Dia sempat memegang kendali redaksi selama enam tahun, dari 2011 hingga 2017. Sebelumnya, Yon bekerja sebagai wartawan politik.

“Pimrednya saat itu berhenti mendadak. Saya diminta bantu di sini,” katanya, saat saya hubungi, Jumat (21/9).

Tentu saja, pindah ke media dengan konten berbeda, Yon kembali harus belajar. Dia mesti menyelami isu-isu tak kasatmata. Yon mengaku, di masa awal bergabung, dia mendatangi hampir seluruh tempat keramat di Indonesia.

“Aku pernah tidur di tempat keramat. Katanya angker, seperti di Gunung Sanggabuana (Jawa Barat), Gunung Srandil (Jawa Tengah), hingga Gunung Kelam (Kalimantan Barat),” kata Yon.

Yon juga mendatangi makam Nyi Roro Kidul, serta makam-makam yang dianggap keramat lainnya. Bekerja di majalah yang kerap menyajikan laporan supranatural, Yon pun memiliki pengalaman mistis.

Suatu hari, dia merasa benar-benar dibawa ke alam lain, ketika dirinya mencari keberadaan Suku Bunian di Jambi dan berkunjung ke Gunung Srandil di Jawa Tengah.

“Saat itu mungkin aku nggak percaya,” katanya.

Peristiwa itu terjadi saat awal dia bergabung dengan Misteri, antara 2011 hingga 2013. Seiring waktu, Yon percaya, dunia gaib itu benar-benar ada. Namun, memang tidak mungkin bisa dimasuki, kecuali orang tersebut percaya.

“Itu pun hanya ‘rasa’ dan ‘pikiran’ kita yang ke sana, bukan badan kita,” ujar Yon.

Kantor majalah Misteri di Jalan Kramat V, Jakarta Pusat, tampak kosong. (Fandy Hutari/Alinea).

Pembaca loyal

Redaksi Misteri memiliki tujuh redaktur di Jakarta. Mereka siap memasak dan menggoreng laporan dari reporter di beberapa daerah. Para reporter daerah ini melakukan reportase langsung di sejumlah tempat, seperti tempat keramat atau mencari benda gaib.

Misteri sempat mengalami masa jaya pada 2011 hingga 2015. Oplahnya luar biasa. Sebagai majalah yang terbit dua minggu sekali, sebulan mereka mencapai oplah 280 ribu eksemplar.

“Kami memiliki segmen pembaca yang loyal,” kata Yon.

Pelanggan majalah ini bukan saja dari dalam negeri. Menurut Yon, pembacanya juga berasal dari Hong Kong, Korea, dan kantung-kantung tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Mereka pun tak melulu menyasar pembaca dari kalangan menengah ke bawah. Orang-orang kelas atas pun ada yang menjadi pembacanya.

“Tapi bedanya, jika mereka beli majalah Tempo ditenteng dengan bangga. Namun, kalau beli majalah Misteri digulung. Tidak berani membawanya secara terbuka, karena malu,” ujar Yon.

Mereka unggul dibandingkan banyak pesaingnya, seperti Posmo, Liberty, Mantera, dan Histeri. Keunggulannya, kata Yon, konten Misteri lebih beragam. Misteri tak hanya menawarkan hiburan dengan cerita-cerita horor, tapi juga mengupas tentang berbagai masalah utama manusia dari sisi gaib.

Banyak persoalan hidup sehari-hari menyoal materi, seperti utang, cepat kaya, ingin naik pangkat, dan sebagainya dikupas. Kemudian, mereka memberikan solusi dari sisi gaib. Misteri menjadi referensi bagi mereka yang ingin menyelesaikan persoalannya secara gaib, misalnya melalui pesugihan.

“Hal-hal demikian hanya ada di majalah Misteri,” kata Yon.

Pemerhati media Ignatius Haryanto mengatakan kepada saya, Misteri memiliki segmen pembaca khusus, yakni sekelompok orang yang memang cukup merasa mistik merupakan konten media yang mereka butuhkan. Hal ini terkait dengan keberadaan orang-orang yang menjual jasa dalam bidang mistik.

“Dalam terminologi jurnalisme, media seperti Misteri, sering dikategorikan sebagai ‘koran kuning’, yakni koran yang menjual sensasionalisme kepada masyarakat,” kata Ignatius Haryanto, Selasa (25/9).

Sensasionalisme itu bisa berwujud berita kriminal, berita unik macam kambing berkepala dua, ikan yang ditubuhnya tertulis kata ‘Allah’, dan sebagainya. Ignatius melanjutkan, di Indonesia memang kaya khasanah mistik, terkait mitos-mitos lokal, cerita-cerita rakyat, hikayat-hikayat, dan sebagainya.

“Dan, entah mengapa ada sekelompok orang yang hobi berburu tempat-tempat mistik, memelihara sejumlah benda tertentu, seperti keris. Saya simpulkan, dari faktor ini semua yang membuat majalah Misteri bisa bertahan hidup,” ujar Ignatius.

Saya ingat betul, usai reformasi, media-media yang mengangkat dunia lain semacam Misteri tumbuh subur. Liberty yang terbit pada 1950-an bahkan ikut-ikutan mengarahkan laporan mereka ke konten sensasional, seperti dunia gaib hingga seks. Sebelumnya, Liberty terkenal karena konten berita hiburannya.

Ignatius memandang, hal ini tak lepas dari kebebasan jurnalisme setelah Orde Baru tumbang pada 1998. Di masa Orde Baru, kata Ignatius, rezim perizinan dari Departemen Penerangan secara langsung maupun tak langsung, menyeleksi media seperti apa yang boleh terbit dan tak boleh terbit.

Usai 1999, keluar Undang-undang Pers Nomor 40/1999. Seiring keluarnya aturan itu, tak ada lagi perizinan yang dikeluarkan pemerintah.

“Semua orang boleh menerbitkan pers sendiri, dan secara umum jumlah pers yang sempat muncul kala itu mencapai belasan ribu nama,” kata Ignatius.

Akan tetapi, lantaran salah manajemen, tak laku di pasar, dan ruang kompetisi terbatas, maka sejumlah media rontok. Pasar pula yang menjadi penyeleksi ilmiah media-media itu. Hanya media tertentu saja yang kemudian bertahan hidup.

“Harus diakui, ada banyak media yang sifatnya cuma ikut-ikutan peruntungan bisnis media, tanpa pengetahuan dan pengalaman memadai untuk mengelola media. Media yang seperti ini mudah rontok berhadapan dengan pasar,” ujarnya.

Beruntung, Misteri memiliki merek yang sudah kuat di benak masyarakat sebagai media yang menyajikan kisah-kisah mistik. Maka, media ini masih bisa bertahan hidup. Sejumlah media yang membuntut Misteri malah mati duluan.

Tak bisa beralih ke digital

Kalau tak salah, pada 2013 lalu, saya sempat membuka situs majalah Misteri, dengan alamat www.majalah-misteri.net. Namun, Yon membantah misteri pernah beralih ke digital. Menurutnya, selama bekerja di majalah itu, tak pernah ada wacana peralihan dari cetak ke digital.

Nggak pernah. Itu hanya ulah orang iseng saja,” katanya.

Yon mengatakan, mustahil bila Misteri diubah ke format digital. Pertama, dia melihat segmen pembacanya. Lebih dari 60% berasal dari lapisan menengah ke bawah, yang belum terlalu familier membaca secara digital.

Kedua, konten Misteri sangat spesifik, sehingga mudah dicuri media lain. Yon mengatakan, berbeda dengan portal berita, konten Misteri tak bisa dibuat mengikuti peristiwa. Siapapun, menurut Yon, tak akan bisa membuat media daring dengan segmen misteri.

“Kontennya sulit, karena bahannya terbatas,” katanya.

Sementara itu, Ignatius mengaku tak memiliki survei mengapa majalah mistik macam Misteri tak pindah ke digital. Namun, peneliti senior di Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Jakarta ini menduga, media mistik semacam Misteri memang hanya akan hidup di ranah cetak, dan kemungkinan akan kesulitan berkembang secara digital.

“Bagaimana pun juga, media digital punya logika sendiri, baik dari sisi kapitalisme pengelolaannya, kontennya, dan pengelolanya,” kata dia.

Akhir 2017, Misteri hanya terbit satu edisi, November-Desember 2017. Tak lagi terbit sebulan dua kali. Mereka mengalami penurunan oplah secara drastis. Saat itu, mereka hanya memiliki oplah 20 ribu eksemplar. Jumlah yang terlampau jauh bila dibandingkan saat masa-masa jayanya.

Di akhir-akhir riwayatnya, pemasang iklan sudah tak lagi bergairah menayangkan dagangan mereka di halaman-halaman Misteri.

“Tapi yang paling fatal adalah tidak adanya loper koran,” kata dia.

Loper koran sangat berharga menyambung hidup majalah ini agar tak mati. Masalahnya, mereka tak menjual Misteri dengan cara berlangganan. Seluruhnya langsung dilepas ke pasar. Tanpa adanya kios dan loper koran di lapangan, muskil bisa bergerak.

Empat puluh empat tahun bertahan sebagai media cetak, tentu saja sebuah hal yang sangat baik. Di tengah rontoknya media-media cetak lain, Misteri megap-megap bertahan hidup.

Namun, senggolan napasnya mesti berakhir pula. Dalam edisi pamungkas, mereka menurunkan laporan utama “Perjanjian Keramat Madame Blavatsky.”

Menurut Yon, masih terjadi pro-kontra di jajaran manajemen soal berhenti terbit Misteri. Namun, Yon dan sejumlah koleganya di redaksi sudah tak yakin untuk bisa kembali terbit seperti dahulu.

Bagaimana pun, Misteri sudah membuat ingatan kolektif saya, dan barangkali Anda, tentang sebuah media unik yang mengangkat soal mistik. Sejak 2018, kata Yon, praktis majalah ini belum terbit lagi.

Mungkin saatnya, sekarang harus bilang: Sayonara!


Berita Terkait