sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Profesor pincang dan ijazah tumpul, berita heboh dari pers kampus

LPM Suara Kampus membuat sebuah berita di tabloid saat itu dengan judul "Ijazah Kami Tumpul" dan sangat menimbulkan heboh di kampus.

Arpan Rachman
Arpan Rachman Jumat, 20 Agst 2021 13:24 WIB
Profesor pincang dan ijazah tumpul, berita heboh dari pers kampus

Setelah 43 tahun berdiri, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suara Kampus di Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang terus menjaga marwah independensinya dengan menerbitkan tabloid, portal pemberitaan daring, dan kanal Suara Kampus TV di You Tube.

LPM Suara Kampus meliput segala bentuk peristiwa yang ada nilai beritanya di kampus dan juga daerah bahkan skala nasional. "Kami menyediakan tiga kolom di portal. Selain berita kampus, ada kanal daerah dan nasional," kata Fachri Hamzah kepada Alinea.id melalui wawancara virtual, Rabu (18/8).

Dikatakannya bahwa aktivitas sehari-hari untuk portal sesuai dalam program kerja minimal sehari memiliki tiga berita dan tulisan non-karya jurnalistik ada dua. "Jadi lima tulisan dalam sehari yang harus diterbitkan. Redaktur yang nanti mengedit materi dari laporan para reporter yang mencari berita," ucap Fachri.

Wakil pemimpin redaksi bidang pemberitaan online LPM Suara Kampus itu mengaku pernah mendengar cerita heboh dari pengurus lama. Alkisah, dulu pada 2012, dalam tabloid LPM Suara Kampus meledak satu berita yang menjadi pusat perhatian.

"Waktu itu, banyak jurusan IAIN (Institut Agama Islam Negeri sebelum berbentuk UIN) yang tidak terdaftar di PDDikti (Pangkalan Data Pendidikan Tinggi). Jadi NIM (Nomor Induk Mahasiswa) mereka tidak terdaftar di pusat. Ketika mahasiswa IAIN telah lulus dan mendaftar jadi PNS (Pegawai Negeri Sipil), mereka tidak bisa mendaftar karena tidak terdaftar di PDDikti," serunya.

LPM Suara Kampus membuat sebuah berita di tabloid saat itu dengan judul "Ijazah Kami Tumpul" dan sangat menimbulkan heboh di kampus bahkan orang Dikti datang langsung ke UIN Imam Bonjol setelah ada pemberitaan itu.

Ada satu berita lain lagi. Judulnya "Profesor Sampai Kapan Pincang?" tentang profesor yang setelah diangkat jadi profesor mereka tidak sibuk lagi menggiatkan jurnal dan penelitian. "Itu juga sempat heboh. Malah ada surat dari rektor UIN kepada LPM Suara Kampus waktu itu," tutur Fachri.

Selama dirinya aktif di LPM Suara Kampus, kendala atau hambatan yang biasa dihadapi oleh redaksi terkait pemberitaan, paling-paling menemukan narasumber yang agak sulit dijumpai. Misalnya mereka sangat butuh rektor untuk mengklarifikasi suatu hal, terkadang rektor sibuk, jadi terpaksa membuat narasi: "...ketika rektor dihubungi tidak memberikan tanggapan." Hingga dirasakannya berita seakan-akan tidak lengkap. Kadang-kadang ada juga narasumber yang tidak mau diwawancarai. Kalau untuk pemberitaan mungkin hanya dua masalah itu saja.

Sponsored

"Kepuasan yang paling utama mungkin di LPM Suara Kampus kita menjadi orang yang tahu tentang bagaimana masalah di kampus sementara ada sebagian mahasiswa yang tidak tahu. Itu kalau kita di LPM ini tahu bahkan sekecil apa pun masalah di kampus dan itu pada umumnya tidak diketahui oleh mahasiswa lain. Keunggulan kita mungkin adalah menulis, karena kita dilatih untuk menulis dan membaca," ujarnya.

UIN Imam Bonjol Padang memberikan sebuah sekret yang dinamakan Kantor Redaksi LPM Suara Kampus. Kehidupan di sekret redaksi itu sejak siang hari tidak terlepas dari meliput dan menyunting berita, seperti itulah.

Sementara kegiatan awak pers di luar kampus lebih dikembalikan kepada individu masing-masing. "Biasanya kami berdiskusi tentang literasi. Kalau untuk kehidupan di luar itu, ada juga kawan-kawan yang aktif di komunitas tertentu atau punya kegiatan lain," imbuh Fachri.

Kebijakan LPM Suara Kampus membolehkan anggotanya untuk berorganisasi lain. Tapi kalau untuk organisasi-organisasi di dalam kampus seperti ikut himpunan, Dewan Mahasiswa, atau Badan Eksekutif Mahasiswa sangat ditekankan itu tidak boleh. "Karena akan sangat menggoyahkan independensi kita sebagai wartawan," tegasnya.

Ketertarikan Fachri menghidupkan pers kampus lewat LPM Suara Kampus termotivasi di awal-awal masuk kuliah UIN Imam Bonjol dia memang ingin menjadi seorang jurnalis. "Jadi karena itu, maka tertarik masuk ke LPM Suara Kampus dan kenapa berniat sekali menghidupkan pers kampus? Karena hanya kita yang bisa mengakses data, informasi yang tidak bisa diperoleh orang umum dan ibaratnya bagi saya itu adalah jalan suci," sahut Fachri.

"Kita memberitakan apa yang sebelumnya tidak diketahui orang. Dan tulisanlah yang akan dikenang ketika kita sudah mati kan?" tambahnya.

Harapannya terhadap kehidupan pers kampus di masa akan datang agar hendaknya kampus sendiri lebih mendukung pers kampus, karena itu sebagai kontrol sosial kehidupan kampus. Supaya tidak terlalu mengintervensi kawan-kawan jurnalis dan memberikan kemudahan dalam menemui narasumber seperti rektor dan lain-lain.

"Karena pers kampus menaati kode etik jurnalistik dan juga etika-etika jurnalistik lainnya. Satu lagi yang ingin saya tekankan, kami adalah pers bukan sebagai humas kampus yang harus memberitakan acara-acara kampus, tapi kami adalah pers kampus yang independen," tutur Fachri.

Dia tidak menampik kabar dari kawan-kawan pers kampus lain, bahkan ada yang ketika mau mencetak, maka mereka harus memberikan contoh terbitan yang akan dicetak kepada Wakil Rektor III dulu. (Nanti) kalau WR III tidak setuju, isi tertentu di dalam cetakan yang akan dipublikasikan tersebut harus dihilangkan. "Sangat mengekang kebebasan pers jadinya. Itu cerita dari kawan-kawan pers kampus yang lain," pungkasnya.

Berita Lainnya