Visa ditolak, wartawan Financial Times Asia terancam diusir

Hongkong menolak memperbarui visa kerja Mallet, karena mengundang pendiri Partai Bangsa Hongkong, Andy Chan dalam pidato kemerdekaan

Visa ditolak, wartawan Financial Times Asia terancam diusir
ilustrasi: Jurnalis. Foto: Pixabay

Seorang wartawan Financial Times Asia yang juga wakil ketua Klub Wartawan Asing (FCC), Victor Mallet, terancam diusir dari Hongkong. Hongkong menolak memperbarui visa kerja Mallet karena mengundang pendiri Partai Bangsa Hongkong, Andy Chan dalam penyelenggaraan pidato kemerdekaan.

"Ini pertama kali kami alami di Hongkong. Kami belum diberi alasan untuk penolakan itu," demikian pernyataan Surat kabar tempat Mallet bekerja, Financial Times Asia.

Menurut Financial Times Asia, penolakan pembaruan visa Mallet dilakukan atas permintaan salah satu pejabat di Hongkong. Berita penolakan itu muncul 2 bulan sesudah pejabat pemerintah di China dan Hongkong mengecam organisasi FCC, salah satu kelompok pers terkemuka di Asia, atas penyelenggaraan pidato pegiat kemerdekaan yang menggalakkan kembali tentang kelangsungan hidup kebebasan di kota tersebut.

Mallet selaku wakil ketua FCC, belum menanggapi permintaan untuk berpendapat. Sementara departemen imigrasi Hongkong menyatakan tidak menanggapi perkara tertentu.

Seperti diketahui, pada Agustus Mallet yang letika itu menjabat sebagai ketua sementara FCC, mengadakan acara di mana FCC berlaku sebagai tuan rumah. Dalam acara tersebut, Mallet mengundang pegiat pendukung kemerdekaan Andy Chan, pihak yang dikecam keras Kementerian Luar Negeri China. Pihak China mendesak FCC menarik undangan kepada Chan, yang secara resmi dilarang pemerintah Hongkong pada bulan lalu.

Pihak berwenang di Beijing dan Hongkong menyatakan gagasan kemerdekaan tidak sejalan dengan asas "satu negara, dua pranata", yang mengatur wilayah Hongkong sejak Inggris menyerahkannya kembali ke China pada 1997. Asas tersebut menjanjikan Hongkong menjadi wilayah yang mandiri dan memiliki kebebasan tinggi, di mana tidak dinikmati di tempat lain di China.

Mallet pada Agustus menyatakan FCC tidak mendukung atau menentang pandangan beragam para pembicara, sepenuhnya menghormati hukum dan memperjuangkan kebebasan berbicara dan kebebasan berpendapat.

Terkait hal ini, Human Rights Watch menyatakan penolakan visa Mallet menunjukkan adanya penurunan kualitas hak asasi manusia di Hongkong. Menurut lembaga HAM tersebut, hal itu mengejutkan karena belum pernah terjadi sebelumnya.

"Penolakan pembaruan visa tanpa penjelasan atas wartawan, yang tidak melakukan apa pun selain pekerjaannya, menunjukkan penekanan gaya Beijing," tulis pernyataan Human Rights Watch. (Ant)


Berita Terkait

Kolom