logo alinea.id logo alinea.id

14.000 anak Indonesia positif HIV

Anak pengidap HIV tidak tertular karena hubungan seksual. Tetapi, biasanya karena warisan dari ibunya yang pengidap HIV positif 

Rakhmad Hidayatulloh Permana Jumat, 30 Nov 2018 15:37 WIB
14.000 anak Indonesia positif  HIV

Berita tentang tiga bocah SDN 2 Nainggolan Samosir yang dilarang bersekolah karena ketahuan mengidap HIV pada Oktober lalu, memicu keprihatinan dari sejumlah pihak. Salah satunya dari Country Director UNAIDS Indonesia, Tina Boonto.

Menurut data yang dia peroleh, jumlah anak pengidap HIV sudah sekitar 14.000 dari 630.000 pengidap HIV di seluruh Indonesia

"Jumlah anak pengidap HIV sekitar 14.000. Jadi dari 630.000, anak-anak usia 0-15 tahun itu sekitar 14.000 mengidap HIV," kata dia, dalam acara yang digelar di kantor LBH Masyarakat Jakarta, Jumat (30/11). 

Anak pengidap HIV juga sama dengan bocah lainnya. Mereka mempunyai hak dasar yang sama, tidak terkecuali hak atas pendidikan. Maka tidak semestinya mereka mendapat perlakuan berbeda.

Anak pengidap HIV tidak tertular karena hubungan seksual. Tetapi, biasanya karena warisan dari ibunya yang pengidap HIV positif 

"Transmission (penularan) itu biasanya dari ibu. Ibu yang sudah terkena HIV sewaktu mereka hamil tidak dapat ARV profilaiksis (treatment penurunan virus HIV). Jadi sekarang ini ibu hamil walaupun mempunyai HIV dan ikut program ARV selama dia hamil, virusnya bisa menurun dan anaknya bisa selamat," katanya. 

Dia pun menduga 14.000 anak yang terkena HIV itu, mungkin saja karena sang ibu tak mendapatkan akses untuk treatment ARV Profilaksis.

Dia menegaskan kalau peran tokoh agama dalam menanggulangi stigma pada anak pengidap HIV ini bisa signifikan, karena mereka mempunyai pengaruh. 

Sponsored

"Tokoh agama kalau benar peduli, sebaiknya jangan terlalalu fokus pada moral. Seharusnya lebih banyak memberikan informasi yang benar soal HIV. Meminta masyarakat untuk memberi dukungan pada mereka," ujarnya. 

Berdasarkan hasil pengamatannya, tren stigma pada pengidap HIV ini terus meningkat. Ditambah lagi, isu ini sekarang juga ikut digoreng menjelang tahun politik.

Sementara Ketua Pengurus Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat Prof Irwanto mengatakan, media harus berperan dalam menyetop stigma negatif masyarakat terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Peran media sangat penting untuk bisa menyetop atau bahkan sebaliknya malah bisa melanjutkan stigma negatif tersebut. Salah satunya melalui pemberitaan bergantung pada pengetahuan para jurnalis terhadap HIV/AIDS itu sendiri.

"Kalau media yang menyebarkan informasi tidak memahami, bahkan membuat berita tidak benar seperti penularan melalui jarum suntik di bioskop atau tusuk gigi, ini akan jadi runyam," kata Irwanto.

Sudah seharusnya pihak-pihak terkait di bidang kesehatan bekerja sama dengan media untuk meningkatkan pemahaman terhadap penyakit HIV/AIDS.

Mantan menteri kesehatan Nafsiah Mboi mengamini pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa media massa dan media sosial sangat berperan dalam penyebaran pemahaman yang benar atau salah. "Di media, atau di sosial media, kalau ada satu kejadian stigma terhadap ODHA, menjadi terus berulang-ulang," kata Nafsiah.

 

Sumber : Antara