close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Diskusi bedah buku Hijrah dari Radikal kepada Moderat di UIN Jakarta, Senin (23/12).Alinea.id/Fadli Mubarok
icon caption
Diskusi bedah buku Hijrah dari Radikal kepada Moderat di UIN Jakarta, Senin (23/12).Alinea.id/Fadli Mubarok
Nasional
Senin, 23 Desember 2019 16:50

Agama menjadi faktor terbesar terjadinya radikalisme

Ada kelompok teroris yang hendak menjadikan agama mayoritas di suatu negara sebagai instrumen penyebaran ideologi mereka.
swipe

Pemahaman radikalisme dan terorisme tidak dapat dikaitkan hanya dengan faktor agama. Ada faktor lain yang dapat menyebabkan masyarakat terpapar pemahaman radikalisme dan terorisme.

Kendati begitu, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Azyumardi Azra mengaku tidak menafikan jika agama menjadi faktor terbesar. Tidak heran jika ada kelompok teroris yang hendak menjadikan agama mayoritas di suatu negara, sebagai instrumen penyebaran ideologi mereka.

"Sasarannya kepada masyarakat yang memiliki pemahaman minim tentang agama. Di Indonesia, faktor pemahaman keislaman yang tidak komprehensif, pemahaman keislamannya mungkin terpotong-potong. Sehingga mudah terpengaruh paham radikal," kata dia dalam diskusi bedah buku Hijrah dari Radikal kepada Moderat di UIN Jakarta, Senin (23/12).

Untuk itu, ia mendorong pemerintah agar lebih optimal dalam mensosialisasikan kebhinekaan di Tanah Air. Sayangnya sosialisasi tentang negara di masyarakat masih terbilang minim dilakukan pemerintah.

Sebagai contoh sosialisasi di kampus yang masih minim. Bagi cendekiawan muslim ini, mahasiswa sangat membutuhkan asupan nasionalisme bela negara. Pasalnya, banyak korban terpapar radikalisme dari kalangan mahasiswa.

"Sekarang ini hampir tidak ada kegiatan penguatan empat pilar di kampus-kampus. Kalau tidak dilakukan, maka paham yang mendorong radikalisme bisa tumbuh dengan leluasa. Jadi harus ada kontra wacana," ujar dia.

Selain itu, Azyumardi juga mendorong agar eks narapidana terorisme (napiter) dijamin mendapatkan keamanan secara psikologi dan sosial oleh negara. Hal itu perlu dilakukan agar eks napiter tidak kembali kepada pemahaman tersebut.

Selain itu, eks napiter juga perlu diberikan bantuan ekonomi atau modal usaha. Dengan begitu, eks napiter dapat menjalani kehidupan yang lebih positif dan memandang pemerintah lebih baik lagi.

Sementara itu, Direktur Pusat Studi Islam dan Pancasila Universitas Muhammadiyah Jakarta Mamum Murod Al-Barbasy, mengatakan, masalah radikalisme dan terorisme harus dilihat dari perspektif yang objektif.

Ketika banyak narasi yang menyatakan, agama merupakan faktor penyebaran pemahaman radikalisme dan terorisme, maka negara juga patut dicurigai atas mengguritanya pemahaman tersebut.

Apalagi secara historis, ada peran negara dalam menghidupkan pemahaman radikalisme dan terorisme. Sebagai contoh saat zaman Belanda. Mereka yang melawan Belanda dituduh ekstrem. Setidaknya ada dua hal yang menyebabkan itu terjadi, yakni teks-teks kitab suci dan provokasi dari Belanda

img
Fadli Mubarok
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan