sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

AHY soroti kenaikan harga BBM di Rapimnas Demokrat

AHY sebut BLT jadi penyangga utama daya beli masyarakat.

Gempita Surya
Gempita Surya Jumat, 16 Sep 2022 17:41 WIB
AHY soroti kenaikan harga BBM di Rapimnas Demokrat

Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyinggung soal kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam pidatonya di Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Demokrat. Menurutnya, naiknya harga BBM yang diikuti kenaikan harga bahan pokok membuat beban rakyat semakin sulit.

"Dengan naiknya harga BBM, inflasi sudah pasti naik, harga bahan pokok juga pasti naik. Konsekuensinya, daya beli menurun. Minyak goreng, telur ayam, cabai, beras, bawang, kedelai, makin sulit dijangkau masyarakat kita," kata AHY saat Rapimnas Demokrat di JCC, Jakarta Pusat, Jumat (16/9).

Disampaikan AHY, kondisi kehidupan sosial ekonomi masyarakat tengah menghadapi tekanan berat. Menurutnya, ada sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan keuangan Indonesia selain menaikkan harga BBM.

"Misalnya, dengan melakukan realokasi anggaran, penentuan prioritas, termasuk penundaan sejumlah proyek nasional yang tidak sangat mendesak," ujarnya.

AHY juga menyampaikan solusi yang diusulkan pihaknya kepada pemerintah terkait persoalan tersebut. Salah satunya yakni bantuan kepada rakyat ekonomi menengah atau BLT yang jumlah uangnya harus cukup, tepat sasaran, dan harus bebas dari politik.

"BLT, produk kebijakan SBY yang dulu ditentang oleh sebagian kalangan, justru sekarang ditiru, dan terbukti menjadi penyangga utama daya beli masyarakat," ucap AHY.

Selain itu, AHY juga menyoroti soal kenaikan harga BBM di tengah harga minyak dunia yang turun. Menurutnya, alasan dan waktu pengambilan keputusan untuk menaikkan harga BBM dinilai tidak tepat.

"Jika harga minyak mentah dunia turun, maka turunkan kembali harga BBM kita. Jangan sebaliknya, ketika harga minyak dunia turun, kok malah harga BBM dinaikkan," ucap dia.

Sponsored

AHY menekankan, saat ini situasi perekonomian dunia sedang mengalami kondisi sulit, dan dampak dari krisis tersebut juga telah dirasakan oleh Indonesia. Oleh karena itu, menurutnya, pemerintah perlu tanggap agar rakyat tidak semakin terdampak.

"Namun jika pemerintah tidak cakap melakukan antisipasi dan adaptasi yang diperlukan, maka perekonomian kita tidak selamat, dan rakyat tentu yang akan menderita karenanya," tuturnya.

Berita Lainnya
×
tekid