sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Begini kondisi Gunung Anak Krakatau setelah satu tahun tsunami

Hanya dalam satu tahun, ketinggian Gunung Anak Krakatau sudah tumbuh menjadi 157 mdpl.

Khaerul Anwar
Khaerul Anwar Kamis, 26 Des 2019 06:04 WIB
Begini kondisi Gunung Anak Krakatau setelah satu tahun tsunami
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1986
Dirawat 1671
Meninggal 181
Sembuh 134

Gunung Anak Krakatau (GAK) masih terus melakukam aktifitas setelah satu tahun peristiwa longsoran sebagian tubuh gunung yang mengakibatkan gelombang bencana tsunami Selat Sunda.

GAK kehilangan 2/3 ketinggian dan volume tubuhnya atau sekitar 150 hingga 170 juta meterkubik dan hanya tersisa 40-70 meterkubik.

Sebelum longsor, ketinggian gunung api purba di tengah perairan Selat Sunda itu mencapai 338 meter dari permukaan laut (mdpl). Usai longsor dan menyebabkan gelombang tsunami, ketinggiannya tinggal menyisakan 110 mdpl. Tetapi hanya dalam satu tahun, ketinggian GAK ternyata sudah tumbuh menjadi 157 mdpl.

Berdasarkan hasil pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), GAK masih mengeluarkan hembusan abu vulkanik, sehingga menyebabkan terjadinya aktifitas kegempaan. 

"Untuk sekarang kegiatannya sedikit menurun, kegempaan didominasi hembusan dan low frekuensi saja. Status masih waspada," kata Kepala Pos Pantau GAK Lampung, Andi Suandi saat di konfirmasi, Rabu (25/12).

Meski begitu, Pos Pantau GAK tidak merekapitulasi jumlah gempa di GAK dalam setahun.

"Kalau setahun tidak ada (datanya), mungkin pusat yang evaluasi, kami hanya melaporkan kegiatan harian. Biasanya kalau ada letusan, ketinggian dan luas GAK bisa bertambah lagi," katanya.

Untuk diketahui berdasarkan, pemantauan aktifitas Gunung Anak Krakatau yang diterima, Rabu 25 Desember 2019, GAK masih berstatus Waspada atau Level II, dengan jumlah kegempaan sebanyak 11 kali, lalu guncangan tremor yang terekam dengan amplitudo 0.5-5 mm (dominan 1 mm).

Sponsored

Berdasarkan rekaman CCTV di puncak kawah teramati kepulan asap putih dengan ketinggian 50 meter. Masyarakat, nelayan dan wisatawan diimbau untuk tidak mendekati GAK dalam radius 2 km dari GAK.

Provinsi Banten mengalami bencana akibat tsunami Selat Sunda, akhir tahun lalu. Akibat bencana tersebut, sebanyak 317 orang meninggal dunia, 757 orang luka-luka dan tiga orang hilang. Sementara kerugian material mencapai 1.091 rumah rusak, 108 kendaraan roda empat, 95 kendaraan roda dua, 102 perahu, serta 37 hotel dan vila rusak.

 

Berita Lainnya