close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi. Pixabay
icon caption
Ilustrasi. Pixabay
Nasional
Rabu, 21 Desember 2022 09:42

BMKG ingatkan potensi cuaca ekstrem saat periode libur Nataru

Ada potensi peningkatan curah hujan dan gelombang tinggi di sejumlah wilayah di Indonesia.
swipe

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan adanya potensi peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah di Indonesia dalam satu minggu ke depan, khususnya selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2022/2023.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan, terdapat beberapa wilayah dengan potensi siaga yang perlu diwaspadai pada 21-23 Desember 2022. Berdasarkan platform informasi Prakiraan Berbasis Dampak BMKG, sejumlah wilayah tersebut meliputi sebagian wilayah di Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Selain itu, potensi siaga juga harus diwaspadai di sebagian wilayah Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Maluku, Papua.

"Khusus untuk tanggal 24 Desember 2022, potensi siaga dari prakiraan berbasis dampak perlu diwaspadai di sebagian wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan," kata Dwikorita dikutip dari keterangan resmi, Rabu (21/12).

Lebih lanjut, imbuh Dwikorita, beberapa wilayah juga mesti waspada terhadap potensi hujan dengan intensitas signifikan pada periode 25 Desember 2022 hingga 1 Januari 2023. Hujan lebat hingga sangat lebat berpotensi terjadi di wilayah Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur,  Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku.

Kemudian, hujan sedang hingga lebat berpotensi terjadi di wilayah Aceh, Lampung, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua.

Dwikorita juga mengingatkan adanya potensi gelombang tinggi di wilayah perairan Indonesia yang perlu diwaspadai pada periode 23-27 Desember 2022.

Gelombang dengan kategori tinggi gelombang 2,5 hingga 4,0 meter berpotensi terjadi di Perairan Aceh, Laut Natuna, Selat Karimata, Laut Jawa, Laut Bali, Laut Sumbawa, Laut Flores, dan Selat Sunda.

Potensi yang sama juga terdapat di Perairan selatan Banten, Perairan selatan Jawa, Perairan selatan Bali, Perairan selatan Lombok, Perairan selatan Sumbawa, Perairan Pulau Sumba, dan Perairan barat Sulawesi Selatan.

Lalu, perlu diwaspadai juga terjadi potensi gelombang dengan kategori tinggi 2,5 hingga 4,0 meter di Selat Makassar bagian utara, Perairan Halmahera, Laut Arafuru bagian barat, Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat, dan Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Timur.

“Kategori tinggi gelombang 4,0 hingga 6,0 meter di Samudra Hindia selatan Banten, Samudra Hindia selatan Jawa Barat, Samudra Hindia selatan Jawa Tengah, Samudra Hindia selatan Jawa Timur, Samudra Hindia selatan Bali, Laut Natuna Utara, Selat Makassar bagian selatan,” ujar Dwikorita.

Dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem tersebut, Dwikorita meminta pihak-pihak terkait untuk melakukan sejumlah persiapan. Persiapan tersebut di antaranya, memastikan kapasitas infrastruktur dan sistem tata kelola sumber daya air siap untuk mengantisipasi peningkatan curah hujan.

Kemudian, melakukan penataan lingkungan. Hal ini dilakukan dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak melakukan pemotongan lereng atau penebangan pohon yang tidak terkontrol, dan melakukan program penghijauan secara lebih masif. Lalu, melakukan pemangkasan dahan dan ranting pohon yang rapuh serta menguatkan tegakan/tiang agar tidak roboh tertiup angin kencang.

Upaya persiapan menghadapi potensi cuaca ekstrem juga dilakukan dengan menggencarkan sosialisasi, edukasi, dan literasi secara lebih masif kepada seluruh pihak. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian dalam pencegahan atau pengurangan risiko bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, banjir bandang, angin kencang, puting beliung, dan gelombang tinggi). Tak hanya itu, persiapan juga dilakukan dengan lebih mengintensifkan koordinasi, sinergi, dan komunikasi antarpihak terkait untuk kesiapsiagaan antisipasi bencana hidrometeorologi.

“Masyarakat pengguna transportasi angkutan penyeberangan perlu meningkatkan kewaspadaan sebagai salah satu upaya adaptasi dan mitigasi kondisi tersebut,” tutur Dwikorita.

Dwikorita menambahkan, ia mengimbau semua pihak untuk terus memonitor informasi perkembangan cuaca dan peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG. Informasi lebih rinci dan detail untuk tiap kecamatan di seluruh wilayah Indonesia dapat diperoleh melalui saluran informasi resmi BMKG atau dengan menghubungi kantor BMKG terdekat.

img
Gempita Surya
Reporter
img
Ayu mumpuni
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan