Nasional / Bom Surabaya

Bom Surabaya dilakukan satu keluarga pengikut JAD

Identitas pelaku ialah Dita Supriyanto bersama istri dan empat anaknya. Dita diduga menjabat sebagai Ketua JAD Surabaya.

Bom Surabaya dilakukan satu keluarga pengikut JAD Kapolri Jenderal Tito Karnavian saat mengunjungi Mako Brimob, Kamis (10/5) malam/Cantika Dinda

Tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur menjadi sasaran bom teroris, Minggu (13/5) pagi. Akibat peristiwa itu, 10 orang meninggal dunia dan 41 lainnya terluka.

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian memastikan anggotanya telah mengidentifikasi pelaku pengeboman ketiga gereja tersebut. Ironisnya, pelaku merupakan satu keluarga. Serangan di Gereja Jalan Arjuna, Pantekosta menggunakan mobil Toyota Avanza yang diduga keras dilakukan Dita Supriyanto, ayah empat anak.

"Tim sudah berhasil mengidentifikasi, jadi pelaku ini diduga satu keluarga," jelas Tito seperti dilansir Antara.

Selain itu, berdasarkan investigasi sementara, ditemukan fakta bahwa Supriyanto sempat menurunkan sang istri Puji Kuswati, kelahiran Banyuwangi dan dua putrinya berinisial FS yang masih berusia 12 tahun serta PZ, bocah 9 tahun. Ketiganya juga menjadi pelaku bom bunuh diri.

Sedangkan insiden bom di Gereja Santa Maria diduga dilakukan oleh dua putra Supriyanto yang bernama Yusuf Fadil (18) dan Firman Halim (16). "Semuanya adalah serangan bom bunuh diri tapi jenis bom berbeda," paparnya.

Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) itu memperkirakan ledakan bom di Jalan Arjuna ini yang terbesar dibanding dua lokasi lainnya. Tito menyebut bom tersebut diletakkan pada pinggang pelaku berdasarkan ciri-ciri kerusakan yang diakibatkan.

"Karena yang rusak adalah bagian perutnya saja baik ibunya maupun anaknya sedangkan bagian atas dan bawah masih utuh tapi di tempat itu tidak ada korban dari masyarakat," paparnya.

Saat ini, polisi masih menginvestigasi bahan peledak yang digunakan pelaku. Dita Supriyanto, diduga menjabat sebagai Ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya. JAD sendiri ditengarai berada di bawah perintah Islamic State in Iraq and Syria (ISIS). Dikutip dari Tribaratanews, kelompok tersebut diduga kecewa karena pimpinan mereka Aman Abdurahman dan Zainal Anshori ditangkap aparat.

"Jadi ini ciri khas dari bom-bom dengan bunuh diri, tapi jenis bom berbeda dengan bahan peledaknya apa akan dilakukan penyelidikan Labfor Polri," tandasnya.


Berita Terkait