sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Ditanya kemungkinan tersangka, Alex Noerdin: Jangan ngomong gitulah

Pemeriksaan terhadap Alex Noerdin diketahui dapat terlaksana setelah Kejaksaan Agung memanggilnya untuk kali kedua.

Ayu mumpuni
Ayu mumpuni Rabu, 14 Agst 2019 19:16 WIB
Ditanya kemungkinan tersangka, Alex Noerdin: Jangan ngomong gitulah

Mantan Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin, tak banyak berkomentar saat ditemui wartawan setelah menjalani pemeriksaan selama enam jam oleh Kejaksaan Agung. Diketahui, Alex Noerdin diperiksa terkait dugaan tindak pidana korupsi dana hibah dan bantuan sosial Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan pada 2013. 

Ketika keluar dari ruang bundar kantor Kejaksaan Agung, Alex Noerdin sempat ditanya soal poin-poin yang menjadi pertanyaan pihak penyidik. Namun demikian, Alex Noerdin tak mau menjelaskannya. Selanjutnya, saat ditanya dirinya kemungkinan akan jadi tersangka, baru Alex berkomentar.

“Jangan ngomong gitulah, saya tidak mau jawab yang kayak gitu-gitu," kata Alex usai menjalani pemeriksaan di Kejaksaan Agung pada Rabu (14/8).

Pemeriksaan terhadap Alex Noerdin diketahui dapat terlaksana setelah Kejaksaan Agung memanggilnya untuk kali kedua. Pada panggilan pertama, Alex tak hadir. Ia mengaku ketika itu tengah berada di luar kota. "Minggu lalu saya tidak hadir karena saya sedang di luar kota," ujarnya.

Sementara kuasa hukum Alex Noerdin, Susilo Ariwibowo, menuturkan kliennya dipanggil hari ini setelah dikeluarkan surat perintah penyidikan (sprindik) kedua oleh Kejaksaan Agung. Setelah dikeluarkan sprindik tersebut, Kejaksaan Agung meminta keterangan Alex Noerdin sebagai saksi.

Menurut Susilo, materi pemeriksaan hari ini terhadap kliennya berkaitan dengan bantuan sosial tahun 2013 lalu, di mana Alex Noerdin masih menjabat sebagai gubernur. Ia memastikan Alex Noerdin akan selalu bersikap kooperatif dalam setiap pemeriksaan oleh kejaksaan.

“Pemeriksaan kali ini berkaitan dengan bansos 2013. Tentunya kejaksaan lebih paham. Kami kooperatif ya,” ucap Susilo.

Seperti diketahui, mencuatnya kasus ini berawal dari penemuan Kejaksaan Agung mengenai adanya penerimaan fiktif dana bantuan sosial. Para penerima dana bansos diduga membuat akta palsu untuk menerima bantuan dari pemerintah.

Sponsored

Kejagung kemudian telah menetapkan dua tersangka yaitu Laonma Tobing, Kepala BPKAD Provinsi Sumatera Selatan dan Ikhwanuddin, mantan Kepala Kesbangpol Provinsi Sumatera Selatan. Penetapan tersangka itu dilakukan setelah penyidik memeriksa sejumlah saksi yakni anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan.

Hasil pemeriksaan mengungkap, penyidik menemukan adanya penyimpangan dalam perubahan anggaran untuk dana hibah dan bansos sebesar Rp1,4 triliun. Namun, dana itu berubah menjadi Rp2,1 triliun. Selain itu, selama perencanaan hingga pelaporan pertanggungjawaban terdapat dugaan pemotongan, peruntukan fiktif, dan ketidaksesuaian peruntukan.