sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Dokter Reisa dan riuh rendah new normal di jagat maya

Kehadiran dokter Reisa sebagai wajah pemerintah dalam penanganan Covid-19 diapresiasi warganet.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Rabu, 17 Jun 2020 19:03 WIB
Dokter Reisa dan riuh rendah new normal di jagat maya
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 72347
Dirawat 35349
Meninggal 3469
Sembuh 33529

Setelah sepekan vakum, Senin (15/6) lalu, dokter Reisa Broto Asmoro akhirnya muncul lagi menyapa para pengikutnya di Instagram. Dalam sebuah video berdurasi 1 menit 37 detik, Reisa mengaku sedang tak bisa ber-Instagram ria lantaran sibuk dengan pekerjaan barunya. 

"Maaf, ya, belum sempat posting apa-apa karena harus fokus dulu nih dengan tanggung jawab baru yang diberikan oleh Tuhan. Terima kasih atas atensi dan dukungan," kata Reisa. 

Reisa kini memang ditugaskan membantu juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto. Pekan lalu, dara berusia 34 tahun itu diperkenalkan ke publik oleh Yurianto di sela-sela rutinitasnya mengumumkan perkembangan terbaru wabah Covid-19 di Indonesia. 

Sebagaimana tugas barunya kini, Reisa juga menyelipkan ajakan hidup sehat di tengah pandemi Covid-19 dalam video tersebut. "Kalau masih ada yang belum patuh dan disiplin, saling tegur dan diingatkan, ya. Jadikan ini gerakan nasional untuk kebaikan bersama," finalis ajang Putri Indonesia itu. 

Menurut juru bicara Presiden Joko Widodo (Jokowi), Fadjroel Rahman, Reisa bakal bertugas untuk mengedukasi masyarakat agar cepat beradaptasi saat menyongsong kebijakan new normal atau kenormalan baru dengan tetap menerapkan protokol-protokol kesehatan.

"Dokter Reisa Broto Asmoro secara resmi adalah TIM KOMUNIKASI PUBLIK GUGUS TUGAS Covid-19, sedangkan Dokter Yurianto adalah Jubir Covid-19. Keduanya memberikan informasi & edukasi ke publik. Tetap disiplin memakai masker, menjaga jarak fisik, mencuci tangan & tidak berkerumun ~ FR," ujar dia dalam akun Twitter terverifikasi @fadjroeL.

Kehadiran Reisa di panggung Covid-19 sontak jadi perhatian warganet. Dengan sengitnya, para netizen berdebat mengenai paras cantik dan penampilannya saat mendampingi Yurianto. Nama Reisa bahkan sempat trending di jagat Twitter.  

Sponsored

Ditanya mengenai langkah pemerintah menunjuk Reisa sebagai pendampingnya, Yurianto irit bicara. Ia hanya menyebut penunjukan pemandu acara DR OZ Indonesia itu atas instruksi Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo). 

"Maaf yang nunjuk bukan saya. Dr Reisa anggota tim komunikasi publik sesuai arahan Menkominfo," kata Yurianto saat dihubungi Alinea.id di Jakarta, Selasa (16/6).

Meski baru sepekan hadir di layar kaca, menurut analis Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, penunjukan Reisa sebagai wajah pemerintah untuk menggaungkan kampanye new normal diapresiasi positif oleh publik. 

"Netizen yang merespons kebanyakan baru dari kalangan umum. Tren sementara berhasil membangun kepercayan dan sentimen positif terhadap strategi komunikasi pemerintah," jelas Fahmi. 

Dokter Reisa Broto Asmoro (tengah) bersama dengan anggota tim komunikasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Foto Instagram @reisabrotoasmoro

Reisa di tengah kampanye new normal 

Meski tak signifikan, hasil riset Alinea.id menemukan bahwa kehadiran Reisa turut mendongkrak sentimen positif warganet terhadap konsep new normal, khususnya di Twitter. 

Jika jumlah percakapan dan sentimen warganet sepekan sebelum dan sesudah Reisa ditunjuk jadi jubir dibandingkan, terdapat kenaikan sentimen positif warganet hingga 8%. 

Sepekan sebelum Reisa diperkenalkan ke publik atau periode 1-7 Juni, ada 75% percakapan terkait new normal yang sentimennya positif. Sebanyak 15% bernuansa negatif dan 10% bernuansa netral. 

Sentimen positif naik setelah Reisa ditunjuk jadi jubir atau pada periode 8-15 Juni. Jumlah percakapan bersentimen positif mencapai 83%, sedangkan yang negatif hanya 11%. Sisanya merupakan percakapan terkait new normal yang nuansanya netral.

Namun demikian, sentimen itu bukan hanya dihasilkan oleh Reisa. Pada 12 Juni misalnya, sentimen positif didongkrak sosialisasi new normal yang masif oleh akun-akun humas polda dan Polri. 

Sebelum Reisa hadir, warganet sebenarnya sudah lazim memperdebatkan new normal. Sepanjang 15 Mei-15 Juni 2020, tercatat 326.808 cuitan bertagar populer terkait new normal yang diunggah warga Twitter. Tiga tagar terpopuler, yakni #TataKehidupanBaru, #DisiplinPolaHidupBaru, dan #PolriDukungNewNormal. 

Secara umum, tagar bernada optimistis menyambut new normal cenderung lebih dominan jika dibandingkan dengan tagar yang kontra terhadap konsep new normal. Narasi kontra penerapan new normal umumnya berkumpul dalam tagar #IndonesiaAbnormal.

Adapun dari sisi emosi, mayoritas warganet menyambut new normal dengan perasaan was-was (anticipation), semisal dengan mengabarkan mulai aktif menggunakan masker, membawa penyanitasi tangan, jaga jarak, dan membawa helm pribadi ketika bepergian menggunakan ojol.

Emosi trust (kepercayaan) muncul melalui beragam cuitan netizen di Twitter yang saling mengajak dan mengingatkan untuk menjaga jarak, dan mematuhi protokol kesehatan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari di tengah new normal

Adapun emosi surprise (kekagetan) umumnya tergambar dari cuitan-cuitan warganet yang merasa heran dengan langkah pemerintah menerapkan new normal saat kurva penularan Covid-19 belum juga landai.

Dari sebaran demografi netizen, tercatat new normal lebih banyak dicuitkan kaum pria (59%) dibandingkan perempuan (41%). Dari segi rentang umur, warganet milenial (18-35 tahun) merupakan kelompok umur yang paling produktif membahas isu new normal, yakni sebanyak 81%.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto menyampaikan keterangan pers di Graha BNPB, Jakarta, Jumat (27/3). Foto Antara/Nova Wahyudi

Sekadar meredakan ketegangan

Pakar komunikasi politik Universitas Mercu Buana Jakarta Afdal Makkuraga Putra menilai kehadiran Reisa menghadirkan dampak psikologis yang cukup positif bagi publik. Reisa, kata dia, bisa meredakan ketegangan saat menyaksikan pengumuman rutin dari pemerintah. 

"Setiap hari kita tonton Pak Yuri yang tegang, yang jarang senyumnya. Covid-19 membuat kita takut dan disampaikan pula dengan wajah yang tegang. Ini membuat masyarakat jadi lebih takut dan waspada. Dokter Reisa datang dengan senyuman sehingga membuat publik jadi lebih rileks," kata Afdal kepada Alinea.id, Senin (16/6).

Namun demikian, Afdal mengatakan pesan publik yang disampaikan Reisa tidak akan berdampak pada pola koordinasi yang selama ini terjadi antara pemerintah pusat dan daerah, termasuk antarkementerian. Pasalnya, Reisa bukan pengambil kebijakan. 

Di sisi lain, publik juga kadung menilai negatif kebijakan-kebijakan pemerintah dalam penanganan Covid-19. "Dia (Reisa) hanya sekadar penyampai pesan, komunikator dalam hal ini. Tapi, level penentu kebijakan kan di atas mereka itu," jelas Afdal. 

Infografik Alinea.id/Hadi Tama

Meskipun pemerintah tengah masif kampanye, pakar kesehatan masyarakat Dono Widiatmoko tidak setuju new normal diterapkan secara terburu-buru. Ia pun menyarankan agar pemerintah menggelar survei seriologi via rapid test untuk mengetahui sebaran virus selama era new normal. 

Dengan rapid test itu, menurut Dono, pemerintah bisa mengetahui seberapa tinggi prevalensi kasus positif Covid-19 di Tanah Air. Dengan begitu, risiko penularan bisa ditekan dan area penanganan Covid-19 bisa lebih difokuskan.

"Dan kita juga bisa mengetahui pertumbuhannya. Jadi, kalau kita bisa melakukan secara serial atau berkala kita bisa mengetahui trennya. Jadi, kita bisa tahu berapa besar tingkat pertumbuhan infeksi atau imunitas masyarakat," jelas dia.

Jika jadi diterapkan, Dono mengatakan, pelonggaran PSBB dan penerapan new normal lebih baik diserahkan kepada pemerintah daerah. "Pemerintah tingkat nasional, menurut saya, layaknya hanya bisa memberikan guidance, petunjuk-petunjuk, dan aturan-aturan," kata dia. 

Berita Lainnya